Marsinah :
Dulu Negara ini banyak kisah pilu yang tragis
Banyak kolonialis yang membantai habis
Rakyat di perlakukan seperti hewan
Di bunuh mengenaskan
Di kubur hidup-hidup secara menyedihkan
Bahkan tidak di beri ampunan
Karto :
Angin mengagumkan bisikan dengan lantang
Sangkakalana menyambar dengan rentetan cahaya
Ancaman bagi mereka yang kokoh berduri
Marsinah :
Rakyat menjerit di dalam doa
Waktu yang memilih siapa selanjutnya
Napak tilas sebuah trgedi
Kekejaman yang berlangsung
Karto :
17 Agustus 1945
Proklamasi kemerdekaan di kumandangkan
Riuh tangis tak terbendungkan
Jatuhnya Jepang dan merdekanya Negara Indonesia
Marsinah :
Merah dan Putih warna sang saka
Bendera dwi warna pusaka bangsa
Sang saka berkibar
Di hembus oleh angin sejuk dan segar
Kemerdekaan negeriku terus di kejar
Tanah airku semakin kuat mengakar
Karto :
Kobar semangat terus membara menyulut asa untuk meneriakan merdeka
Merdeka..
Merdeka..
Merdeka..
Marsinah :
Ingatkah sebelum indonesia merdeka?
Pahlawan mati berkorban demi kesejahteraan bangsa
1945 indonesia merdeka dibawah kepemimpinan sang proklamator
Negeri air mata sekarang merdeka
Karto :
Hari ini tepat indonesia merayakan merdeka
Merdeka tapi makin menderita
Jerit rakyat rakyat kelaparan terbungkam suaranya
Isak tangis meraung tak diperdulikan jua
Derita rakyat teracuhkan bagai telinga yang tersumbat pertanda paripurna
Marsinah :
Perjuangan masih belum usai
Kelaparan masih menyerang rakyat bawah
Nyanyian-nyanyian merdu masih terdengar merintih
Tertikam oleh penguasa yang angkuh
Pedih tangis penuh darah
Karto :
Lantas sampai kapan mulut negeri akan terbungkam?
Sampai kapan hari-hari penuh dengan jeritan
Isi kepala selalu rusuh
Memikirkan ideologi bangsa yang kian lusuh
Barangkali,
Negeri ini lupa tetes hujan dipelipis mata para pekerja siang malam
Tulungagung - Kudus
17 agustus 2024
felis adella & topan arif