Di hari-hari kita menunda bicara,
terlalu banyak pertanyaan di kepala.
Angin dalam hujan telah menghisapku,
menggigil panjang menanti dekapmu.
Bisakah tidak lagi bertanya mengapa bulan jatuh di hadapan kita?
Bisakah terima saja yang terjadi?
Apakah kau bisa memberi ruang?
Ruang sempit untukku pulang?
Apa sengaja kamu biarkan ruang itu hilang?
Aku memilih menyembunyikanmu di diksi-diksi puisi dalam diriku sendiri.
Kamu menjelajahi hari tanpa tahu setiap waktu dirimu ada di ingatanku.
Aku menyimpanmu dalam nikotin,
Aku menyimpanmu dalam kafein,
Aku melihat mereka bertemu dalam kepulan asap yang bertanding adu kuat menunggu kabarmu.
Untuk apa aku diciptakan lengan jika hampa bagimu untuk menggenggam?
Bukankah kamu juga tahu lubang di dadaku selalu pas untuk ukuran dirimu?
Setiap kali kamu sadari puisi-puisi ini ditulis untukmu.
Kamu tahu siapa yang harus kamu cari saat tak punya lagi pintu.
Jatuh hati padamu adalah kesepian.
Ruang sunyi yang sengaja aku simpan sendirian.
Biarlah kata-kata mencatat perasaan, bertumpuk pada rindu yang tak bisa kusampaikan.
Kemana lagi aku akan berlari dengan diri, jikalau tidak pada puisi-puisiku ini.
Aku menulis sajak-sajak dan membiarkan kepalaku penuh denganmu sejak hari itu.
Aku berlari ke dalam puisi dan menemuimu di sana berkali-kali.
Bisakah kamu memaknai segala sesuatu yang kutulis sepanjang kalimat ini?
Topan Arif
Tulungagung, 9 November 2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar