Kita hidup di zaman
ketika harga diri membutuhkan penonton.
Sedikit kulit—
ribuan mata lapar.
Sedikit lekuk—
ribuan jempol bersujud.
Lalu kehampaan
diberi nama percaya diri.
Belahan dada menjadi umpan,
kamera menjadi altar,
dan tatapan laki-laki
menjadi mata uang
yang diam-diam mengukur nilai diri.
Tak perlu pikiran.
Tak perlu kedalaman.
Cukup terlihat.
Sebab manusia modern
lebih takut tidak diinginkan
daripada tidak mengenal dirinya sendiri.
Like menjadi doa.
Komentar menjadi pengakuan.
Algoritma menjadi Tuhan
yang menentukan siapa layak dipuja
dan siapa layak dilupakan.
Betapa ironis—
mengaku memiliki tubuh sendiri,
namun membiarkan mata orang lain
menentukan nilainya.
Hari ini kau dipandang.
Besok mereka menemukan tubuh lain.
Begitulah pasar bekerja:
yang lama ditinggalkan,
yang baru dipuja,
dan yang kehilangan perhatian
mulai mempertanyakan keberadaannya sendiri.
Pada akhirnya,
bukan pakaian yang paling banyak terlepas.
Melainkan identitas.
Dan ketika layar padam,
kerumunan pergi,
algoritma berhenti menyebut namamu—
kau akan berhadapan
dengan satu kenyataan paling kejam:
Jika tak seorang pun menginginkanmu,
apakah kau masih tahu
bagaimana mencintai dirimu sendiri?
Topan Arif
Malang, 26 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar