Barangkali sebelum semesta mengenal namanya sendiri,
telah ada dua kesunyian
yang pernah saling mengenali
di sebuah ruang yang tak tercatat oleh waktu.
Lalu waktu—
dengan tabiatnya yang pongah—
memisahkan keduanya menjadi jarak,
menjadi tubuh,
menjadi musim,
menjadi dua manusia
yang kelak saling menyapa
tanpa tahu bahwa sapaan itu
mungkin hanya gema dari sesuatu
yang telah lama selesai dituliskan
di kitab yang tak terbaca.
Maka jangan tanyakan
mengapa aku merasa mengenalmu
sebelum benar-benar mengenalmu.
Ada hal-hal yang tidak diperkenalkan;
ia hanya diingat.
Seperti jiwa yang tiba-tiba mengenali
sebuah pintu
yang belum pernah ia lewati,
namun entah mengapa
tahu persis ke mana
pintu itu akan membawanya.
Dan kau—
datang bukan sebagai tubuh,
melainkan sebagai suara.
Di antara ribuan bunyi
yang sekadar melewati telinga,
suaramu justru menemukan jalan
menuju ruang paling purba
di dalam diriku.
Ruang yang bahkan namanya
telah lama kulupakan.
Di sana,
barangkali pernah ada sebuah pelita
yang sengaja dipadamkan
agar aku tidak lagi berharap.
Namun suaramu datang
seperti azan dari negeri yang jauh—
tak terlihat sumbernya,
tak tersentuh wujudnya,
namun sanggup membuat
sesuatu di dalam dada
menundukkan kesombongannya.
Aku tidak tahu
apakah ini cinta.
Sebab cinta adalah kata
yang terlalu sempit
untuk menampung sesuatu
yang bahkan belum mampu
kuberikan nama.
Mungkin ia hanya rasa
yang sedang menyamar sebagai takdir.
Atau mungkin takdir
yang sedang berpura-pura
menjadi kebetulan.
Kita meminta kepastian
kepada sesuatu yang sejak awal
diciptakan untuk menjadi rahasia.
Kita menghitung umur perjumpaan
seolah kedalaman perasaan
tunduk pada aritmetika waktu.
Seolah jagung tidak pernah tumbuh
dari sesuatu yang kecil.
Seolah akar
harus meminta izin kepada kalender
sebelum berani menembus tanah.
Seolah laut
pernah peduli
berapa lama hujan harus jatuh
sebelum dirinya menjadi samudra.
Maka biarlah mereka
mengukur kita dengan hari.
Aku lebih percaya kepada kedalaman
daripada penanggalan.
Sebab ada satu detik
yang mampu membekas lebih lama
daripada bertahun-tahun kebersamaan.
Ada satu suara
yang mampu menjadi rumah
lebih daripada seribu pelukan.
Dan ada seseorang
yang bahkan belum sempat kugenggam,
namun kehadirannya
telah membuatku berhenti
mencari tempat untuk beristirahat.
Barangkali itulah yang paling menakutkan darimu:
kau tidak datang dengan janji,
tetapi membawa ketenangan.
Tidak membawa kepastian,
tetapi membuatku ingin percaya.
Tidak menawarkan keabadian,
namun membuat sesaat
terasa seperti sesuatu
yang enggan berakhir.
Jika kelak kau bertanya
mengapa aku bisa sedalam ini
kepada sesuatu yang baru tumbuh,
aku mungkin tak akan menjawab.
Sebab bagaimana menjelaskan laut
kepada seseorang
yang hanya melihat permukaannya?
Bagaimana menjelaskan akar
kepada seseorang
yang hanya menghitung tinggi pohon?
Dan bagaimana menjelaskan
bahwa aku tidak sedang jatuh cinta
kepada suaramu—
melainkan kepada ketenangan
yang menjelma di dalam diriku
setiap kali suara itu datang?
Kau mungkin mengira
kita baru memulai sebuah kisah.
Aku justru kadang merasa
kita sedang melanjutkan sesuatu
yang entah kapan pernah dimulai.
Mungkin di suatu tempat
sebelum nama-nama diberi nama,
sebelum jarak mengenal dirinya sebagai jarak,
sebelum manusia belajar
menyebut kehilangan sebagai kehilangan,
dua kemungkinan pernah bersisian.
Lalu semesta memisahkannya.
Dan kini,
setelah entah berapa musim,
ia mempertemukan kembali
kedua serpihan itu
dalam bentuk yang jauh lebih sederhana:
sebuah percakapan,
sebuah tawa,
sebuah suara di ujung malam.
Betapa agungnya ironi.
Sesuatu yang mungkin berasal
dari ruang paling niskala
justru memilih hadir
dalam bentuk yang paling sederhana.
Bukan pelukan.
Bukan ciuman.
Bukan tatapan mata.
Hanya suara.
Namun dari suara itulah
aku menemukan sesuatu
yang selama ini tak kutemukan
bahkan ketika dunia memberiku
begitu banyak manusia:
teduh.
Maka jika ini hanya sementara,
jangan buru-buru menyebutnya sia-sia.
Sebab tidak semua yang fana
adalah tidak berarti.
Bintang pun fana,
namun cahayanya
masih menempuh ribuan tahun
untuk sampai kepada mata
yang bahkan belum lahir
ketika ia mati.
Begitulah mungkin rasa ini.
Ia belum tentu abadi.
Namun kedalamannya
tidak menjadi kurang hanya karena
ia memiliki kemungkinan untuk berakhir.
Dan jika suatu hari
takdir memilih jalan lain,
aku ingin tetap mengingatmu
bukan sebagai seseorang
yang pernah kumiliki,
melainkan sebagai seseorang
yang pernah membuatku mengerti:
bahwa rumah
tidak selalu berupa alamat,
bahwa dekat
tidak selalu membutuhkan tubuh,
bahwa perjumpaan
tidak selalu membutuhkan tatapan,
dan bahwa cinta—
jika memang ini cinta—
barangkali tidak selalu datang
dengan langkah kaki.
Kadang ia datang
sebagai suara
yang menyeberangi kegelapan,
lalu mengetuk pelan
pada pintu jiwa
yang bahkan telah lupa
bagaimana rasanya
menunggu seseorang.
Dan yang paling ganjil—
pintu itu terbuka
seolah-olah ia memang
sudah lama menunggu
namamu.
Topan Arif
Malang, 22 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar