▼

Sabtu, 12 September 2026

DI SUARA TANGISMU

Malam ini aku menulis
sementara suaramu retak di kejauhan—
dan setiap isak yang jatuh
seperti serpihan kaca
yang pelan-pelan mengajari dadaku
bagaimana rasanya berdarah tanpa luka.

Aku ingin memelukmu,
tetapi jarak telah menjadikan kedua tanganku
sepasang doa yang kehilangan alamat.

Maka menangislah.
Biarkan malam menjadi saksi
bahwa pernah ada hati
yang begitu lelah menanggung dunia
hingga air mata pun tak lagi
menemukan jalan untuk pulang.

Aku mendengarkanmu dalam diam,
sementara di dalam diriku
sebuah langit runtuh tanpa suara.

Betapa menyedihkannya cinta:
ketika orang yang ingin kita selamatkan
justru sedang karam
di laut yang tak mampu kita seberangi.

Dan aku—
hanya bisa berdiri di tepian,
memanggil namamu
dengan suara yang bahkan
tak sanggup menyelamatkan diriku sendiri.

Jika hidup kembali menutup pintunya,
jika takdir menguburkan
segala yang pernah kita sebut masa depan,
aku tak ingin menjanjikan kebahagiaan.

Aku hanya ingin tinggal
sedikit lebih lama
di antara reruntuhan ini.

Sebab ada sesuatu
yang pernah kita mulai
dengan seluruh doa,
seluruh keberanian,
dan bagian-bagian diri
yang tak mungkin dikembalikan.

Barangkali nanti kita gagal.
Barangkali yang tersisa
hanya nama kita di ingatan—
seperti nisan tanpa makam,
seperti surat terakhir
yang tak pernah sempat dibaca.

Tetapi malam ini,
ketika kudengar kau menangis,
aku mengerti satu hal:

kesedihan paling dalam
bukan ketika seseorang pergi,
melainkan ketika ia masih ada—
namun kita tak lagi memiliki tangan
untuk menahannya tetap utuh.

Dan mungkin itulah sebabnya
aku ikut hancur dalam diam:

sebab air matamu
telah menemukan jalan
menuju tempat paling dalam
di tubuhku—

tempat di mana namamu
belum pernah berhasil
aku kuburkan.



Topan Arif
Malang, 13 September 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar