▼

Minggu, 13 September 2026

KARTOGRAFI ARKANA

Aku hafal tubuhmu
seperti rahib menghafal kitab terlarang—
setiap lekuk adalah aksara,
setiap pori menyimpan silabel,
setiap lekang di antara tulang
menyembunyikan sebuah rahasia.

Lehermu—lorong tempat senja tersesat.
Bahu—buntu yang selalu kupilih.
Pinggangmu—persimpangan purba
tempat nalarku meletakkan mahkota.

Aku mengenal geografi napasmu:
pasang-surut yang mengkhianati tenang,
detak yang mendadak menjadi mantra,
kulit yang menjelma prasasti
ketika disentuh sunyi.

Namun di hadapan matamu,
seluruh pengetahuanku menjadi debu.

Sekali kau menatap,
kompas kehilangan utara,
peta kehilangan nama,
dan aku—
seorang musafir yang konon mengenal jalan—
kembali menjadi pengembara
di kerajaanmu yang tak bernama.

Barangkali kau memang sengaja
mengacaukan seluruh kartografiku,
agar aku tak pernah selesai membaca
tubuh yang telah kuhafal.

Sebab cinta rupanya bukan ihwal menemukan jalan,
melainkan kesediaan menjadi sesat
di labirin yang sama—
berulang kali,
tanpa kutukan,
tanpa penyesalan.

Dan jika kelak dunia bertanya
di mana rumahku,

aku tak akan menunjuk alamat.

Sebab rumah bagiku bukan ruang untuk berdiam;
melainkan satu nama
yang membuatku rela kehilangan arah
seumur hidup.



Topan Arif
Malang, 13 September 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar