Kamu adalah sosok yang meng-ajap setiap kata menjadi puisi
Kurangkai kata demi kata menjadi sebuah karya
Indah, bagai senyummu yang mempesona
Walaupun ku tahu kemilau diksiku ini tak mampu menerobos dinding hatimu yang niskala
Untukmu, wahai pemilik bola mata askara
Untukmu, wahai peredam lara
Entah benar atau tidak caraku mencinta
Cara mencintaimu kali ini benar-benar ku suka
Kau hanya tak perlu tau seperti apa gambaranmu diatas bait puisiku
Tapi satu yang harus kau tau, aku tulus menyimpanmu di lubuk locitaku
Aku menyimpanmu jauh di dalam lubuk hatiku
Aku menyimpanmu disetiap lembar bukuku
Aku menyimpanmu diatas kertas putih yang ternoda itu
Aku menyimpanmu jauh dalam anganku
Aku menyimpanmu di setiap bait puisiku
Aku menyimpanmu dalam indah rangkaian diksiku
Aku menyimpanmu diantara majas yang terngiang dipikiranku
Aku menyimpanmu disetiap kepulan asap rokokku
Aku menyimpanmu disetiap detik nafasku meskipun kau tak perlu tau
Entah seperti apa kamu di dalam samastaku
Pernah terpikir ingin duduk berdua denganmu
Membahas semua perihal singkat antara aku dan kamu
Hanya ditemani sepasang bola mata askara yang enggan diselimuti pilu
Waktu menyaksikan asmara sedang berkembang
Mengintrogasi cinta dalam setiap hela nafas yang berpacu dengan jantung yang berdegup kencang
Topan Arf
Tulungagung, 31 Oktober 2024
Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
▼
Kamis, 31 Oktober 2024
Hujan Awal November
Semilir angin malam ini hanyutkan aku pada rindu
Tatkala dulu saat cahaya rembulan sunyikan malam
Mengeja huruf menguntai kata diatas kertas yang tergores pena
Berteman diksi semu sunyi
Seorang wanita membawa hanyutku dalam asmaralara
Aku bertanya
Apa keriput di wajahmu adalah aku?
Apa cekung di manis senyum bibirmu adalah aku?
Banyak pertanyaan yang sebenarnya tak terungkapkan
Sembunyi dalam pikiran
Seiring terbenam swastamita
Jadi bara di dada
Dalam panjang perjalanan kisahmu
Sisihkan sedikit ruang untukku
Biarkan kenangan tumbuh
Tersiram air mata dari luka utuh
Aku daging, kamu tulang
Jauh kemanapun pergimu biar aku tempatmu pulang
Meski kadang terbentur sedih yang semu
Percayalah aku tetap mencintaimu
Kamu kertas aku pena
Hanya doa untuk kita bisa menua bersama
Aku pemabuk senyummu dalam pelukan waktu yang tak terasa
Benar ini tentang kita yang berusaha merajut rasa diiringi gelak tawa
Di pelukanmu dunia terasa sempurna
Di sampingmu aku merasa sangat bahagia
Kita menari diatas awan putih bersama
Cinta terakhir selalu mengalir dalam rindu dan raΓ±jana
Topan Arif
Tulungagung, 30 Oktober 2024
Jadi bara di dada
Dalam panjang perjalanan kisahmu
Sisihkan sedikit ruang untukku
Biarkan kenangan tumbuh
Tersiram air mata dari luka utuh
Aku daging, kamu tulang
Jauh kemanapun pergimu biar aku tempatmu pulang
Meski kadang terbentur sedih yang semu
Percayalah aku tetap mencintaimu
Kamu kertas aku pena
Hanya doa untuk kita bisa menua bersama
Aku pemabuk senyummu dalam pelukan waktu yang tak terasa
Benar ini tentang kita yang berusaha merajut rasa diiringi gelak tawa
Di pelukanmu dunia terasa sempurna
Di sampingmu aku merasa sangat bahagia
Kita menari diatas awan putih bersama
Cinta terakhir selalu mengalir dalam rindu dan raΓ±jana
Topan Arif
Tulungagung, 30 Oktober 2024