Semilir angin malam ini hanyutkan aku pada rindu
Tatkala dulu saat cahaya rembulan sunyikan malam
Mengeja huruf menguntai kata diatas kertas yang tergores pena
Berteman diksi semu sunyi
Seorang wanita membawa hanyutku dalam asmaralara
Aku bertanya
Apa keriput di wajahmu adalah aku?
Apa cekung di manis senyum bibirmu adalah aku?
Banyak pertanyaan yang sebenarnya tak terungkapkan
Sembunyi dalam pikiran
Seiring terbenam swastamita
Jadi bara di dada
Dalam panjang perjalanan kisahmu
Sisihkan sedikit ruang untukku
Biarkan kenangan tumbuh
Tersiram air mata dari luka utuh
Aku daging, kamu tulang
Jauh kemanapun pergimu biar aku tempatmu pulang
Meski kadang terbentur sedih yang semu
Percayalah aku tetap mencintaimu
Kamu kertas aku pena
Hanya doa untuk kita bisa menua bersama
Aku pemabuk senyummu dalam pelukan waktu yang tak terasa
Benar ini tentang kita yang berusaha merajut rasa diiringi gelak tawa
Di pelukanmu dunia terasa sempurna
Di sampingmu aku merasa sangat bahagia
Kita menari diatas awan putih bersama
Cinta terakhir selalu mengalir dalam rindu dan raΓ±jana
Topan Arif
Tulungagung, 30 Oktober 2024
Jadi bara di dada
Dalam panjang perjalanan kisahmu
Sisihkan sedikit ruang untukku
Biarkan kenangan tumbuh
Tersiram air mata dari luka utuh
Aku daging, kamu tulang
Jauh kemanapun pergimu biar aku tempatmu pulang
Meski kadang terbentur sedih yang semu
Percayalah aku tetap mencintaimu
Kamu kertas aku pena
Hanya doa untuk kita bisa menua bersama
Aku pemabuk senyummu dalam pelukan waktu yang tak terasa
Benar ini tentang kita yang berusaha merajut rasa diiringi gelak tawa
Di pelukanmu dunia terasa sempurna
Di sampingmu aku merasa sangat bahagia
Kita menari diatas awan putih bersama
Cinta terakhir selalu mengalir dalam rindu dan raΓ±jana
Topan Arif
Tulungagung, 30 Oktober 2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar