▼

Senin, 25 November 2024

Persepsi Bulan

Dalam hening malam yang menyapa sandarku pada sudut kamar
Aku tatapi langit yang cahaya bintangnya kerlap-kerlip dari balik jendela
Gegau aku tatkala rindu itu runtuh diterpa badai
Hati pilu penuh suram seperti awan yang muncul menutupi bintang

Delusi perlahan berlalu tersapu angin malam
Aku risau jejakmu akan terhapus perlahan oleh rintik hujan
Persepsi dari mimpi seakan pecah seperti debu yang menghambur waktu
Aku hampa dalam diam menyaksisan kita sudah beda arah tujuan
Waktu semakin memburuku merenggut cinta yang menyisakan sedikit luka dihatiku

Risauku terus terangkai dalam acalapati aksara pena
Samar sengap datang kala mentari menyapa asmaraloka
Harsa bahkan tidak peduli lagi dengan cahaya
Kampa sang wijaya kusuma sayup menyusup relung jiwa

Aku pertegas!
Sinarmu bukan milikmu, itu hanya pantulan
Binarmu bukan milikmu, itu hanya pancaran
Senyum itu bukan milikmu, itu hanya bayang-bayang
Sebab bulan bukanlah bintang yang selalu punya cahaya
Sebab bulan bukan juga surya yang selalu terang sinarnya
Bulan hanya teman bagi bumi untuk sehidup semati
Bulan hanya teman bagi bumi untuk tidak sendiri
Tapi bulan, dia tanda cinta abadi yang tak akan berhenti


Topan Arif
Tulungagung, 25 November 2024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar