Aku tidak sedang meminta
sebuah kepercayaan
yang turun dari langit
tanpa sebab.
Tidak.
Aku hanya meminta satu hal sederhana:
beri aku kesempatan
untuk menjadi bukti
dari niatku sendiri.
Sebab aku tahu,
kau punya tembok.
Aku tahu ada luka
yang membuatmu belajar
bahwa tidak semua tangan
yang datang untuk menggenggam
benar-benar berniat menjaga.
Aku tahu.
Dan aku tidak pernah datang
untuk merobohkannya.
Aku hanya berdiri di depannya,
mengetuk perlahan,
lalu berkata:
"Aku di sini."
Sesederhana itu.
Tapi rupanya cinta hari ini
memang punya prosedur yang panjang.
Harus ada penjelasan.
Harus ada kepastian.
Harus ada bukti.
Harus ada saksi.
Harus ada jaminan.
Seolah-olah aku sedang melamar
sebuah negara,
bukan mencintai seorang manusia.
Lucu.
Kau ingin aku meyakinkanmu
bahwa aku berbeda,
tetapi setiap kali aku mendekat,
kau sudah lebih dulu menyiapkan
alasan mengapa aku pasti sama
dengan mereka.
Lalu bagaimana aku harus menang?
Bila aku diam,
kau bilang aku menyembunyikan sesuatu.
Bila aku menjelaskan,
kau bilang aku sedang membela diri.
Bila aku mendekat,
kau takut aku akan melukaimu.
Bila aku mundur,
kau bertanya
mengapa aku berubah.
Lalu sebenarnya
kau ingin aku menjadi apa?
Seorang kekasih?
Atau terdakwa
yang kebetulan memakai
nama orang yang kau cintai?
---
Aku tidak marah.
Setidaknya,
aku mencoba untuk tidak marah.
Karena aku tahu,
kadang seseorang menjadi dingin
bukan karena sudah tidak peduli,
melainkan karena
terlalu lama peduli
tanpa tahu harus berbuat apa.
Dan mungkin itulah aku
beberapa waktu terakhir.
Lelah.
Bukan lelah mencintaimu.
Aku lelah menjelaskan
bahwa diamku bukan pengkhianatan.
Aku lelah menjelaskan
bahwa sibuk bukan berarti berpaling.
Aku lelah menjelaskan
bahwa ketika kepalaku penuh
oleh pekerjaan dan hidup,
aku tidak sedang mencari
perempuan lain.
Aku hanya sedang berusaha
tidak kehilangan diriku sendiri.
Tapi tentu saja—
dalam dunia yang penuh prasangka,
keheningan selalu terdengar
lebih mencurigakan
daripada kebohongan.
---
Lalu datanglah malam itu.
Satu nama.
Satu panggilan.
Satu percakapan kecil.
Dan tiba-tiba
aku menjadi lelaki
yang harus menjelaskan
sesuatu yang bahkan
tidak pernah kulakukan.
Aku diam.
Bukan karena bersalah.
Aku diam
karena aku tidak tahu
bagaimana cara membuktikan
bahwa tidak ada apa-apa
di tempat yang bahkan
tidak pernah kuisi apa-apa.
Dan anehnya—
semakin aku diam,
semakin banyak cerita
yang tumbuh di kepalamu.
Betapa luar biasanya pikiran manusia.
Ia mampu membangun perselingkuhan
dari sebuah sapaan.
Mampu menciptakan pengkhianatan
dari sebuah kemungkinan.
Mampu membuat seseorang
terlihat bersalah
hanya karena ia tidak cukup pandai
membela dirinya sendiri.
Sungguh, cinta kadang
lebih kejam daripada pengadilan.
Di pengadilan,
setidaknya seseorang
dianggap tidak bersalah
sampai terbukti bersalah.
Dalam cinta,
kadang kita dianggap bersalah
hanya karena pernah ada
orang lain yang berbuat jahat.
---
Dan di titik itu,
aku mulai marah.
Bukan kepadamu.
Pada keadaan.
Pada masa lalu
yang bahkan bukan milikku.
Pada luka-luka
yang diwariskan kepadaku
tanpa pernah kukenal
siapa pelakunya.
Aku ingin berteriak:
AKU BUKAN DIA.
Aku tidak pernah memintamu
melupakan masa lalu.
Aku hanya ingin
jangan gunakan masa lalu
untuk menulis masa depanku.
Aku tidak ingin membayar
utang yang tidak pernah kubuat.
Aku tidak ingin dihukum
atas dosa yang tidak pernah kulakukan.
Dan paling menyakitkan—
aku tidak ingin
orang yang kucintai
menatapku seperti ancaman
ketika seluruh niatku
hanya ingin menjadi rumah.
---
Tapi setelah marah,
aku diam lagi.
Karena ada satu hal
yang akhirnya kupahami:
barangkali kau juga sedang takut.
Takut berharap.
Takut percaya.
Takut kembali memberikan seluruh hati
lalu mendapati bahwa sekali lagi
hati itu dikembalikan
dalam keadaan tidak utuh.
Maka aku tidak akan mencaci
ketakutanmu.
Aku hanya berharap
kau tidak menjadikannya
senjata untuk melukaiku.
Sebab ada perbedaan
antara menjaga diri
dan menghukum orang lain
karena pernah terluka.
Ada perbedaan
antara berhati-hati
dan menolak seseorang
sebelum mengenalnya.
Ada perbedaan
antara membutuhkan kepastian
dan menuntut pembuktian
setiap detik.
Dan ada satu hal
yang paling sering kita lupakan:
cinta tidak tumbuh
dari interogasi.
Ia tumbuh
dari waktu.
Dari kebiasaan kecil
yang diulang.
Dari seseorang yang tetap sama
ketika tidak sedang diawasi.
Dari seseorang yang tetap tinggal
ketika tidak sedang dipuji.
Dari seseorang
yang tidak perlu bersumpah
setiap hari
karena perilakunya
sudah lebih dahulu berbicara.
---
Jadi jangan percaya aku sekarang.
Serius.
Tidak perlu.
Aku tidak akan memaksa.
Simpan keraguanmu
kalau itu membuatmu merasa aman.
Simpan jarakmu
kalau itu yang membuatmu bisa bernapas.
Aku tidak akan mendobrak pintumu.
Aku tidak akan memaksa
kau membuka hati
hanya karena aku datang
dengan niat baik.
Sebab niat memang premis.
Tetapi—
konsistensi adalah kesimpulan.
Dan aku rela
membiarkan waktu
menulis kesimpulannya.
Bukan mulutku.
Bukan janjiku.
Bukan air mataku.
Bukan kata-kata manis
yang bisa dibuat siapa saja
ketika sedang takut kehilangan.
Biarkan waktu.
Biarkan ia menjadi hakim
yang tidak bisa disuap
oleh romantisme.
---
Namun jangan salah.
Aku juga manusia.
Aku bisa lelah.
Aku bisa kecewa.
Aku bisa terluka
meskipun wajahku tetap tenang.
Dan suatu hari nanti
mungkin aku berhenti mengetuk.
Bukan karena aku menemukan pintu lain.
Bukan karena ada seseorang
yang lebih menarik.
Bukan karena cintaku tiba-tiba mati.
Tetapi karena aku akhirnya mengerti:
tidak semua pintu
harus dibuka dengan cara dipaksa.
Ada pintu yang cukup
kita tunggu.
Dan ada pintu
yang pada akhirnya harus kita tinggalkan.
Bukan karena kita tidak mencintai
ruangan di baliknya,
melainkan karena
kita tidak bisa selamanya
berdiri di depan pintu
sambil mempertanyakan
apakah kita pantas masuk.
---
Maka jika suatu malam
kau tiba-tiba merasa
hidupmu sedikit lebih sunyi,
jangan buru-buru mencariku.
Mungkin sunyi itu
adalah bentuk kepergianku
yang paling sopan.
Aku tidak akan membuat keributan.
Tidak akan mengutuk.
Tidak akan berkata
"lihat, aku sudah bilang."
Aku hanya akan pergi
dengan membawa satu hal:
keyakinan bahwa aku pernah mencintaimu
dengan cara yang paling mampu kulakukan.
Meski tidak sempurna.
Meski kadang diam.
Meski pernah salah.
Meski pernah lelah.
Meski pernah ingin menyerah.
Tetapi tidak pernah
dengan niat mengkhianati.
Dan jika suatu hari
waktu akhirnya membuktikan
bahwa aku memang tulus,
aku tidak akan datang
untuk berkata,
"Aku benar."
Sebab cinta yang benar
tidak membutuhkan kemenangan.
Ia hanya membutuhkan
dua orang yang akhirnya sadar
bahwa mereka pernah hampir kehilangan
sesuatu yang sebenarnya
tidak sedang mereka lawan.
---
Jadi malam ini,
tidurlah.
Aku juga akan mencoba tidur.
Kau dengan segala ketakutanmu.
Aku dengan segala lelahku.
Kita biarkan malam
mengubur percakapan ini
untuk sementara.
Besok,
jika masih ada yang ingin dibicarakan,
kita bicarakan.
Jika masih ada yang ingin diperbaiki,
kita perbaiki.
Jika masih ada yang ingin diperjuangkan,
kita perjuangkan.
Tetapi jika ternyata
yang tersisa hanya saling curiga,
maka mungkin kita harus cukup dewasa
untuk mengakui:
cinta saja tidak selalu cukup
untuk membuat dua manusia
berhenti saling melukai.
Dan jika akhirnya aku harus pergi,
aku tidak akan mengatakan
bahwa kau adalah perempuan jahat.
Tidak.
Aku akan mengatakan:
kau adalah seseorang
yang pernah sangat takut kehilangan,
hingga tanpa sadar
kau hampir kehilangan
orang yang tidak pernah berniat pergi.
Dan aku?
Aku adalah lelaki
yang pernah begitu ingin tinggal,
hingga akhirnya belajar
bahwa tinggal pun
harus memiliki batas.
Sebab mencintaimu
tidak pernah menjadi masalah.
Yang menjadi masalah
adalah ketika aku harus terus-menerus
membuktikan bahwa aku pantas dicintai.
Aku tidak meminta kau percaya kepadaku.
Aku hanya meminta:
jangan hukum aku
atas luka yang bukan kubuat.
Jangan jadikan aku terdakwa
sebelum aku bersalah.
Dan jangan memintaku
menjadi obat
untuk luka yang bahkan
tidak pernah kubuka.
Karena bila kelak
aku benar-benar pergi,
aku ingin kau tahu—
aku bukan pergi
karena tidak mencintaimu.
Aku pergi
karena akhirnya aku mencintai diriku sendiri
cukup untuk mengerti:
bahwa cinta yang sehat
seharusnya menjadi tempat pulang,
bukan ruang sidang
yang tidak pernah selesai.
Topan Arif
Malang, 24 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar