▼

Minggu, 23 Agustus 2026

Tidak Semua Laut Ingin Ditemukan


Ia adalah laut
yang pernah karam
di dalam dirinya sendiri.

Pernah suatu hari
ia mempercayakan seluruh pantainya
kepada sebuah kapal—
lalu kapal itu berlayar
meninggalkan bangkai
di dasar dadanya.

Sejak saat itu
ia tidak lagi percaya pada pelabuhan.

Ia menjadi laut
yang menyimpan badai
di balik permukaan tenang.

Kapal-kapal datang
membawa cahaya,
membawa jangkar,
membawa tangan-tangan
yang ingin menyelamatkannya.

Tetapi ia menenggelamkan semuanya.

Bukan karena ia kejam.

Ia hanya terlalu hafal
bagaimana rasanya
ditinggalkan setelah diselamatkan.

Maka setiap layar putih
yang mendekati cakrawalanya
dibacanya sebagai ancaman.

Setiap tangan
yang mengulurkan pertolongan
dicurigainya menyimpan pisau.

Setiap janji
yang terdengar seperti rumah
membuatnya mengingat
reruntuhan.

Ironis—

ia menginginkan seseorang
yang berani mengarungi dirinya,

tetapi ketika seseorang datang,
ia mengirim badai
untuk menguji
seberapa jauh ia sanggup bertahan.

Dan ketika kapal itu pecah,
ia berkata:

“Lihat?
Aku sudah tahu
semua akan pergi.”

Padahal ia lupa—

kapal itu tidak selalu pergi.

Kadang,

dialah yang membuatnya karam.

Ia terlalu lama hidup
dengan kewaspadaan
hingga mengira ketakutan
adalah intuisi.

Terlalu lama memeluk luka
hingga mengira luka
adalah identitas.

Terlalu sering disakiti
hingga setiap kelembutan
terasa seperti tipu daya
yang sedang menyamar.

Maka laut itu semakin dalam.

Semakin gelap.

Semakin sulit disentuh.

Dan di dasarnya,
jauh di bawah riuh ombak,
masih tinggal seorang perempuan
yang sebenarnya ingin ditemukan.

Ia masih ingin ada seseorang
yang berkata:

"Aku tidak datang
untuk menaklukkanmu."

"Aku hanya ingin berlayar
tanpa merusak pantaimu."

Tetapi perempuan itu
terlalu takut
untuk mempercayai suara tersebut.

Maka ia kembali mengangkat badai.

Kembali menghitamkan langit.

Kembali menenggelamkan
kapal yang datang
membawa cahaya.

Sampai suatu hari
laut itu benar-benar sunyi.

Tidak ada kapal.

Tidak ada layar.

Tidak ada tangan
yang mengetuk cakrawala.

Hanya ombak
yang pulang kepada dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya
ia mengerti sesuatu
yang paling menyakitkan:

bukan semua kapal
datang untuk menjarah pantainya.

Ada yang datang
hanya untuk berlabuh.

Ada yang datang
dengan jangkar kesetiaan.

Ada yang datang
tanpa niat menaklukkan.

Namun ia telah begitu sibuk
melindungi dirinya dari karam,

hingga tidak sadar—

ia sedang menenggelamkan
orang-orang yang datang
untuk menyelamatkannya.

Dan kelak,
jika sebuah kapal kembali muncul
di cakrawala,

mungkin ia tidak perlu
menghentikan badai sepenuhnya.

Cukup jangan lagi
menganggap setiap layar
sebagai musuh.

Sebab cinta bukan tentang
menemukan kapal
yang tidak pernah karam.

Cinta adalah menemukan seseorang
yang tahu lautmu berbahaya,

namun tetap memilih berlayar—

bukan karena ia bodoh,

melainkan karena
untuk pertama kalinya
ia melihat sesuatu
di balik badaimu:

seorang perempuan
yang sebenarnya tidak ingin diselamatkan.

Ia hanya ingin diyakinkan
bahwa kali ini,

ketika ia akhirnya berani
menepi,

kapal itu
tidak akan meninggalkannya
sendirian di pantai.



Topan Arif
Malang, 24 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar