▼

Rabu, 16 September 2026

PASAR MARWAH

Pernah kujadikan namamu
barang paling mahal di gudang hati—
tak kupajang di etalase,
tak kubiarkan disentuh tangan sembarang.

Hasrat datang membawa modal,
namun kutolak setiap tawaran;
sebab kupikir kehormatan
bukan komoditas yang pantas diperjualbelikan.


Aku menjaga toko,
mengunci pintu,
menolak pembeli,
menjaga harga
seolah yang kusimpan adalah pusaka.

Ternyata kau hanya menunggu
pedagang berikutnya.

Kini etalase terbuka,
papan harga diganti,
dan barang yang dahulu kusebut sakral
telah berpindah tangan
dengan senyum yang begitu murah.

Aku mengerti:
marwahmu bukan barang langka,
hanya dagangan biasa
yang pandai menaikkan harga
dengan label “harga diri”.


Aku menertawakan diriku—
pernah mengira sedang menjaga berlian,
padahal aku cuma karyawan
yang terlalu setia
pada toko yang akan bangkrut.

Tak perlu kuitansi.
Tak perlu pengembalian barang.
Transaksi itu milikmu.


Tokoku sudah tutup.
Bukan karena kehabisan modal,
melainkan karena aku akhirnya sadar:

yang paling mahal bukan barangmu—
melainkan harga yang pernah kubayar
untuk percaya bahwa kau tak ternilai.



— Topan Arif
Surabaya, 16 September 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar