▼

Rabu, 16 September 2026

SAJAK DELAPAN BULAN

Kau bertanya tentang kadar rasa—
seolah cinta dapat ditimbang neraca,
seolah rindu mengenal angka dan jeda,
seolah kehilangan tahu kapan binasa.

Aku tak menjawab; biarlah sunyi bicara,
sebab cintaku bukan angka yang mudah sirna;
ia bara yang terkubur di dasar dada,
ia namamu yang tetap berdenyut di antara luka.

Kau meminta foto, kukirim wajah kita—
dua manusia yang pernah percaya pada cahaya,
bahwa waktu dapat dibekukan oleh kamera,
padahal yang beku hanya gambar, bukan rasa.

Delapan bulan—
bagi kalender, sekadar lembar yang gugur ke tanah;
bagiku, delapan musim yang belum menemukan reda,
terlalu singkat untuk disebut sejarah,
terlalu dalam untuk dikubur sebagai kisah.

Dua kata yang jatuh tanpa suara,
namun menggema seperti tanah terakhir di pusara;
menimbun sesuatu yang belum sempat tiada,
mengubur kita—tanpa pernah benar-benar selesai mencinta.

Sejak itu aku mengerti makna kehilangan:
bukan ketika seseorang pergi meninggalkan,
melainkan ketika cinta masih meminta bertahan,
sementara takdir telah mencabut hak untuk memiliki seseorang.

Kau mungkin telah menutup pintu dan berlalu,
sedang aku masih menggenggam kunci yang beku;
kau mungkin telah menemukan jalan menuju waktu,
sedang namamu masih menjadi alamat bagi rinduku.

Jika kelak kau bertanya lagi tentang kadarnya,
aku tak akan menjawab dengan angka.

Sebab delapan bulan telah mengajariku satu perkara:
ada cinta yang tak pernah benar-benar sirna—
ia hanya kehilangan tempat untuk menjelma,
kehilangan pintu,
kehilangan rumah,
kehilangan seseorang untuk dipanggil pulang.

Dan yang paling getir dari semuanya:
aku masih mencintaimu dengan seluruh yang tersisa,
sementara bagimu,
mungkin aku hanya seseorang
yang pernah ada.


— Topan Arif
Malang, 16 September 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar