Kita seperti waktu yang menegur siang dan malam
Aku dan kamu seperti romantisme senja yang temaram
Aku dan kamu adalah persepsi dari cinta yang ditafsirkan semesta
Kita adalah hujan badai yang pada akhirnya menjadi pelangi yang memancarkan askara karunanya
Kita bertemu saat hujan sedang bersenggama dengan dingin pekat malam
Ketika cerah mulai menghampiri, bunga cinta merekah, harumnya menusuk sampai ke lubuk hati yang paling dalam
Engkau, yang terlintas di pagi ku
Yang membekas di dinding hati
Yang begitu dekat dengan kerinduan ini
Dengarlah aku wahai wanitaku
Pemilik hatiku
Begitu bertalu rinduku padamu
Begitu layu kembang hatiku menanti senyummu
Temui aku dengan tutur lembutmu
Sirami aku dengan beningnya senyum tawamu
Engkau adalah nyawa, menghidupkan hati yang pernah mati
Engkau adalah udara, yang kuhirup sepanjang hari
Engkau adalah bait dalam aksara
Engkau ejaan hidup yang selalu aku baca
Tanpa tuturmu aku hancur
Tanpa sapamu aku terkubur
Tanpa senyummu aku layu
Tanpa kasihmu aku kematian
Genggam aku
Bersamamu ingin kuhitungi jutaan pasir di muka bumi
Menempuh singgasana peraduan
Melewati badai-badai prahara
Menjadi paksi di nirwana
Menjadi sayap di angkasa
Kita mengudara, kita mendulang cerita
Hingga senja mengubur kita
Surabaya, 2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar