Kemarin,
sebuah nama masih digantungkan
pada lengkung langit—
seperti doa yang percaya
bahwa manusia dapat berubah
hanya karena dicintai
dengan kesabaran yang tak bertepi.
Harapan tumbuh
di tanah yang retak,
menjadi bunga-bunga yang tak sempat mekar;
sebab waktu rupanya lebih pandai
memelihara kehilangan
daripada mengajarkan seseorang
cara tinggal.
Ada hati yang menunggu
di ambang musim,
sementara yang ditunggu
tak pernah belajar menjadi teduh.
Hari-hari pun berjalan
dengan kaki yang semakin berat,
mengangkut serpihan perasaan
yang tak pernah sempat diberi nama.
Lalu doa berganti arah.
Bukan lagi tentang seseorang
yang diharapkan berubah,
melainkan tentang hati
yang harus diselamatkan
dari harapan yang terlalu tinggi.
Sebab tidak semua manusia
ditakdirkan menjadi rumah.
Sebagian hanya menjadi persinggahan—
meninggalkan jejak kaki
di halaman batin,
lalu pergi sebelum senja
sempat selesai menyalakan warna.
Dan betapa getirnya takdir:
yang dahulu dimohon
agar menetap,
kelak harus dilupakan
agar hidup dapat berlanjut.
Nama itu akhirnya
menjadi nisan kecil
di pemakaman ingatan;
tidak benar-benar mati,
hanya berhenti dipanggil.
Di sana,
cinta yang pernah begitu riuh
perlahan menjadi debu,
rindu kehilangan suaranya,
dan sebuah hati belajar
bahwa kehilangan tidak selalu berarti
seseorang telah pergi.
Kadang,
yang pergi adalah harapan
tentang siapa seharusnya ia menjadi.
Maka Tuhan tidak mengubahnya.
Tuhan hanya membiarkan waktu
mengubah hati yang menunggu—
hingga ia mengerti:
ada doa yang dikabulkan
bukan dengan menghadirkan seseorang,
melainkan dengan mengajarkan
cara hidup setelah seseorang
tak lagi menjadi tujuan.
Topan Arif
Malang, 10 September 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar