Enam gunung bangkit.
Anak Krakatau.
Semeru.
Sinabung.
Ibu.
Lewotobi.
Ili Lewotolok.
Enam hakim.
Satu terdakwa:
manusia-manusia rakus
yang bersarang di tubuh negara.
Anjing-anjing serakah
menggadaikan tanah rakyat.
Bangsat-bangsat biadab
mengunyah hutan, laut, dan masa depan,
lalu bersembunyi di balik
kata pembangunan.
Negara menghitung investasi.
Rakyat menghitung kehilangan.
Negara merayakan kemajuan.
Rakyat menghitung rumah.
Negara berpidato demi rakyat.
Rakyat bertanya:
rakyat yang mana?
Negara punya angka.
Rakyat punya luka.
Negara punya kuasa.
Rakyat punya abu.
Maka keenam gunung mengetukkan palu:
BERSALAH.
Hukumannya bukan penjara.
Tetaplah berkuasa.
Tetaplah berpidato.
Tetaplah menyebut semuanya
demi rakyat.
Tetapi setiap kemajuan
akan ditagihkan kepada rakyat.
Setiap keuntungan
akan meninggalkan kehilangan.
Setiap janji
akan menjadi kesaksian.
Dan setiap kali kalian berkata
negeri ini baik-baik saja,
dengarkanlah gunung-gunung itu.
Mereka sedang membaca
nota tagihan
atas keserakahan kalian.
Sebab vonis paling kejam
bagi manusia yang merasa memiliki negara:
hidup sebagai penguasa
di negeri yang telah mereka khianati.
Topan Arif
Malang, 7 September 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar