▼

Jumat, 25 September 2026

LIMINAL

Ini kebun kita.
Memang agak berantakan—
beberapa bunga gagal tumbuh,
tanahnya menyimpan terlalu banyak trauma,
dan musim kadang seenaknya
mengacak-acak ekosistem kita.

Tapi, hei—
jangan pindah taman
cuma karena di sana
bunganya kelihatan lebih aesthetic.

Kita sering lupa,
yang kita lihat cuma bunga,
bukan bagaimana ia dipupuk,
berapa kali ia hampir mati,
atau berapa banyak hujan
yang sudah dikorbankan tanahnya.

Jangan tertipu estetika.

Cinta bukan katalog
yang tinggal scroll,
lalu memilih mana yang paling indah.

Kalau ada yang layu,
kita obati.
Kalau tanahnya tandus,
kita sirami.
Kalau akar kita mulai saling mencekik,
kita belajar memberi ruang.

Karena kebun ini
bukan sekadar tempat bunga tumbuh—
ia semacam laboratorium perasaan,
tempat dua manusia
bereksperimen dengan sabar,
gagal, memaafkan,
lalu mencoba lagi.

Jadi jangan pergi
hanya demi bunga yang lebih sempurna.
Kalau setiap kali melihat taman lain
kita memilih hengkang,
kita akan terus menjadi wisatawan
di kebun orang lain—
sibuk mengagumi bunga,
tapi tak pernah cukup lama tinggal
untuk membuat satu pun
mekar atas nama kita.



—Topan Arif
Malang, 25 September 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar