Jumat, 09 Oktober 2026

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala,
ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri;
menyantap serpihan diri dengan mulut yang dibiasakan tersenyum,
sementara cermin-cermin menahbiskan retaknya sebagai cela
dan dunia, dengan lidah berlumur prasangka,
menjatuhkan fatwa atas reruntuhan
yang bahkan tak pernah mereka saksikan ketika sedang dibangun.
Betapa purba azab menjadi diri sendiri—
ketika segenap semesta bersekongkol menjadi hakim,
sedang satu-satunya terdakwa
tak pernah diberi hak untuk menerangkan lukanya.

Ia telah menempuh nekropolis di dalam dadanya,
mengarak jenazah harapan melewati lorong-lorong tanpa alamat;
di sana, doa-doa membatu sebelum sempat menjelma langit,
dan penerimaan tumbuh sebagai duri
pada rahim jiwa yang tak lagi mengenali musim.
Tak seorang pun mafhum:
betapa berabad-abad dapat bersarang dalam satu malam,
betapa sebuah nama sanggup menjadi makam,
dan betapa seseorang bisa karam
di samudra yang seluruh airnya
berasal dari matanya sendiri.
Maka ia pun belajar memeluk kehancuran
seperti bumi memeluk kawah—
bukan sebab luka telah kehilangan nyala,
melainkan sebab tak semua api
dikaruniai bahasa untuk menyebut dirinya terbakar.

Jika kelak ia tampak tabah, jangan buru-buru menyebutnya sembuh;
barangkali ia hanya telah fasih menerjemahkan kepedihan
ke dalam dialek yang tak lagi dimengerti air mata.
Ada peperangan yang tak meninggalkan darah pada pakaian,
hanya kuburan-kuburan kecil di dalam cara seseorang memandang dirinya;
ada kemenangan yang menyerupai kekalahan,
ketika manusia berhasil bertahan
tetapi kehilangan begitu banyak bagian dari dirinya
hingga kepulangan pun terasa seperti mengunjungi orang asing.
Dan apabila dunia tetap menudingnya sebagai segala yang buruk,
biarlah—ia telah terlalu lama menjadi altar bagi penghakiman.
Sebab dii antara segala yang pernah meninggalkannya,
semoga tak ada satu pun yang lebih dahulu ia relakan pergi:
dirinya sendiri,
rumah terakhir yang pintunya masih terbuka
meski seluruh penghuninya telah lama menjadi puing.


—Topan Arif
Tulungagung, 10 Oktober 2026

Jumat, 25 September 2026

TOKO SERBA DOSA

Kita semua pelacur di bumi ini—
tenang, jangan tersinggung.
Kata itu cuma terdengar kasar
karena kita belum menemukan
versi korporatnya.

Ada yang menjual tubuh,
ada yang menjual waktu,
ada yang menjual prinsip
demi jabatan dan tepuk tangan.

Kita hanya berbeda lapak:
yang satu di pinggir jalan,
yang lain di atas podium
dengan jas lebih mahal
dan dosa lebih wangi.

Jangan buru-buru merasa suci.
Cermin pun kini punya algoritma:
hanya memantulkan wajah
yang ingin kita like.

Dunia adalah germo tua—
tak pernah memaksa,
hanya pandai menawarkan harga
ketika manusia sedang lapar.

Maka jangan bangga
pulang tanpa noda.
Bisa jadi kau bukan lebih suci,
hanya lebih mahal
dan lebih pandai
menyembunyikan kuitansi.



—Topan Arif
Malang, 25 September 2026

LIMINAL

Ini kebun kita.
Memang agak berantakan—
beberapa bunga gagal tumbuh,
tanahnya menyimpan terlalu banyak trauma,
dan musim kadang seenaknya
mengacak-acak ekosistem kita.

Tapi, hei—
jangan pindah taman
cuma karena di sana
bunganya kelihatan lebih aesthetic.

Kita sering lupa,
yang kita lihat cuma bunga,
bukan bagaimana ia dipupuk,
berapa kali ia hampir mati,
atau berapa banyak hujan
yang sudah dikorbankan tanahnya.

Jangan tertipu estetika.

Cinta bukan katalog
yang tinggal scroll,
lalu memilih mana yang paling indah.

Kalau ada yang layu,
kita obati.
Kalau tanahnya tandus,
kita sirami.
Kalau akar kita mulai saling mencekik,
kita belajar memberi ruang.

Karena kebun ini
bukan sekadar tempat bunga tumbuh—
ia semacam laboratorium perasaan,
tempat dua manusia
bereksperimen dengan sabar,
gagal, memaafkan,
lalu mencoba lagi.

Jadi jangan pergi
hanya demi bunga yang lebih sempurna.
Kalau setiap kali melihat taman lain
kita memilih hengkang,
kita akan terus menjadi wisatawan
di kebun orang lain—
sibuk mengagumi bunga,
tapi tak pernah cukup lama tinggal
untuk membuat satu pun
mekar atas nama kita.



—Topan Arif
Malang, 25 September 2026

Rabu, 16 September 2026

SAJAK DELAPAN BULAN

Kau bertanya tentang kadar rasa—
seolah cinta dapat ditimbang neraca,
seolah rindu mengenal angka dan jeda,
seolah kehilangan tahu kapan binasa.

Aku tak menjawab; biarlah sunyi bicara,
sebab cintaku bukan angka yang mudah sirna;
ia bara yang terkubur di dasar dada,
ia namamu yang tetap berdenyut di antara luka.

Kau meminta foto, kukirim wajah kita—
dua manusia yang pernah percaya pada cahaya,
bahwa waktu dapat dibekukan oleh kamera,
padahal yang beku hanya gambar, bukan rasa.

Delapan bulan—
bagi kalender, sekadar lembar yang gugur ke tanah;
bagiku, delapan musim yang belum menemukan reda,
terlalu singkat untuk disebut sejarah,
terlalu dalam untuk dikubur sebagai kisah.

Dua kata yang jatuh tanpa suara,
namun menggema seperti tanah terakhir di pusara;
menimbun sesuatu yang belum sempat tiada,
mengubur kita—tanpa pernah benar-benar selesai mencinta.

Sejak itu aku mengerti makna kehilangan:
bukan ketika seseorang pergi meninggalkan,
melainkan ketika cinta masih meminta bertahan,
sementara takdir telah mencabut hak untuk memiliki seseorang.

Kau mungkin telah menutup pintu dan berlalu,
sedang aku masih menggenggam kunci yang beku;
kau mungkin telah menemukan jalan menuju waktu,
sedang namamu masih menjadi alamat bagi rinduku.

Jika kelak kau bertanya lagi tentang kadarnya,
aku tak akan menjawab dengan angka.

Sebab delapan bulan telah mengajariku satu perkara:
ada cinta yang tak pernah benar-benar sirna—
ia hanya kehilangan tempat untuk menjelma,
kehilangan pintu,
kehilangan rumah,
kehilangan seseorang untuk dipanggil pulang.

Dan yang paling getir dari semuanya:
aku masih mencintaimu dengan seluruh yang tersisa,
sementara bagimu,
mungkin aku hanya seseorang
yang pernah ada.


— Topan Arif
Malang, 16 September 2026

PASAR MARWAH

Pernah kujadikan namamu
barang paling mahal di gudang hati—
tak kupajang di etalase,
tak kubiarkan disentuh tangan sembarang.

Hasrat datang membawa modal,
namun kutolak setiap tawaran;
sebab kupikir kehormatan
bukan komoditas yang pantas diperjualbelikan.


Aku menjaga toko,
mengunci pintu,
menolak pembeli,
menjaga harga
seolah yang kusimpan adalah pusaka.

Ternyata kau hanya menunggu
pedagang berikutnya.

Kini etalase terbuka,
papan harga diganti,
dan barang yang dahulu kusebut sakral
telah berpindah tangan
dengan senyum yang begitu murah.

Aku mengerti:
marwahmu bukan barang langka,
hanya dagangan biasa
yang pandai menaikkan harga
dengan label “harga diri”.


Aku menertawakan diriku—
pernah mengira sedang menjaga berlian,
padahal aku cuma karyawan
yang terlalu setia
pada toko yang akan bangkrut.

Tak perlu kuitansi.
Tak perlu pengembalian barang.
Transaksi itu milikmu.


Tokoku sudah tutup.
Bukan karena kehabisan modal,
melainkan karena aku akhirnya sadar:

yang paling mahal bukan barangmu—
melainkan harga yang pernah kubayar
untuk percaya bahwa kau tak ternilai.



— Topan Arif
Surabaya, 16 September 2026

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...