Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
Jumat, 25 September 2026
TOKO SERBA DOSA
LIMINAL
Rabu, 16 September 2026
SAJAK DELAPAN BULAN
PASAR MARWAH
Minggu, 13 September 2026
DI BAWAH JUBAH METAFORA
KARTOGRAFI ARKANA
Sabtu, 12 September 2026
FRAGMEN HERAKLEITUS TENTANGMU
Jangan mengajariku rindu.
Aku sudah lama menjadi murid
dari kehilangan yang tak pernah lulus
dari pelajaran tentangmu.
Aku tetap tinggal
di kamar yang merekam kita
dengan begitu teliti—
pada dinding yang pernah menyimpan tawa,
pada seprai yang hafal bentuk tubuhmu,
pada jendela yang pernah kita pakai
untuk menghitung hujan
seolah waktu bisa dibujuk
agar tidak lekas pulang.
Setiap sudut masih menyimpanmu
seperti debu menyimpan jejak
dari sesuatu yang telah lama pergi.
Dan aku,
lelaki yang terlalu bodoh untuk pindah,
masih menyalakan lampu
di tempat yang bahkan bayanganmu
sudah tak sudi kembali.
Sementara kamu, nona,
telah pulang
ke kamar masa kecilmu—
tempat dinding-dindingnya
tidak mengenal suara pertengkaran kita,
tempat bantalmu tidak pernah basah
oleh percakapan yang gagal diselesaikan,
tempat malam tidak perlu mengingat
bagaimana dua manusia
yang saling mencintai
bisa saling menjadi luka.
Barangkali itu sebabnya
kamu tampak baik-baik saja.
Sebab kau pulang
ke tempat sebelum aku ada.
Sedangkan aku
terpaksa tinggal
di tempat setelah kita berakhir.
Di sini,
patah-patahan kecewa
masih berserakan di lantai.
Aku memungutnya satu per satu,
mengira ia pecahan kaca—
padahal mungkin
ia hanya sisa-sisa diriku
yang belum sempat kau bawa pergi.
Jadi jangan mengajariku rindu.
Rindu bukan sesuatu
yang bisa diajarkan kepada seseorang
yang setiap malam
tidur bersama bekas-bekasmu.
Kau mungkin telah pulang, nona,
tetapi aku masih tinggal
di kamar yang pernah menjadi kita.
Dan yang paling menyakitkan
bukan kenyataan bahwa kau pergi—
melainkan kamar ini
masih begitu pandai
membuatmu terasa dekat
kepada seseorang
yang sudah tidak lagi
ingin mengingatku.
Topan Arif
Malang, 13 September 2026
DI SUARA TANGISMU
DIALEKTIKA KETIADAAN
SENGGAMA NISKALA
Jumat, 11 September 2026
DI BAWAH ROKMU, SEMESTA TELANJANG
kau tumpahkan semesta
dengan segala gaduhnya:
rengginang, rawon, jazz, granat,
dosa, pesta, Tuhan,
bahkan manusia yang mabuk
oleh kebenarannya sendiri.
Tapi izinkan aku bertanya:
siapa yang sebenarnya sedang kita telanjangi—
rokmu, atau zaman?
Sebab di balik kain itu
aku menemukan pasar yang lapar,
bioskop yang menjual mimpi,
gedung-gedung yang menelan langit,
dan meja-meja bilyar
tempat nasib dipukul
dengan tongkat kesombongan.
Aku menemukan hukum
yang tajam kepada yang lapar
namun tumpul di hadapan dasi.
Ayam dicuri—
manusia membakar manusia.
Negeri dicuri—
manusia bertepuk tangan
seolah korupsi adalah pertunjukan
dengan tiket kehormatan.
Lalu Tuhan dipanggil
untuk membenarkan kebencian.
Manusia begitu takut kepada setan,
tetapi memeliharanya
di dalam dada
lalu memberinya nama:
moral.
Kau bilang di dalam rokmu
ada Disneyland,
ada nirwana,
ada fatamorgana.
Sebab dunia memang taman bermain
bagi mereka yang punya tiket,
dan rumah jagal
bagi mereka yang lahir
tanpa uang untuk membelinya.
Sedangkan kami—
anak-anak yang keluar
dari rahim malu dan kemiskinan—
bahkan belum sempat memilih dosa
ketika dunia sudah lebih dulu
menghakimi kelahiran kami.
Jadi jangan buru-buru
menyalahkan isi rokmu.
Barangkali yang busuk
bukan yang berada di bawah kain.
Barangkali busuk itu
ada di tangan yang merogoh,
di mata yang mengintip,
di mulut yang menghakimi,
dan terutama
di kepala manusia
yang mengira dirinya Tuhan.
Jika rokmu memang menyimpan semesta,
biarkan ia tetap terbuka sebagai metafora.
Sebab aku tak ingin
membaca tubuhmu.
Aku ingin membaca
peradaban yang bersembunyi
di baliknya.
Topan Arif
Malang, 11 September 2026
— balasan untuk cocot kencono
KIDUNG FUNEBRIS
EPITAF DUA HATI YANG SALING MEMBUNUH
Kamis, 10 September 2026
Litani Tiga Pepatah yang Dikafani Zaman
Katanya, leluhur menitipkan tiga pepatah agar manusia tak kehilangan jalan. Tetapi zaman menukar kompas dengan kalkulator, dan nurani dijadikan recehan di laci paling bawah.
Ringan sama dijinjing. Ah... benar. Yang dijinjing hanya mereka yang bernilai. Sisanya dibiarkan menjadi debu di telapak sejarah, dipanggil dengan seribu nama, namun tak pernah disebut manusia.
Miskin bukan sekadar kosong saku, ia adalah dosa yang tak pernah diakui pelakunya. Ia dihujat seperti hujan menghukum tanah, padahal langitlah yang pelit menurunkan awan.
Berat sama dipikul. Betapa anggun dusta itu terdengar. Pundak ternyata mengenal kasta. Ia rapuh di hadapan emas, namun menjadi batu di depan luka. Pelukan menjelma pasar malam: siapa membawa cahaya uang, dialah yang paling hangat dirangkul.
Persaudaraan? Sering kali hanya bayang-bayang yang muncul ketika matahari bernama kepentingan terbit.
Ada udang di balik batu. Kini batunya dibelah. Tak ada udang. Yang bersembunyi hanyalah amplop, jabatan, hutang budi, dan senyum yang disetrika agar tampak tulus.
Keadilan menjahit matanya sendiri. Kebenaran belajar menjadi badut, tertawa di panggung orang kaya, menangis di ruang tunggu orang papa.
Lalu aku bertanya kepada malam, "Siapa yang sesungguhnya miskin?"
Yang tak memiliki uang? Atau yang begitu kaya, hingga seluruh isi dadanya habis dibeli angka?
Sebab tragedi terbesar bukan ketika dompet kosong, melainkan ketika harga diri punya label harga, ketika belas kasih memiliki nominal, dan ketika manusia— dengan sangat sopan— menguburkan nuraninya sendiri, lalu menaburkan bunga sambil menyebut pemakaman itu kehidupan.
Topan Arif
Malang, 1 September 2026
ELEGIA BAGI DOA YANG PULANG DENGAN TANGAN KOSONG
Selasa, 08 September 2026
RISALAH ENAM KAWAH
Enam gunung bangkit.
Anak Krakatau.
Semeru.
Sinabung.
Ibu.
Lewotobi.
Ili Lewotolok.
Enam hakim.
Satu terdakwa:
manusia-manusia rakus
yang bersarang di tubuh negara.
Anjing-anjing serakah
menggadaikan tanah rakyat.
Bangsat-bangsat biadab
mengunyah hutan, laut, dan masa depan,
lalu bersembunyi di balik
kata pembangunan.
Negara menghitung investasi.
Rakyat menghitung kehilangan.
Negara merayakan kemajuan.
Rakyat menghitung rumah.
Negara berpidato demi rakyat.
Rakyat bertanya:
rakyat yang mana?
Negara punya angka.
Rakyat punya luka.
Negara punya kuasa.
Rakyat punya abu.
Maka keenam gunung mengetukkan palu:
BERSALAH.
Hukumannya bukan penjara.
Tetaplah berkuasa.
Tetaplah berpidato.
Tetaplah menyebut semuanya
demi rakyat.
Tetapi setiap kemajuan
akan ditagihkan kepada rakyat.
Setiap keuntungan
akan meninggalkan kehilangan.
Setiap janji
akan menjadi kesaksian.
Dan setiap kali kalian berkata
negeri ini baik-baik saja,
dengarkanlah gunung-gunung itu.
Mereka sedang membaca
nota tagihan
atas keserakahan kalian.
Sebab vonis paling kejam
bagi manusia yang merasa memiliki negara:
hidup sebagai penguasa
di negeri yang telah mereka khianati.
Topan Arif
Malang, 7 September 2026
Senin, 07 September 2026
YANG TAK DIUNDANG
Di keramaian, kau menabur ratna pada telapak-telapak yang datang dan pergi; sedang satu nama kau simpan di lipatan sunyi— seperti surat yang terlalu lama tak dianggap perlu dibaca.
Kau pandai merawat riuh, namun gagap mengenali gema yang pulang membawa luka.
Barangkali begitulah cara sesuatu menjadi fana: bukan lantaran kehilangan cahaya, melainkan terlalu lama diletakkan di bawah bayang-bayang yang kau kira tak akan pernah beranjak.
Dan kelak, ketika sunyi akhirnya menyebut namamu dengan utuh, jangan buru-buru menyebutnya kehilangan.
Mungkin ia hanya sedang memetik dirinya kembali dari tempat yang tak pernah sungguh-sungguh memberinya kedudukan.
Topan Arif
Malang, 8 September 2026
Minggu, 06 September 2026
HELEH KONTOL
DUNIA TERBALIK
Judi Online
Upon the Ruins of Mine Own Soul
Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...
-
Setelah kamu pergi... Pertanyaan yang tersisa masih sama... "𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮 ?" Namun...
-
Aku kira aku telah usai denganmu, namun diam-diam, langkahku masih hafal arah pulang ke tempat yang selalu menyimpan namamu. Aku hidup ...
-
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek. Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya. Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan ter...