Jumat, 25 September 2026

TOKO SERBA DOSA

Kita semua pelacur di bumi ini—
tenang, jangan tersinggung.
Kata itu cuma terdengar kasar
karena kita belum menemukan
versi korporatnya.

Ada yang menjual tubuh,
ada yang menjual waktu,
ada yang menjual prinsip
demi jabatan dan tepuk tangan.

Kita hanya berbeda lapak:
yang satu di pinggir jalan,
yang lain di atas podium
dengan jas lebih mahal
dan dosa lebih wangi.

Jangan buru-buru merasa suci.
Cermin pun kini punya algoritma:
hanya memantulkan wajah
yang ingin kita like.

Dunia adalah germo tua—
tak pernah memaksa,
hanya pandai menawarkan harga
ketika manusia sedang lapar.

Maka jangan bangga
pulang tanpa noda.
Bisa jadi kau bukan lebih suci,
hanya lebih mahal
dan lebih pandai
menyembunyikan kuitansi.



—Topan Arif
Malang, 25 September 2026

LIMINAL

Ini kebun kita.
Memang agak berantakan—
beberapa bunga gagal tumbuh,
tanahnya menyimpan terlalu banyak trauma,
dan musim kadang seenaknya
mengacak-acak ekosistem kita.

Tapi, hei—
jangan pindah taman
cuma karena di sana
bunganya kelihatan lebih aesthetic.

Kita sering lupa,
yang kita lihat cuma bunga,
bukan bagaimana ia dipupuk,
berapa kali ia hampir mati,
atau berapa banyak hujan
yang sudah dikorbankan tanahnya.

Jangan tertipu estetika.

Cinta bukan katalog
yang tinggal scroll,
lalu memilih mana yang paling indah.

Kalau ada yang layu,
kita obati.
Kalau tanahnya tandus,
kita sirami.
Kalau akar kita mulai saling mencekik,
kita belajar memberi ruang.

Karena kebun ini
bukan sekadar tempat bunga tumbuh—
ia semacam laboratorium perasaan,
tempat dua manusia
bereksperimen dengan sabar,
gagal, memaafkan,
lalu mencoba lagi.

Jadi jangan pergi
hanya demi bunga yang lebih sempurna.
Kalau setiap kali melihat taman lain
kita memilih hengkang,
kita akan terus menjadi wisatawan
di kebun orang lain—
sibuk mengagumi bunga,
tapi tak pernah cukup lama tinggal
untuk membuat satu pun
mekar atas nama kita.



—Topan Arif
Malang, 25 September 2026

Rabu, 16 September 2026

SAJAK DELAPAN BULAN

Kau bertanya tentang kadar rasa—
seolah cinta dapat ditimbang neraca,
seolah rindu mengenal angka dan jeda,
seolah kehilangan tahu kapan binasa.

Aku tak menjawab; biarlah sunyi bicara,
sebab cintaku bukan angka yang mudah sirna;
ia bara yang terkubur di dasar dada,
ia namamu yang tetap berdenyut di antara luka.

Kau meminta foto, kukirim wajah kita—
dua manusia yang pernah percaya pada cahaya,
bahwa waktu dapat dibekukan oleh kamera,
padahal yang beku hanya gambar, bukan rasa.

Delapan bulan—
bagi kalender, sekadar lembar yang gugur ke tanah;
bagiku, delapan musim yang belum menemukan reda,
terlalu singkat untuk disebut sejarah,
terlalu dalam untuk dikubur sebagai kisah.

Dua kata yang jatuh tanpa suara,
namun menggema seperti tanah terakhir di pusara;
menimbun sesuatu yang belum sempat tiada,
mengubur kita—tanpa pernah benar-benar selesai mencinta.

Sejak itu aku mengerti makna kehilangan:
bukan ketika seseorang pergi meninggalkan,
melainkan ketika cinta masih meminta bertahan,
sementara takdir telah mencabut hak untuk memiliki seseorang.

Kau mungkin telah menutup pintu dan berlalu,
sedang aku masih menggenggam kunci yang beku;
kau mungkin telah menemukan jalan menuju waktu,
sedang namamu masih menjadi alamat bagi rinduku.

Jika kelak kau bertanya lagi tentang kadarnya,
aku tak akan menjawab dengan angka.

Sebab delapan bulan telah mengajariku satu perkara:
ada cinta yang tak pernah benar-benar sirna—
ia hanya kehilangan tempat untuk menjelma,
kehilangan pintu,
kehilangan rumah,
kehilangan seseorang untuk dipanggil pulang.

Dan yang paling getir dari semuanya:
aku masih mencintaimu dengan seluruh yang tersisa,
sementara bagimu,
mungkin aku hanya seseorang
yang pernah ada.


— Topan Arif
Malang, 16 September 2026

PASAR MARWAH

Pernah kujadikan namamu
barang paling mahal di gudang hati—
tak kupajang di etalase,
tak kubiarkan disentuh tangan sembarang.

Hasrat datang membawa modal,
namun kutolak setiap tawaran;
sebab kupikir kehormatan
bukan komoditas yang pantas diperjualbelikan.


Aku menjaga toko,
mengunci pintu,
menolak pembeli,
menjaga harga
seolah yang kusimpan adalah pusaka.

Ternyata kau hanya menunggu
pedagang berikutnya.

Kini etalase terbuka,
papan harga diganti,
dan barang yang dahulu kusebut sakral
telah berpindah tangan
dengan senyum yang begitu murah.

Aku mengerti:
marwahmu bukan barang langka,
hanya dagangan biasa
yang pandai menaikkan harga
dengan label “harga diri”.


Aku menertawakan diriku—
pernah mengira sedang menjaga berlian,
padahal aku cuma karyawan
yang terlalu setia
pada toko yang akan bangkrut.

Tak perlu kuitansi.
Tak perlu pengembalian barang.
Transaksi itu milikmu.


Tokoku sudah tutup.
Bukan karena kehabisan modal,
melainkan karena aku akhirnya sadar:

yang paling mahal bukan barangmu—
melainkan harga yang pernah kubayar
untuk percaya bahwa kau tak ternilai.



— Topan Arif
Surabaya, 16 September 2026

Minggu, 13 September 2026

DI BAWAH JUBAH METAFORA

— Elegi bagi Para Saudagar Aksara

Kalian menjual puisi di lorong gelap asmara,
menyewa bulan untuk memoles wajah rayuan;
setiap metafora kalian sulap menjadi mantra,
agar nafsu tampak luhur bernama kesusastraan.

Kalian mengemis takjub lewat sebait madah,
menabur kata manis pada telinga yang percaya;
lalu menyebut diri penyair paling indah,
padahal yang kalian buru cuma tubuh di balik aksara.

Kalian bukan penyair—kalian pedagang kata,
mengemas birahi dengan pita bernama estetika;
perempuan kalian jadikan pasar tempat ego berniaga,
dan setiap bait hanyalah kail untuk menjerat mangsa.

Kalian mengukir “kau satu-satunya” pada setiap perempuan,
seolah hati manusia cuma halaman untuk kalian tuliskan;
hari ini satu nama kalian puja sampai ke nirwana,
esok nama lain kalian sembah dengan bahasa yang sama.

Jangan bangga bila perempuan tunduk pada kata,
sebab racun pun kerap dibungkus dalam madu;
jangan sebut itu cinta bila ujungnya hanya raga,
sebab iblis pun fasih mengaji sebelum menawar nafsu.

Kalian mengira sedang menaklukkan hati,
padahal yang kalian taklukkan hanya kesabaran;
kalian mengira sedang memanen cinta dari puisi,
padahal kalian sedang memanen malu dari kepalsuan.

Lalu kalian menyebut diri penyair—betapa murah gelar itu,
jika setiap bait lahir dari niat untuk memiliki;
kalian menyucikan nafsu dengan metafora yang syahdu,
kemudian menyebut manipulasi sebagai seni.

Tetapi sastra memiliki cermin yang tak bisa kalian tipu:
ia akan mengembalikan wajah kepada pemiliknya;
dan ketika perempuan berhenti percaya pada puisi kalian,
yang mati bukan cinta—melainkan kedok kalian sebagai penyair.

Sebab perempuan bukan halaman untuk kalian menulis kemenangan,
bukan trofi yang sah setelah sebuah soneta berhasil;
ia manusia yang mampu membaca niat di balik keindahan,
dan pada akhirnya, kalianlah yang terbaca paling telanjang.

Maka inilah vonis terakhir bagi para saudagar aksara:
kalian datang membawa puisi untuk membeli cinta,
namun pulang dengan kehormatan yang telah kalian jual sendiri—
dan sejak saat itu, setiap kata indah yang kalian tulis hanya menjadi bukti bahwa kalian mampu membuat kehinaan terdengar seperti sastra.



Topan Arif
Malang, 13 September 2026

KARTOGRAFI ARKANA

Aku hafal tubuhmu
seperti rahib menghafal kitab terlarang—
setiap lekuk adalah aksara,
setiap pori menyimpan silabel,
setiap lekang di antara tulang
menyembunyikan sebuah rahasia.

Lehermu—lorong tempat senja tersesat.
Bahu—buntu yang selalu kupilih.
Pinggangmu—persimpangan purba
tempat nalarku meletakkan mahkota.

Aku mengenal geografi napasmu:
pasang-surut yang mengkhianati tenang,
detak yang mendadak menjadi mantra,
kulit yang menjelma prasasti
ketika disentuh sunyi.

Namun di hadapan matamu,
seluruh pengetahuanku menjadi debu.

Sekali kau menatap,
kompas kehilangan utara,
peta kehilangan nama,
dan aku—
seorang musafir yang konon mengenal jalan—
kembali menjadi pengembara
di kerajaanmu yang tak bernama.

Barangkali kau memang sengaja
mengacaukan seluruh kartografiku,
agar aku tak pernah selesai membaca
tubuh yang telah kuhafal.

Sebab cinta rupanya bukan ihwal menemukan jalan,
melainkan kesediaan menjadi sesat
di labirin yang sama—
berulang kali,
tanpa kutukan,
tanpa penyesalan.

Dan jika kelak dunia bertanya
di mana rumahku,

aku tak akan menunjuk alamat.

Sebab rumah bagiku bukan ruang untuk berdiam;
melainkan satu nama
yang membuatku rela kehilangan arah
seumur hidup.



Topan Arif
Malang, 13 September 2026

Sabtu, 12 September 2026

FRAGMEN HERAKLEITUS TENTANGMU

Jangan mengajariku rindu.

Aku sudah lama menjadi murid
dari kehilangan yang tak pernah lulus
dari pelajaran tentangmu.

Aku tetap tinggal
di kamar yang merekam kita
dengan begitu teliti—
pada dinding yang pernah menyimpan tawa,
pada seprai yang hafal bentuk tubuhmu,
pada jendela yang pernah kita pakai
untuk menghitung hujan
seolah waktu bisa dibujuk
agar tidak lekas pulang.

Setiap sudut masih menyimpanmu
seperti debu menyimpan jejak
dari sesuatu yang telah lama pergi.

Dan aku,
lelaki yang terlalu bodoh untuk pindah,
masih menyalakan lampu
di tempat yang bahkan bayanganmu
sudah tak sudi kembali.

Sementara kamu, nona,
telah pulang
ke kamar masa kecilmu—
tempat dinding-dindingnya
tidak mengenal suara pertengkaran kita,
tempat bantalmu tidak pernah basah
oleh percakapan yang gagal diselesaikan,
tempat malam tidak perlu mengingat
bagaimana dua manusia
yang saling mencintai
bisa saling menjadi luka.

Barangkali itu sebabnya
kamu tampak baik-baik saja.

Sebab kau pulang
ke tempat sebelum aku ada.

Sedangkan aku
terpaksa tinggal
di tempat setelah kita berakhir.

Di sini,
patah-patahan kecewa
masih berserakan di lantai.
Aku memungutnya satu per satu,
mengira ia pecahan kaca—
padahal mungkin
ia hanya sisa-sisa diriku
yang belum sempat kau bawa pergi.

Jadi jangan mengajariku rindu.

Rindu bukan sesuatu
yang bisa diajarkan kepada seseorang
yang setiap malam
tidur bersama bekas-bekasmu.

Kau mungkin telah pulang, nona,
tetapi aku masih tinggal
di kamar yang pernah menjadi kita.

Dan yang paling menyakitkan
bukan kenyataan bahwa kau pergi—

melainkan kamar ini
masih begitu pandai
membuatmu terasa dekat
kepada seseorang
yang sudah tidak lagi
ingin mengingatku.


Topan Arif

Malang, 13 September 2026

DI SUARA TANGISMU

Malam ini aku menulis
sementara suaramu retak di kejauhan—
dan setiap isak yang jatuh
seperti serpihan kaca
yang pelan-pelan mengajari dadaku
bagaimana rasanya berdarah tanpa luka.

Aku ingin memelukmu,
tetapi jarak telah menjadikan kedua tanganku
sepasang doa yang kehilangan alamat.

Maka menangislah.
Biarkan malam menjadi saksi
bahwa pernah ada hati
yang begitu lelah menanggung dunia
hingga air mata pun tak lagi
menemukan jalan untuk pulang.

Aku mendengarkanmu dalam diam,
sementara di dalam diriku
sebuah langit runtuh tanpa suara.

Betapa menyedihkannya cinta:
ketika orang yang ingin kita selamatkan
justru sedang karam
di laut yang tak mampu kita seberangi.

Dan aku—
hanya bisa berdiri di tepian,
memanggil namamu
dengan suara yang bahkan
tak sanggup menyelamatkan diriku sendiri.

Jika hidup kembali menutup pintunya,
jika takdir menguburkan
segala yang pernah kita sebut masa depan,
aku tak ingin menjanjikan kebahagiaan.

Aku hanya ingin tinggal
sedikit lebih lama
di antara reruntuhan ini.

Sebab ada sesuatu
yang pernah kita mulai
dengan seluruh doa,
seluruh keberanian,
dan bagian-bagian diri
yang tak mungkin dikembalikan.

Barangkali nanti kita gagal.
Barangkali yang tersisa
hanya nama kita di ingatan—
seperti nisan tanpa makam,
seperti surat terakhir
yang tak pernah sempat dibaca.

Tetapi malam ini,
ketika kudengar kau menangis,
aku mengerti satu hal:

kesedihan paling dalam
bukan ketika seseorang pergi,
melainkan ketika ia masih ada—
namun kita tak lagi memiliki tangan
untuk menahannya tetap utuh.

Dan mungkin itulah sebabnya
aku ikut hancur dalam diam:

sebab air matamu
telah menemukan jalan
menuju tempat paling dalam
di tubuhku—

tempat di mana namamu
belum pernah berhasil
aku kuburkan.



Topan Arif
Malang, 13 September 2026

DIALEKTIKA KETIADAAN

Aku membangun pintu
dari tulang rusuk kesetiaan,
menyalakan lampu
dari sisa-sisa sabar—
agar langkahmu yang tersesat
masih mengenali pulang.

Kau datang membawa musim
yang enggan dipeluk langit;
aku menadahnya dengan dada
hingga tubuhku sendiri
menjadi cuaca.

Kukira cinta ialah teduh.
Ternyata aku hanya bayang
yang terlalu lama
mengira dirinya matahari.

Maka pergilah.
Semoga kelak seseorang
membaca retakmu sebagai aksara,
bukan cacat yang harus diperbaiki;
memeluk badaimu
tanpa ingin menjinakkannya.

Sedang aku—
akan mengembalikan namamu
kepada malam.

Bukan karena cinta telah mati,
melainkan ia telah belajar
bentuk paling sunyi dari ikhlas:

melepaskan kapal
yang dicintai laut,
sebab bahkan laut tahu—
tak setiap yang dipeluknya
ditakdirkan berlabuh.



Topan Arif
Malang, 12 September 2026

SENGGAMA NISKALA

Aku mencintaimu seperti lelaki
yang sedang mengasah pisau pada tulang sendiri—
rakus, bengis,
dan terlalu bodoh untuk berhenti.

Kita saling merobek malam,
menelanjangi segala yang tersisa,
lalu menyebut luka itu
sebagai cinta.

Tubuhmu pernah menjadi candu.
Aku menegukmu sampai mabuk,
sampai nalar membusuk
dan harga diri tinggal serpihan
di bawah ranjang.

Kupikir jika dua manusia
sudah sehancur itu di dalam pelukan,
mereka akan bertahan.
Ternyata tidak.

Kau pergi
dan meninggalkan aku
bersama kamar yang dingin,
bau kenangan,
dan jantung yang terasa
seperti bangkai yang belum sempat dikubur.

Sekarang aku mengerti:
yang paling brutal dari senggama
bukan tubuh yang saling membakar,
melainkan pagi setelahnya—
ketika perempuan yang semalam
kau dekap seperti milikmu
bangun, berpakaian,
lalu pergi
seolah kau tak pernah ada.

Kita pernah menjadi satu.
Kini bahkan kenangan
tak sudi mengakui
bahwa aku pernah menjadi rumahmu.



Topan Arif
Malang, 12 September 2026

Jumat, 11 September 2026

DI BAWAH ROKMU, SEMESTA TELANJANG

Seperti isi dalam rokmu—
kau tumpahkan semesta
dengan segala gaduhnya:
rengginang, rawon, jazz, granat,
dosa, pesta, Tuhan,
bahkan manusia yang mabuk
oleh kebenarannya sendiri.

Tapi izinkan aku bertanya:
siapa yang sebenarnya sedang kita telanjangi—
rokmu, atau zaman?

Sebab di balik kain itu
aku menemukan pasar yang lapar,
bioskop yang menjual mimpi,
gedung-gedung yang menelan langit,
dan meja-meja bilyar
tempat nasib dipukul
dengan tongkat kesombongan.

Aku menemukan hukum
yang tajam kepada yang lapar
namun tumpul di hadapan dasi.

Ayam dicuri—
manusia membakar manusia.

Negeri dicuri—
manusia bertepuk tangan
seolah korupsi adalah pertunjukan
dengan tiket kehormatan.

Lalu Tuhan dipanggil
untuk membenarkan kebencian.

Manusia begitu takut kepada setan,
tetapi memeliharanya
di dalam dada
lalu memberinya nama:
moral.

Kau bilang di dalam rokmu
ada Disneyland,
ada nirwana,
ada fatamorgana.

Sebab dunia memang taman bermain
bagi mereka yang punya tiket,
dan rumah jagal
bagi mereka yang lahir
tanpa uang untuk membelinya.

Sedangkan kami—
anak-anak yang keluar
dari rahim malu dan kemiskinan—
bahkan belum sempat memilih dosa
ketika dunia sudah lebih dulu
menghakimi kelahiran kami.

Jadi jangan buru-buru
menyalahkan isi rokmu.

Barangkali yang busuk
bukan yang berada di bawah kain.

Barangkali busuk itu
ada di tangan yang merogoh,
di mata yang mengintip,
di mulut yang menghakimi,
dan terutama
di kepala manusia
yang mengira dirinya Tuhan.

Jika rokmu memang menyimpan semesta,
biarkan ia tetap terbuka sebagai metafora.

Sebab aku tak ingin
membaca tubuhmu.

Aku ingin membaca
peradaban yang bersembunyi
di baliknya.



Topan Arif
Malang, 11 September 2026
— balasan untuk cocot kencono

KIDUNG FUNEBRIS

Aku berhenti menyebut namamu—
bukan karena ingatan menjadi abu,
melainkan karena lidahku kehabisan
cara mengucapkan darah.

Di antara kita,
waktu menjahit langit dengan benang rapuh;
malam datang membawa gunting,
dan sejak itu bulan
hanya menyisakan cahaya
yang kehilangan alamat.

Aku menyimpanmu
di palung yang bahkan kenangan enggan selami—
tempat kemungkinan yang tak sempat lahir
membatu menjadi fosil,
namun diam-diam
menggerogoti tulang kesunyian.

Jangan kusebut ini rindu.
Rindu terlalu indah
untuk luka semacam ini.

Ini musim yang membusuk
di bawah kulit;
tak tampak oleh mata,
namun setiap denyut
membunyikan lonceng
bagi sesuatu yang telah mati.

Jangan kembali.

Bukan karena pintu telah tertutup,
melainkan rumah ini
sudah kehilangan alasan
untuk memiliki pintu.

Jika takdir menyeretmu kembali,
jangan sebut itu pulang.
Barangkali kita hanya dua reruntuhan
yang kebetulan mengenali
debu masing-masing.

Dan jika kau menemukan taman
di tangan seseorang yang lain,
biarkan bunganya tumbuh
tanpa bayanganku.

Sebab kehilangan paling kejam
bukan ketika seseorang pergi,
melainkan ketika ia tetap hidup
di balik jarak,
sementara di dalam diri kita
ia mati berulang kali—

tanpa liang,
tanpa nisan,
dan setiap pagi
kematiannya dimulai lagi.



Topan Arif
Malang, 4 September 2026

EPITAF DUA HATI YANG SALING MEMBUNUH

Aku bukan lelaki
yang pandai menerjemahkan
musim-musim di kepalamu;
aku hanya seseorang
yang terlalu lama mengira
diam adalah cara paling baik
untuk mencintai.

Kita pernah menjadi rumah
bagi dua kesunyian
yang saling menemukan.
Aku mengenal tawamu,
kau mengenal retakku;
dan di antara keduanya
kita menanam cinta
seolah waktu tak akan pernah
menemukan jalan untuk merobohkannya.

Namun malam itu,
kata-kata kehilangan akal,
amarah menjadi api,
dan tangan yang semestinya
menjadi teduh
justru meninggalkan luka.

Sejak saat itu
cinta tak lagi punya
tempat yang utuh untuk pulang.

Jangan katakan itu cinta.
Cinta tak pernah membutuhkan luka
sebagai bukti kesetiaan.

Barangkali kita masih saling mencintai—
hanya saja cinta kita
telah terlalu banyak kehilangan
cara untuk menjadi baik.

Aku masih mengingatmu
seperti bumi mengingat hujan:
dengan bekas basah
yang tak segera kering.

Tetapi aku akhirnya mengerti,
ada perpisahan
yang bukan lahir dari habisnya cinta,
melainkan dari kesadaran
bahwa dua hati yang masih saling mencinta
kadang harus saling menjauh
agar tak kembali saling melukai.

Maka pergilah.

Bawalah seluruh kenangan
yang pernah membuat kita percaya
bahwa selamanya itu nyata.

Aku akan menyimpan namamu
bukan sebagai kebencian,
melainkan sebagai elegi—

tentang dua manusia
yang pernah begitu mencintai,
namun gagal belajar
bagaimana caranya
tidak saling menghancurkan.



Topan Arif
Malang, 11 September 2026

Kamis, 10 September 2026

Litani Tiga Pepatah yang Dikafani Zaman

Katanya, leluhur menitipkan tiga pepatah agar manusia tak kehilangan jalan. Tetapi zaman menukar kompas dengan kalkulator, dan nurani dijadikan recehan di laci paling bawah.

Ringan sama dijinjing. Ah... benar. Yang dijinjing hanya mereka yang bernilai. Sisanya dibiarkan menjadi debu di telapak sejarah, dipanggil dengan seribu nama, namun tak pernah disebut manusia.

Miskin bukan sekadar kosong saku, ia adalah dosa yang tak pernah diakui pelakunya. Ia dihujat seperti hujan menghukum tanah, padahal langitlah yang pelit menurunkan awan.

Berat sama dipikul. Betapa anggun dusta itu terdengar. Pundak ternyata mengenal kasta. Ia rapuh di hadapan emas, namun menjadi batu di depan luka. Pelukan menjelma pasar malam: siapa membawa cahaya uang, dialah yang paling hangat dirangkul.

Persaudaraan? Sering kali hanya bayang-bayang yang muncul ketika matahari bernama kepentingan terbit.

Ada udang di balik batu. Kini batunya dibelah. Tak ada udang. Yang bersembunyi hanyalah amplop, jabatan, hutang budi, dan senyum yang disetrika agar tampak tulus.

Keadilan menjahit matanya sendiri. Kebenaran belajar menjadi badut, tertawa di panggung orang kaya, menangis di ruang tunggu orang papa.

Lalu aku bertanya kepada malam, "Siapa yang sesungguhnya miskin?"

Yang tak memiliki uang? Atau yang begitu kaya, hingga seluruh isi dadanya habis dibeli angka?

Sebab tragedi terbesar bukan ketika dompet kosong, melainkan ketika harga diri punya label harga, ketika belas kasih memiliki nominal, dan ketika manusia— dengan sangat sopan— menguburkan nuraninya sendiri, lalu menaburkan bunga sambil menyebut pemakaman itu kehidupan.



Topan Arif

Malang, 1 September 2026

ELEGIA BAGI DOA YANG PULANG DENGAN TANGAN KOSONG

Kemarin,  
sebuah nama masih digantungkan  
pada lengkung langit—  
seperti doa yang percaya  
bahwa manusia dapat berubah  
hanya karena dicintai  
dengan kesabaran yang tak bertepi.

Harapan tumbuh  
di tanah yang retak,  
menjadi bunga-bunga yang tak sempat mekar;  
sebab waktu rupanya lebih pandai  
memelihara kehilangan  
daripada mengajarkan seseorang  
cara tinggal.

Ada hati yang menunggu  
di ambang musim,  
sementara yang ditunggu  
tak pernah belajar menjadi teduh.

Hari-hari pun berjalan  
dengan kaki yang semakin berat,  
mengangkut serpihan perasaan  
yang tak pernah sempat diberi nama.

Lalu doa berganti arah.

Bukan lagi tentang seseorang  
yang diharapkan berubah,  
melainkan tentang hati  
yang harus diselamatkan  
dari harapan yang terlalu tinggi.

Sebab tidak semua manusia  
ditakdirkan menjadi rumah.  
Sebagian hanya menjadi persinggahan—  
meninggalkan jejak kaki  
di halaman batin,  
lalu pergi sebelum senja  
sempat selesai menyalakan warna.

Dan betapa getirnya takdir:  
yang dahulu dimohon  
agar menetap,  
kelak harus dilupakan  
agar hidup dapat berlanjut.

Nama itu akhirnya  
menjadi nisan kecil  
di pemakaman ingatan;  
tidak benar-benar mati,  
hanya berhenti dipanggil.

Di sana,  
cinta yang pernah begitu riuh  
perlahan menjadi debu,  
rindu kehilangan suaranya,  
dan sebuah hati belajar  
bahwa kehilangan tidak selalu berarti  
seseorang telah pergi.

Kadang,  
yang pergi adalah harapan  
tentang siapa seharusnya ia menjadi.

Maka Tuhan tidak mengubahnya.

Tuhan hanya membiarkan waktu  
mengubah hati yang menunggu—  
hingga ia mengerti:

ada doa yang dikabulkan  
bukan dengan menghadirkan seseorang,  
melainkan dengan mengajarkan  
cara hidup setelah seseorang  
tak lagi menjadi tujuan.


Topan Arif
Malang, 10 September 2026

Selasa, 08 September 2026

RISALAH ENAM KAWAH

 

Enam gunung bangkit.

Anak Krakatau.
Semeru.
Sinabung.
Ibu.
Lewotobi.
Ili Lewotolok.

Enam hakim.
Satu terdakwa:

manusia-manusia rakus
yang bersarang di tubuh negara.

Anjing-anjing serakah
menggadaikan tanah rakyat.

Bangsat-bangsat biadab
mengunyah hutan, laut, dan masa depan,

lalu bersembunyi di balik
kata pembangunan.

Negara menghitung investasi.
Rakyat menghitung kehilangan.

Negara merayakan kemajuan.
Rakyat menghitung rumah.

Negara berpidato demi rakyat.
Rakyat bertanya:

rakyat yang mana?

Negara punya angka.
Rakyat punya luka.

Negara punya kuasa.
Rakyat punya abu.

Maka keenam gunung mengetukkan palu:

BERSALAH.

Hukumannya bukan penjara.

Tetaplah berkuasa.
Tetaplah berpidato.
Tetaplah menyebut semuanya
demi rakyat.

Tetapi setiap kemajuan
akan ditagihkan kepada rakyat.

Setiap keuntungan
akan meninggalkan kehilangan.

Setiap janji
akan menjadi kesaksian.

Dan setiap kali kalian berkata
negeri ini baik-baik saja,

dengarkanlah gunung-gunung itu.

Mereka sedang membaca
nota tagihan
atas keserakahan kalian.

Sebab vonis paling kejam
bagi manusia yang merasa memiliki negara:

hidup sebagai penguasa
di negeri yang telah mereka khianati.



Topan Arif

Malang, 7 September 2026

Senin, 07 September 2026

YANG TAK DIUNDANG

Di keramaian, kau menabur ratna pada telapak-telapak yang datang dan pergi; sedang satu nama kau simpan di lipatan sunyi— seperti surat yang terlalu lama tak dianggap perlu dibaca.

Kau pandai merawat riuh, namun gagap mengenali gema yang pulang membawa luka.

Barangkali begitulah cara sesuatu menjadi fana: bukan lantaran kehilangan cahaya, melainkan terlalu lama diletakkan di bawah bayang-bayang yang kau kira tak akan pernah beranjak.

Dan kelak, ketika sunyi akhirnya menyebut namamu dengan utuh, jangan buru-buru menyebutnya kehilangan.

Mungkin ia hanya sedang memetik dirinya kembali dari tempat yang tak pernah sungguh-sungguh memberinya kedudukan.



Topan Arif
Malang, 8 September 2026


Minggu, 06 September 2026

HELEH KONTOL

Kau mengaku lanang sejati—
padahal keberanianmu
hanya gagah di cangkem,
kecut di hadapan kenyataan.

Mulutmu mendirikan kerajaan:
janji menjadi mahkota,
alasan menjadi singgasana.
Begitu tindakan mengetuk pintu,
kau mendadak tak punya rumah.

Katamu, “Aku beda.”
Memang.
Begitu jauhnya
jarak antara ucapan
dan kesanggupanmu.

Kau menabur janji
seperti saudagar menabur harga,
lalu memanen alasan
seperti itu satu-satunya
hasil yang bisa kau banggakan.

Heleh, kontol.

Kau bicara harga diri
seolah martabat pusaka,
padahal setiap janji yang kau ingkari
kau gadaikan dengan tangan sendiri.

Kau menjual kesetiaan
dengan suara lantang,
sementara hatimu
berpintu putar.

Lalu ketika dustamu
menjulang setinggi menara,
kau bersembunyi di balik:

“Aku mung manungsa.”

Iyo.

Manungsa duwe salah.
Kowe duwe pola.

Jangan tuduh takdir
atas janji yang kau khianati.
Jangan salahkan keadaan
atas kegagalan yang kau rawat.

Sebab lelaki sejati
tak perlu meniup terompet
untuk mengumumkan kejantanannya.

Ia melakukan.

Yang lain cuma cangkem—
riuh seperti pasar,
tetapi ketika ditimbang,
isinya angin.

Heleh, kontol.




Topan Arif
Malang, 17 Juli 2026

DUNIA TERBALIK

— sebuah satire tentang cinta yang salah membaca kebebasan —

Katanya, perempuan kini telah merdeka.

Tak perlu lelaki,
tak perlu bahu,
tak perlu tangan yang mengulurkan pulang.

Ia telah menjadi negeri berdaulat—
memiliki konstitusi atas tubuhnya sendiri,
dan lelaki hanyalah imigran
yang harus mengantongi visa
setiap kali ingin masuk ke hatinya.


Sebab di negeri yang katanya merdeka itu,
lelaki justru diwajibkan
menjadi rakyat jelata:

membayar pajak kesabaran,
menyetor upeti pengertian,
dan berlutut di hadapan singgasana
yang bahkan tak mengaku dirinya kerajaan.

Ia harus mengerti
ketika perempuan sedang marah,
memaafkan ketika perempuan bersalah,
diam ketika perempuan melukai,
dan tetap tersenyum
agar egonya tidak merasa terancam.

Bukankah indah?

Satu pihak diberi kebebasan
untuk menjadi dirinya sendiri;
pihak lain diberi kebebasan
untuk mencintainya
dengan syarat kehilangan dirinya sendiri.

Lelaki tak boleh menangis—
itu dianggap lemah.

Tak boleh mengeluh—
itu dianggap tak dewasa.

Tak boleh pergi—
itu dianggap tak setia.

Tetapi perempuan boleh berkata,

“Aku begini karena aku perempuan.”

Dan kalimat itu, rupanya,
adalah kartu bebas masuk
bagi segala dosa
yang tak boleh dimiliki lelaki.

Betapa progresifnya zaman ini:

rantai lama dipotong
dari pergelangan perempuan,
lalu ditempa kembali
menjadi kalung di leher lelaki.

Yang satu menyebutnya emansipasi.
Yang lain menyebutnya cinta.

Padahal dari kejauhan,
keduanya tampak seperti satu hal:

perbudakan
yang sudah belajar
memakai bahasa yang lebih indah.

Dan lelaki itu masih berlutut—

bukan karena ia tak punya harga diri,
melainkan karena sejak kecil
ia diajari bahwa mencintai perempuan
berarti menjadi tempat sampah
bagi segala badai
yang tak ingin ia akui sebagai miliknya.

Ironisnya,

ketika ia akhirnya berdiri
dan berkata,

“Aku juga manusia,”

ia justru dituduh
tidak memahami perempuan.

Mungkin benar.

Sebab di dunia yang terbalik,

memahami perempuan berarti memaklumi,
sedangkan memahami lelaki
berarti menuntutnya diam.

Lalu mereka menyebut hubungan itu
setara.

Sungguh sebuah lelucon yang sempurna:

dua orang berdiri di altar cinta,

tetapi hanya satu
yang boleh menjadi manusia.



Topan Arif
Malang, 6 September 2026

Judi Online

Kau tak pernah menjanjikan cinta,
aku saja yang terlalu pandai
mengubah dusta menjadi peluang.

Kupasang seluruh rindu
pada namamu—
sebab manusia memang makhluk ganjil:
rela bangkrut demi kemungkinan
yang bahkan tak pernah ditawarkan.

Pesanmu kusebut jackpot,
diammu kusebut fluktuasi,
pengkhianatan kusebut risiko,
dan kebodohanku sendiri
kusebut kesetiaan.

Betapa canggihnya cinta:
ia mampu membuat kehancuran
terlihat seperti investasi.

Aku terus menekan ulang,
meski saldo kewarasan menipis,
meski hati telah memberi peringatan:

permainan ini dirancang agar kau kalah.

Tapi bukankah begitu manusia mencintai?
Mengetahui dirinya sedang dibodohi,
lalu menyebutnya takdir.

Dan kau—
tetap menjadi bandar paling indah
yang tak pernah memintaku berjudi.

Akulah yang datang membawa modal,
mempertaruhkan harga diri,
lalu pulang dengan satu kemenangan:

kesadaran bahwa cinta paling mahal
sering kali adalah cinta
yang kita beli sendiri
dengan kebodohan.




Topan Arif
Malang, 6 September 2026

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...