Aku melihatmu mengambil sebatang keretek.
Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya.
Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan tersembunyi.
Aku melihatmu menyalakan korek lalu menghisapnya lembut.
Aku melihatmu menghembuskan kepulan asap seperti penat,
yang mengepul membentuk karbon monoksida jahat dalam lelah otak.
Aku kembali melihatmu menghisap keretekmu,
kamu menikmati setiap miligram tar dan nikotin yang terbakar perlahan.
Asap serupa nafas seputih kanvas memenuhi bilik jantungmu,
menginfeksi setiap detak dari rindu yang menggerutu,
sesak berdesak memberontak menggetar sulur senar saraf pada otak,
gemuruhnya serupa kata-kata bijak dalam sajak sejakmu tak beranjak.
Aku melihatmu menghabiskan malam dengan segelas kopi dan putung rokok berbatang-batang.
Aku harap murung dalam anganmu menghilang beriringan dengan sirna karbon monoksida di udara.
Pahit kopi menyisakan sedikit rasa manis di tiap seruputan,
memunculkan lesung pipi pada senyuman di raut wajahmu yang menawan.
Kini aku memahami setiap kepulan asap kopi dan percikan bara api di sebatang keretek aktifmu.
Aku mengerti beban pada tiap hempasan monoksida yang meninggalkan bekas nikotin di bibir tipismu.
Aku tidak berjanji bisa menggantikan kopi untuk menghangatkanmu,
aku juga tidak berjanji untuk menggantikan keretek favoritmu yang selalu menghitamkan bibirmu.
Aku hanya ingin menjadi bahu untuk kepalamu bersandar setelah habis keretekmu dan jeda dari seruputan kopi panasmu.
Topan Arif
Tulungagung, 16 November 2024
Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Upon the Ruins of Mine Own Soul
Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...
-
Setelah kamu pergi... Pertanyaan yang tersisa masih sama... "𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮 ?" Namun...
-
Aku kira aku telah usai denganmu, namun diam-diam, langkahku masih hafal arah pulang ke tempat yang selalu menyimpan namamu. Aku hidup ...
-
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek. Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya. Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan ter...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar