▼

Rabu, 26 Agustus 2026

ALTAR MATA

Kita hidup di zaman
ketika harga diri membutuhkan penonton.

Sedikit kulit—
ribuan mata lapar.

Sedikit lekuk—
ribuan jempol bersujud.

Lalu kehampaan
diberi nama percaya diri.

Belahan dada menjadi umpan,
kamera menjadi altar,
dan tatapan laki-laki
menjadi mata uang
yang diam-diam mengukur nilai diri.

Tak perlu pikiran.
Tak perlu kedalaman.
Cukup terlihat.

Sebab manusia modern
lebih takut tidak diinginkan
daripada tidak mengenal dirinya sendiri.

Like menjadi doa.
Komentar menjadi pengakuan.
Algoritma menjadi Tuhan
yang menentukan siapa layak dipuja
dan siapa layak dilupakan.

Betapa ironis—
mengaku memiliki tubuh sendiri,
namun membiarkan mata orang lain
menentukan nilainya.

Hari ini kau dipandang.
Besok mereka menemukan tubuh lain.

Begitulah pasar bekerja:

yang lama ditinggalkan,
yang baru dipuja,
dan yang kehilangan perhatian
mulai mempertanyakan keberadaannya sendiri.

Pada akhirnya,
bukan pakaian yang paling banyak terlepas.

Melainkan identitas.

Dan ketika layar padam,
kerumunan pergi,
algoritma berhenti menyebut namamu—

kau akan berhadapan
dengan satu kenyataan paling kejam:

Jika tak seorang pun menginginkanmu,
apakah kau masih tahu
bagaimana mencintai dirimu sendiri?



Topan Arif
Malang, 26 Agustus 2026

Selasa, 25 Agustus 2026

ELEGΔ° BAGI YANG TAK KEMBALI

Kau pergi,
dan aku tinggal bersama sunyi
yang hafal namamu lebih baik dariku.

Kini ada seseorang
yang memelukmu tanpa rasa kehilangan.
Sedang aku—
memeluk kenangan seperti bara,
tahu ia membakar,
namun tak sanggup melepaskannya.

Aku tidak membencimu.
Justru itu yang paling kejam:
hatiku masih menyediakan tempat
bagi seseorang
yang telah membangun rumah
di dada orang lain.

Rindu kini bukan lagi jalan pulang.
Ia hanya luka
yang datang malam-malam,
duduk di samping ranjangku,
lalu mengingatkanku
bahwa namamu masih hidup
di tempat yang tak lagi menjadi milikmu.

Jika kelak kau mengingatku,
jangan mencari.

Biarkan aku menjadi bagian
dari masa lalu yang kau lewati
tanpa perlu kau tengok kembali.

Sebab aku sudah mengerti:

beberapa cinta tidak berakhir
karena kehilangan rasa,
melainkan karena salah satu hati
telah menemukan tempat lain
untuk berhenti.

Dan malam ini,
aku berhenti menunggumu.

Bukan karena rinduku telah padam—

aku hanya akhirnya paham
bahwa tidak semua yang kita cintai
ditakdirkan untuk kembali.

Maka pergilah dengan bahagia.

Aku akan menyimpan namamu
di tempat paling sunyi dalam diriku—

tempat di mana sesuatu pernah hidup,
lalu tidak pernah benar-benar mati.



Topan Arif
Malang, 26 Agustus 2026

Senin, 24 Agustus 2026

KAU PINDAH, AKU TETAP DIAM

Kau telah pindah rumah, Kekasih—
membawa tawa,
membawa lelaki baru,
membawa hidup yang tak lagi menyebut namaku.

Baguslah.
Barangkali cinta memang sesederhana itu:
mengganti alamat,
lalu berpura-pura
tak pernah kehilangan rumah lama.

Aku?
Masih di sini.
Bukan menunggumu—
aku hanya belum sudi
menjadikan perempuan lain
sebagai obat
bagi luka yang kaulah penyebabnya.

Kau telah menemukan tangan baru
untuk menggenggam masa depan;
aku masih belajar
melepaskan tanganmu
dari masa lalu.

Tapi ada malam-malam tertentu
ketika kehilanganmu terasa begitu utuh:
aku pulang membawa lelah,
membuka pintu yang tak lagi menunggumu,
dan untuk sesaat—
aku masih ingin bercerita kepadamu
tentang hari yang baru saja kulewati.
Lalu aku ingat,
kau sudah menjadi rumah
bagi seseorang yang bukan aku.
Dan malam itu,
aku benar-benar mengerti—
yang hilang bukan hanya kekasih,
melainkan seseorang
yang dahulu membuat hidupku
terasa seperti tempat untuk pulang.

Tenanglah.
Aku tak akan kembali.
Tak akan mengusik rumah barumu.

Jika suatu malam
namaku tumbuh di sela sunyi dadamu,
jangan panggil aku.

Sebab mungkin aku masih mencintaimu,
tetapi aku telah belajar
bahwa mencintai seseorang
tidak selalu berarti
harus kembali kepadanya.

Dan bila kau bertanya
mengapa aku tetap sendiri,

jawabannya sederhana:

aku tidak sedang menunggumu.
Aku hanya sedang belajar
hidup tanpa seseorang
yang pernah kupikir
akan menua bersamaku.



Topan Arif
Malang, 25 Agustus 2026

ODE: KEPADA CANDRA

Wahai Candra,
mahkota pucat di kening malam,
jangan terlalu terang malam ini—
ada seorang lelaki
yang takut memejamkan mata.

Bukan karena gulita.

Ia takut pada mimpi
yang selalu mengembalikan
seorang gadis
dengan wajah yang pernah menjadi rumah.

Dahulu, senyumnya adalah fajar;
tatapnya, telaga tempat ia menenggelamkan
seluruh resah dan kesombongan.

Kini ia hanya masa lalu.

Namun cinta begitu kejam:
tubuh dapat pergi,
tetapi nama tinggal berakar
di dalam darah.

Maka lelaki itu berjaga.

Kopi menjadi persembahan,
asap menjadi doa,
dan jarum jam
mengiris malam
setetes demi setetes.

Sebab ia tahu—
tidur berarti bertemu kembali,
dan fajar berarti kehilangan
untuk kedua kalinya.

Wahai Candra,
jika malam ini matanya terpejam,
jangan bangunkan.

Biarkan gadis itu datang
untuk terakhir kalinya.

Biarkan ia memeluknya
di negeri mimpi
yang belum mengenal perpisahan.

Lalu, sebelum fajar merenggutnya,
biarkan ia berbisik:

“Aku masih mencintaimu.
Tetapi malam ini,
aku memilih hidup.”

Dan ketika pagi bertanya
mengapa bulan tampak pucat,
jawablah:

“Seorang lelaki telah berdamai
dengan kehilangan—
tanpa harus membunuh
cinta yang pernah menyelamatkannya.”



Topan Arif
Malang, 25 Agustus 2026

AKU INGIN MATI DALAM KEADAAN EREKSI

Aku ingin mati dalam keadaan ereksi.

Bukan karena penis harus dipuja,
bukan karena vagina harus disembah,
melainkan karena aku sedang mengejek zaman
yang begitu fasih membicarakan tubuh
tetapi gagap ketika ditanya tentang akal sehat.

Mereka tahu penis.
Mereka tahu vagina.
Mereka tahu kondom dan pelumas seks.

Tetapi ketika ditanya:

“Apa arti tanggung jawab?”

Mereka mendadak kehilangan bahasa.

Mereka berkata,
“Kami saling mencintai.”

Lalu tubuh dijadikan bukti cinta,
hasrat dijadikan keberanian,
kondom dijadikan solusi,
dan akal sehat ditinggalkan di luar kamar.

Lucu.

Untuk membuka celana
tidak diperlukan kedewasaan.

Tetapi untuk menghadapi akibatnya,
mereka berkata:

“Kami belum siap.”

Aku tidak membenci seks.
Aku tidak membenci tubuh.
Hasrat bukan dosa.

Yang menyedihkan adalah manusia
yang menyerahkan kemudi hidupnya
kepada satu organ
yang bahkan tidak punya akal.

Penis bukan raja.
Vagina bukan altar.
Kondom bukan surat nikah.
Pelumas seks bukan sertifikat kedewasaan.

Dan orgasme
bukan ijazah kehidupan.

Aku ingin mati dalam keadaan ereksi
agar orang-orang bertanya:

“Mengapa ereksi?”

Aku akan menjawab dari dalam tanah:

“Karena semasa hidupku
aku melihat terlalu banyak penis
yang lebih berani daripada pemiliknya.”

Mereka berani menyalakan hasrat,
tetapi takut menyalakan tanggung jawab.

Mereka berani mencintai tubuh,
tetapi belum tentu berani menerima konsekuensi.

Maka tulislah di batu nisanku:

«DI SINI TERBARING SEORANG LELAKI
YANG PERNAH MEMILIKI NAFSU,
PERNAH MENGENAL CINTA,
NAMUN BERUSAHA
AGAR AKAL SEHATNYA
TIDAK MATI LEBIH DULU.»

Dan tepat di bawahnya:

AKU INGIN MATI DALAM KEADAAN EREKSI.

Biar vulgar.

Sebab terkadang manusia
harus ditampar dengan kata yang membuatnya malu
agar ia kembali belajar
menghormati dirinya sendiri.



Topan Arif
Malang, 23 Agustus 2026

BALADA LELAKI YANG TAK PERNAH PULANG

Dengarlah kisah dari negeri jauh,
tentang seorang lelaki yang malang,
ia berlayar membawa rindu,
namun selalu pulang membawa perang.

Orang-orang di kedai tua berkata,
sambil menyesap pahitnya malam:

“Jangan jatuh cinta kepada perempuan yang terluka,
sebab kau mungkin pulang sebagai luka.”

Namun lelaki itu tertawa.

Ia percaya kepada matanya,
ia percaya kepada kata-kata,
dan lebih celaka dari segala percaya—
ia percaya dirinya mampu menyembuhkan siapa saja.

---

I

Pada suatu senja yang merah,
datang perempuan berambut panjang.

Matanya teduh seperti telaga,
tetapi dasarnya menyimpan jurang.

Ia berkata,

"Cintailah aku,
tetapi jangan pernah meninggalkanku."

Lelaki itu menjawab,

"Selama napasku masih ada,
aku akan tinggal."

Maka mereka menanam janji
di bawah pohon tua dekat perigi.

Tetapi cinta perempuan itu
bukan sungai yang mengalir tenang.

Ia adalah laut
yang setiap malam mencari badai.

Sedikit terlambat—
ia menangis.

Sedikit bertanya—
ia curiga.

Sedikit berjarak—
ia menganggap lelaki itu pergi.

Dan lelaki itu berkata:

"Ia hanya takut kehilangan."

Padahal ketakutan
yang tidak disembuhkan
dapat berubah menjadi rantai.

---

II

Tahun berikutnya datang perempuan lain.

Ia membawa tawa
seperti lonceng di musim semi.

Ia cantik.

Ia liar.

Ia tahu bagaimana membuat seorang lelaki
merasa menjadi satu-satunya manusia
di muka bumi.

Namun pada malam-malam tertentu,
ia menghilang tanpa kabar.

Ketika dicari, ia marah.

Ketika dibiarkan, ia kembali.

Ketika dipeluk, ia menangis.

Ketika dilepaskan, ia memohon.

Mereka seperti dua kapal
yang saling menabrak
hanya untuk memastikan
bahwa keduanya masih berlayar.

Orang-orang berkata:

“Tinggalkan perempuan itu!”

Tetapi lelaki tersebut menjawab:

"Cinta memang tidak mudah."

Ah, betapa sering manusia
menamai kehancuran sebagai perjuangan.

Mereka bertengkar sampai fajar,
berdamai ketika burung mulai bernyanyi.

Dan setiap kali cinta hampir mati,
mereka memberinya satu alasan
untuk hidup kembali.

---

REFRAIN

Ah, lelaki itu—
lelaki yang tak pernah pulang.

Berlayar mengejar cinta,
terdampar di pelabuhan kesedihan.

Ia menyalahkan badai,
ia mengutuk lautan,

tetapi tidak pernah bertanya:

siapa yang memilih berlayar
ketika langit sudah menghitam?

---

III

Kemudian datang perempuan ketiga.

Ia tidak banyak bicara.

Senyumnya kecil.

Langkahnya tenang.

Tidak ada petir dalam suaranya.

Lelaki itu berkata dalam hati:

"Inilah rumahku."

Namun malam pertama
ia menemukan pintu yang dikunci.

Malam kedua
ia menemukan pertanyaan.

Malam ketiga
ia menemukan dirinya sendiri
sedang diperiksa
seperti terdakwa di pengadilan.

"Dengan siapa kau tadi?"

"Mengapa pesanmu terlambat?"

"Siapa perempuan itu?"

"Mengapa kau tersenyum kepadanya?"

Lelaki itu mulai mengerti:

penjara tidak selalu terbuat dari besi.

Kadang ia terbuat dari rasa takut.

Kadang dari cemburu.

Kadang dari pelukan
yang terlalu erat
untuk disebut kasih sayang.

Ia hendak pergi.

Tetapi perempuan itu menangis.

Dan sekali lagi
lelaki itu tinggal.

Sebab ia mengira:

meninggalkan seseorang yang terluka
adalah sebuah kejahatan.

Ia belum tahu
bahwa menyelamatkan seseorang
dengan menghancurkan diri sendiri
bukanlah cinta.

Itu pengorbanan yang salah alamat.

---

IV

Sampai pada suatu malam
datanglah perempuan terakhir.

Ia tidak membawa bunga.

Tidak membawa air mata.

Tidak pula membawa janji.

Ia hanya membawa sebuah cermin.

Diletakkannya cermin itu
di hadapan lelaki tersebut.

"Lihatlah."

Lelaki itu melihat wajahnya sendiri.

"Apa yang kau lihat?"

Ia menjawab:

"Seorang lelaki yang selalu disakiti."

Perempuan itu tersenyum getir.

"Tidak."

"Lalu?"

"Seorang lelaki yang selalu memilih
perempuan yang harus diselamatkan."

Malam tiba-tiba sunyi.

Bahkan angin
seolah takut melewati jendela.

"Kau menyebut mereka gila."

"Karena memang begitu."

"Mungkin."

Perempuan itu menatapnya.

"Tetapi mengapa setiap kali badai datang,
kau justru membuka layar?"

Lelaki itu terdiam.

Untuk pertama kalinya
takdir tidak bisa dijadikan kambing hitam.

Masa lalu tidak bisa dijadikan alasan.

Dan perempuan-perempuan yang pernah ia cintai
tidak bisa lagi dijadikan terdakwa.

Sebab di dalam cermin itu
ia menemukan pelaku sebenarnya.

Dirinya sendiri.

---

REFRAIN

Ah, lelaki itu—
lelaki yang tak pernah pulang.

Bukan laut yang mengutuknya.

Bukan angin yang mencelakakannya.

Ia sendiri yang memilih pelabuhan
tempat kapal-kapal patah
dikuburkan.

Ia sendiri yang jatuh cinta
kepada perempuan-perempuan yang karam,

sebab di antara reruntuhan
ia dapat memainkan peran
sebagai penyelamat.

---

V

Perempuan terakhir kemudian berkata:

"Kau tidak mencintai kehancuran mereka."

"Kau mencintai perasaan
bahwa seseorang membutuhkanmu."

Lelaki itu menundukkan kepala.

Kalimat itu sederhana.

Namun lebih tajam
daripada seribu pisau.

Ia teringat perempuan pertama.

Perempuan kedua.

Perempuan ketiga.

Betapa berbeda wajah mereka.

Betapa sama luka yang dibawanya.

Dan betapa sama pula lelaki
yang selalu datang
membawa dirinya sendiri.

Saat itu ia mengerti:

barangkali bukan perempuan-perempuan itu
yang selalu gila.

Barangkali ia
yang selalu mencari kegilaan
karena ketenangan membuatnya merasa asing.

---

VI

Pagi datang tanpa suara.

Perempuan terakhir pergi.

Tidak ada tangis.

Tidak ada kutukan.

Tidak ada pintu yang dibanting.

Hanya langkah kaki
yang perlahan menjauh
dari rumah lelaki itu.

Ia berdiri di ambang pintu.

Untuk pertama kalinya
ia tidak mengejar.

Ia membiarkan seseorang pergi
tanpa mengubah kepergian
menjadi perang.

Kemudian ia melihat laut.

Laut yang selama bertahun-tahun
ia jadikan kambing hitam.

Ia tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya
ia tidak mengangkat layar.

Tidak mencari kapal.

Tidak mencari perempuan.

Tidak mencari badai.

Ia pulang.

---

EPILOG

Maka jika kelak
kau bertemu lelaki di kedai tua
yang berkata:

“Aku selalu mendapatkan perempuan gila.”

Jangan buru-buru kasihan.

Dengarkan sampai habis kisahnya.

Sebab mungkin ia bukan korban.

Mungkin ia seorang pelaut
yang terlalu mencintai karam.

Mungkin ia bukan lelaki
yang selalu disakiti cinta.

Mungkin ia hanya lelaki
yang belum pernah belajar
membedakan cinta
dengan kebutuhan untuk dibutuhkan.

Dan jika ia bertanya:

"Mengapa aku selalu mendapatkan perempuan seperti itu?"

Jawablah perlahan:

“Bukan mereka yang selalu menemukanmu,
kawan.

Kamulah yang selalu menemukan mereka.”

Lalu biarkan ia diam.

Biarkan ia menatap laut.

Biarkan ia mengingat
seluruh kapal yang pernah karam.

Sebab ada lelaki
yang baru mengenal rumah
setelah terlalu lama
menjadi penghuni badai.

Dan ada cinta
yang baru dapat ditemukan
setelah seseorang berhenti
mencari seseorang untuk diselamatkan.

Demikianlah balada seorang lelaki
yang sepanjang hidupnya berlayar mencari cinta—

hingga akhirnya ia mengerti
bahwa perempuan yang paling lama ia tinggalkan
adalah dirinya sendiri.




Topan Arif
Malang, 24 Agustus 2026

Minggu, 23 Agustus 2026

BEDEBAH YANG MEMBAKAR RUMAHNYA SENDIRI

NTT mengguncang.

Bumi bergeser,
rumah-rumah roboh,
debu menelan nama-nama,
dan manusia berlari
mencari keselamatan
dari tanah yang mendadak
kehilangan keseimbangannya.

Sementara di tempat lain—

SULAWESI TERBAKAR.

Api merambat di antara pepohonan
seperti kabar buruk
yang sudah terlalu lama disembunyikan.

KALIMANTAN TERBAKAR.

Hutan menghitam.

Langit berubah menjadi kain kafan
yang digantung di atas kepala rakyat.

PAPUA TERBAKAR.

Dan di sana,
pohon-pohon tumbang
sebelum sempat mengerti
mengapa manusia
begitu rakus terhadap rumahnya sendiri.

Lalu LOMBOK—

bara menjilat tanah,
asap menutup langit,
dan kita kembali menyaksikan
negeri ini kehilangan sedikit demi sedikit
apa yang seharusnya diwariskan.

Lalu datanglah para BANGSAT
dengan wajah penuh simpati.

Datang membawa kamera.

Datang membawa pidato.

Datang membawa kata-kata:

“Prihatin.”

Prihatin, katanya.

Sial.

Kalau memang prihatin,
mengapa setelah kamera dimatikan
hutan kembali dihitung
seperti angka dalam buku kas?

Kalau memang cinta tanah air,
mengapa tanah air
selalu terasa seperti barang lelang?

Bajingan.

Betapa mudahnya mengucapkan
“demi rakyat”

ketika yang dimaksud
bukan rakyat yang sedang menghirup asap,

melainkan keuntungan
yang sedang masuk ke rekening.

Kalian menyebutnya pembangunan.

Aku menyebutnya
keserakahan yang diberi jas,
diberi meja,
diberi stempel,
lalu disuruh tersenyum di depan kamera.

Anjing!

Hutan bukan angka.

Gunung bukan saham.

Sungai bukan tempat
membuang dosa.

Tanah bukan karpet
yang bisa kalian gulung
dan bawa pulang.

Tapi kalian bertingkah
seolah negeri ini
adalah warisan bapak kalian.

Bedebah.

Kalian membakar hutan,
lalu menyalahkan musim.

Kalian mengeruk bumi,
lalu menyalahkan alam.

Kalian merusak keseimbangan,
lalu ketika bencana datang,

kalian menunjuk langit
dan berkata:

“Takdir.”

Takdir?

Jangan jadi pengecut.

Jangan sembunyikan dosa manusia
di balik nama Tuhan.

Gempa adalah bencana.

Tetapi penderitaan yang diperparah
oleh keserakahan, kelalaian,
dan tata kelola yang buruk—

itu bukan sekadar takdir.

Itu tanggung jawab manusia.

Dan kalau ada yang merasa tersinggung
oleh kalimat ini,

bagus.

Memang harus tersinggung.

Sebab negeri yang terbakar
tidak membutuhkan
lebih banyak orang yang tersenyum sopan.

Negeri ini membutuhkan
orang-orang yang berani berkata:

“KALIAN SALAH!”

Kepada para bedebah
yang menjadikan hutan sebagai mesin uang:

KALIAN SALAH!

Kepada para bajingan
yang melihat penderitaan rakyat
sebagai statistik:

KALIAN SALAH!

Kepada manusia-manusia rakus
yang mengira bumi diciptakan
untuk menggemukkan rekening:

KALIAN SALAH!

Dan kepada siapa pun
yang menggunakan nasionalisme
sebagai tameng
agar keserakahannya tidak disentuh—

JANGAN BICARA TENTANG CINTA TANAH AIR
KALAU TANAHNYA SENDIRI
KAU BIKIN MATI!

Kalian berteriak:

“INDONESIA HARGA MATI!”

Harga?

Ya.

Ternyata memang ada harganya.

Hutan punya harga.

Gunung punya harga.

Pantai punya harga.

Tanah punya harga.

Bahkan penderitaan rakyat
barangkali sudah masuk
ke dalam tabel perhitungan kalian.

Sialan.

Sejak kapan
ibu pertiwi
menjadi barang dagangan?

Sejak kapan
merah putih
menjadi dekorasi
di atas meja mereka
yang sedang membagi-bagi
isi perut negeri?

Aku muak.

Muak dengan nasionalisme palsu.

Muak dengan pidato
yang lebih panjang daripada umur hutan
yang mereka habiskan.

Muak dengan manusia
yang menyebut dirinya patriot
tetapi meninggalkan bumi
dalam keadaan sekarat.

Binatang!

Bahkan binatang
tidak membakar seluruh rumahnya
demi memiliki lebih banyak kandang.

Bahkan binatang
tidak menebang hutan
hanya untuk membeli
kemewahan berikutnya.

Tapi manusia?

Manusia punya ijazah.

Punya jabatan.

Punya perusahaan.

Punya kuasa.

Dan tetap bertingkah
seperti binatang yang diberi kalkulator.

NTT mengguncang!

Sulawesi membara!

Kalimantan menghitam!

Papua terbakar!

Lombok menjadi bara!

Dan kalian masih bertanya:

“Mengapa rakyat marah?”

KARENA KAMI BUKAN BATU!

KAMI PUNYA DARAH!

KAMI PUNYA RUMAH!

KAMI PUNYA ANAK!

KAMI PUNYA MASA DEPAN!

DAN KALIAN TIDAK BERHAK
MEMBAKAR MASA DEPAN KAMI
HANYA KARENA KALIAN
TERLALU SERAKAH!

CUKUP!

CUKUP MENJADIKAN KAMI
PENONTON!

CUKUP MENJADIKAN HUTAN
KORBAN!

CUKUP MENJADIKAN BUMI
MESIN UANG!

CUKUP MEMAKAI
MERAH PUTIH
UNTUK MENUTUPI
TANGAN-TANGAN YANG KOTOR!

DENGARKAN!

INDONESIA BUKAN PERUSAHAAN PRIBADI!

INDONESIA BUKAN WARISAN OLIGARKI!

INDONESIA BUKAN LADANG
UNTUK PARA BEDEBAH
MEMUASKAN KESERAKAHANNYA!

Indonesia adalah
tanah tempat kami dilahirkan.

Tanah tempat ibu kami berdiri.

Tanah tempat bapak kami bekerja.

Tanah tempat anak-anak kami
akan belajar bermimpi.

Dan demi Tuhan—

JANGAN BAKAR RUMAH
YANG AKAN DITINGGALI
ANAK-ANAK KAMI!

Kalau kalian masih menyebut ini
tanah air,

maka berhentilah memperlakukannya
seperti barang dagangan.

Kalau kalian masih menyebut diri
nasionalis,

maka lindungilah tanahnya.

Kalau kalian masih mengaku
pemimpin,

maka berdirilah di depan rakyat
ketika api datang—

bukan berdiri di belakang meja
ketika keuntungan datang.

Sebab suatu hari nanti
anak-anak kita akan bertanya:

“Siapa yang membakar negeri ini?”

Dan jangan jawab:

“Bencana alam.”

Katakan yang sebenarnya.

Katakan dengan jujur.

Bahwa sebagian luka ini
lahir dari tangan manusia.

Dari keserakahan.

Dari pembiaran.

Dari kekuasaan
yang terlalu lama merasa kebal.

Dari manusia-manusia
yang lupa satu hal:

BUMI TIDAK PERNAH MENJADI MILIK KITA.

KITA HANYA MENUMPANG.

Dan kepada para bajingan
yang masih merasa
bisa membeli seluruh negeri—

dengarkan baik-baik:

KALIAN BOLEH MEMBELI TANAH.

KALIAN BOLEH MEMBELI HUTAN.

KALIAN BOLEH MEMBELI GUNUNG.

KALIAN BOLEH MEMBELI GEDUNG.

KALIAN BOLEH MEMBELI KURSI.

TAPI KALIAN TIDAK AKAN PERNAH
MEMBELI HARGA DIRI
SEORANG RAKYAT
YANG SUDAH TERLALU LAMA
DIPAKSA DIAM!

Karena ketika rakyat akhirnya berteriak—

bukan hutan saja yang bergema.

SELURUH INDONESIA AKAN MENDENGAR!

Dan kami akan berkata:

BAHWA TANAH AIR INI
BUKAN MILIK PARA ANJING
YANG PALING RAKUS!

BUKAN MILIK PARA BAJINGAN
YANG PALING KUAT!

BUKAN MILIK PARA BEDEBAH
YANG PALING KAYA!

INDONESIA ADALAH RUMAH KITA!

DAN RUMAH INI
TIDAK AKAN KAMI BIARKAN
KALIAN BAKAR
DEMI KEUNTUNGAN
KALIAN SENDIRI!

CUKUP!

CUKUP!

CUKUP!

KALIAN SUDAH TERLALU LAMA
MEMBAKAR RUMAH KAMI!

DAN HARI INI—

KAMI TIDAK LAGI
MENANGIS DI DEPAN API.

KAMI BERDIRI.

KAMI MENUNJUK.

DAN KAMI BERTERIAK:

INI TANAH AIR KAMI, BEDEBAH!

BUKAN LADANG KEUNTUNGAN KALIAN!




Topan Arif
Malang, 24 Agustus 2026

Tidak Semua Laut Ingin Ditemukan


Ia adalah laut
yang pernah karam
di dalam dirinya sendiri.

Pernah suatu hari
ia mempercayakan seluruh pantainya
kepada sebuah kapal—
lalu kapal itu berlayar
meninggalkan bangkai
di dasar dadanya.

Sejak saat itu
ia tidak lagi percaya pada pelabuhan.

Ia menjadi laut
yang menyimpan badai
di balik permukaan tenang.

Kapal-kapal datang
membawa cahaya,
membawa jangkar,
membawa tangan-tangan
yang ingin menyelamatkannya.

Tetapi ia menenggelamkan semuanya.

Bukan karena ia kejam.

Ia hanya terlalu hafal
bagaimana rasanya
ditinggalkan setelah diselamatkan.

Maka setiap layar putih
yang mendekati cakrawalanya
dibacanya sebagai ancaman.

Setiap tangan
yang mengulurkan pertolongan
dicurigainya menyimpan pisau.

Setiap janji
yang terdengar seperti rumah
membuatnya mengingat
reruntuhan.

Ironis—

ia menginginkan seseorang
yang berani mengarungi dirinya,

tetapi ketika seseorang datang,
ia mengirim badai
untuk menguji
seberapa jauh ia sanggup bertahan.

Dan ketika kapal itu pecah,
ia berkata:

“Lihat?
Aku sudah tahu
semua akan pergi.”

Padahal ia lupa—

kapal itu tidak selalu pergi.

Kadang,

dialah yang membuatnya karam.

Ia terlalu lama hidup
dengan kewaspadaan
hingga mengira ketakutan
adalah intuisi.

Terlalu lama memeluk luka
hingga mengira luka
adalah identitas.

Terlalu sering disakiti
hingga setiap kelembutan
terasa seperti tipu daya
yang sedang menyamar.

Maka laut itu semakin dalam.

Semakin gelap.

Semakin sulit disentuh.

Dan di dasarnya,
jauh di bawah riuh ombak,
masih tinggal seorang perempuan
yang sebenarnya ingin ditemukan.

Ia masih ingin ada seseorang
yang berkata:

"Aku tidak datang
untuk menaklukkanmu."

"Aku hanya ingin berlayar
tanpa merusak pantaimu."

Tetapi perempuan itu
terlalu takut
untuk mempercayai suara tersebut.

Maka ia kembali mengangkat badai.

Kembali menghitamkan langit.

Kembali menenggelamkan
kapal yang datang
membawa cahaya.

Sampai suatu hari
laut itu benar-benar sunyi.

Tidak ada kapal.

Tidak ada layar.

Tidak ada tangan
yang mengetuk cakrawala.

Hanya ombak
yang pulang kepada dirinya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya
ia mengerti sesuatu
yang paling menyakitkan:

bukan semua kapal
datang untuk menjarah pantainya.

Ada yang datang
hanya untuk berlabuh.

Ada yang datang
dengan jangkar kesetiaan.

Ada yang datang
tanpa niat menaklukkan.

Namun ia telah begitu sibuk
melindungi dirinya dari karam,

hingga tidak sadar—

ia sedang menenggelamkan
orang-orang yang datang
untuk menyelamatkannya.

Dan kelak,
jika sebuah kapal kembali muncul
di cakrawala,

mungkin ia tidak perlu
menghentikan badai sepenuhnya.

Cukup jangan lagi
menganggap setiap layar
sebagai musuh.

Sebab cinta bukan tentang
menemukan kapal
yang tidak pernah karam.

Cinta adalah menemukan seseorang
yang tahu lautmu berbahaya,

namun tetap memilih berlayar—

bukan karena ia bodoh,

melainkan karena
untuk pertama kalinya
ia melihat sesuatu
di balik badaimu:

seorang perempuan
yang sebenarnya tidak ingin diselamatkan.

Ia hanya ingin diyakinkan
bahwa kali ini,

ketika ia akhirnya berani
menepi,

kapal itu
tidak akan meninggalkannya
sendirian di pantai.



Topan Arif
Malang, 24 Agustus 2026

JANGAN JADIKAN AKU TERDAKWA SEBELUM AKU BERSALAH


Aku tidak sedang meminta
sebuah kepercayaan
yang turun dari langit
tanpa sebab.

Tidak.

Aku hanya meminta satu hal sederhana:

beri aku kesempatan
untuk menjadi bukti
dari niatku sendiri.

Sebab aku tahu,
kau punya tembok.

Aku tahu ada luka
yang membuatmu belajar
bahwa tidak semua tangan
yang datang untuk menggenggam
benar-benar berniat menjaga.

Aku tahu.

Dan aku tidak pernah datang
untuk merobohkannya.

Aku hanya berdiri di depannya,
mengetuk perlahan,
lalu berkata:

"Aku di sini."

Sesederhana itu.

Tapi rupanya cinta hari ini
memang punya prosedur yang panjang.

Harus ada penjelasan.
Harus ada kepastian.
Harus ada bukti.
Harus ada saksi.
Harus ada jaminan.

Seolah-olah aku sedang melamar
sebuah negara,
bukan mencintai seorang manusia.

Lucu.

Kau ingin aku meyakinkanmu
bahwa aku berbeda,

tetapi setiap kali aku mendekat,
kau sudah lebih dulu menyiapkan
alasan mengapa aku pasti sama
dengan mereka.

Lalu bagaimana aku harus menang?

Bila aku diam,
kau bilang aku menyembunyikan sesuatu.

Bila aku menjelaskan,
kau bilang aku sedang membela diri.

Bila aku mendekat,
kau takut aku akan melukaimu.

Bila aku mundur,
kau bertanya
mengapa aku berubah.

Lalu sebenarnya
kau ingin aku menjadi apa?

Seorang kekasih?

Atau terdakwa
yang kebetulan memakai
nama orang yang kau cintai?

---

Aku tidak marah.

Setidaknya,
aku mencoba untuk tidak marah.

Karena aku tahu,
kadang seseorang menjadi dingin
bukan karena sudah tidak peduli,

melainkan karena
terlalu lama peduli
tanpa tahu harus berbuat apa.

Dan mungkin itulah aku
beberapa waktu terakhir.

Lelah.

Bukan lelah mencintaimu.

Aku lelah menjelaskan
bahwa diamku bukan pengkhianatan.

Aku lelah menjelaskan
bahwa sibuk bukan berarti berpaling.

Aku lelah menjelaskan
bahwa ketika kepalaku penuh
oleh pekerjaan dan hidup,

aku tidak sedang mencari
perempuan lain.

Aku hanya sedang berusaha
tidak kehilangan diriku sendiri.

Tapi tentu saja—

dalam dunia yang penuh prasangka,
keheningan selalu terdengar
lebih mencurigakan
daripada kebohongan.

---

Lalu datanglah malam itu.

Satu nama.

Satu panggilan.

Satu percakapan kecil.

Dan tiba-tiba
aku menjadi lelaki
yang harus menjelaskan
sesuatu yang bahkan
tidak pernah kulakukan.

Aku diam.

Bukan karena bersalah.

Aku diam
karena aku tidak tahu
bagaimana cara membuktikan
bahwa tidak ada apa-apa
di tempat yang bahkan
tidak pernah kuisi apa-apa.

Dan anehnya—

semakin aku diam,
semakin banyak cerita
yang tumbuh di kepalamu.

Betapa luar biasanya pikiran manusia.

Ia mampu membangun perselingkuhan
dari sebuah sapaan.

Mampu menciptakan pengkhianatan
dari sebuah kemungkinan.

Mampu membuat seseorang
terlihat bersalah
hanya karena ia tidak cukup pandai
membela dirinya sendiri.

Sungguh, cinta kadang
lebih kejam daripada pengadilan.

Di pengadilan,
setidaknya seseorang
dianggap tidak bersalah
sampai terbukti bersalah.

Dalam cinta,

kadang kita dianggap bersalah
hanya karena pernah ada
orang lain yang berbuat jahat.

---

Dan di titik itu,

aku mulai marah.

Bukan kepadamu.

Pada keadaan.

Pada masa lalu
yang bahkan bukan milikku.

Pada luka-luka
yang diwariskan kepadaku
tanpa pernah kukenal
siapa pelakunya.

Aku ingin berteriak:

AKU BUKAN DIA.

Aku tidak pernah memintamu
melupakan masa lalu.

Aku hanya ingin
jangan gunakan masa lalu
untuk menulis masa depanku.

Aku tidak ingin membayar
utang yang tidak pernah kubuat.

Aku tidak ingin dihukum
atas dosa yang tidak pernah kulakukan.

Dan paling menyakitkan—

aku tidak ingin
orang yang kucintai
menatapku seperti ancaman
ketika seluruh niatku
hanya ingin menjadi rumah.

---

Tapi setelah marah,

aku diam lagi.

Karena ada satu hal
yang akhirnya kupahami:

barangkali kau juga sedang takut.

Takut berharap.

Takut percaya.

Takut kembali memberikan seluruh hati
lalu mendapati bahwa sekali lagi
hati itu dikembalikan
dalam keadaan tidak utuh.

Maka aku tidak akan mencaci
ketakutanmu.

Aku hanya berharap
kau tidak menjadikannya
senjata untuk melukaiku.

Sebab ada perbedaan
antara menjaga diri
dan menghukum orang lain
karena pernah terluka.

Ada perbedaan
antara berhati-hati
dan menolak seseorang
sebelum mengenalnya.

Ada perbedaan
antara membutuhkan kepastian
dan menuntut pembuktian
setiap detik.

Dan ada satu hal
yang paling sering kita lupakan:

cinta tidak tumbuh
dari interogasi.

Ia tumbuh
dari waktu.

Dari kebiasaan kecil
yang diulang.

Dari seseorang yang tetap sama
ketika tidak sedang diawasi.

Dari seseorang yang tetap tinggal
ketika tidak sedang dipuji.

Dari seseorang
yang tidak perlu bersumpah
setiap hari
karena perilakunya
sudah lebih dahulu berbicara.

---

Jadi jangan percaya aku sekarang.

Serius.

Tidak perlu.

Aku tidak akan memaksa.

Simpan keraguanmu
kalau itu membuatmu merasa aman.

Simpan jarakmu
kalau itu yang membuatmu bisa bernapas.

Aku tidak akan mendobrak pintumu.

Aku tidak akan memaksa
kau membuka hati
hanya karena aku datang
dengan niat baik.

Sebab niat memang premis.

Tetapi—

konsistensi adalah kesimpulan.

Dan aku rela
membiarkan waktu
menulis kesimpulannya.

Bukan mulutku.

Bukan janjiku.

Bukan air mataku.

Bukan kata-kata manis
yang bisa dibuat siapa saja
ketika sedang takut kehilangan.

Biarkan waktu.

Biarkan ia menjadi hakim
yang tidak bisa disuap
oleh romantisme.

---

Namun jangan salah.

Aku juga manusia.

Aku bisa lelah.

Aku bisa kecewa.

Aku bisa terluka
meskipun wajahku tetap tenang.

Dan suatu hari nanti
mungkin aku berhenti mengetuk.

Bukan karena aku menemukan pintu lain.

Bukan karena ada seseorang
yang lebih menarik.

Bukan karena cintaku tiba-tiba mati.

Tetapi karena aku akhirnya mengerti:

tidak semua pintu
harus dibuka dengan cara dipaksa.

Ada pintu yang cukup
kita tunggu.

Dan ada pintu
yang pada akhirnya harus kita tinggalkan.

Bukan karena kita tidak mencintai
ruangan di baliknya,

melainkan karena
kita tidak bisa selamanya
berdiri di depan pintu
sambil mempertanyakan
apakah kita pantas masuk.

---

Maka jika suatu malam
kau tiba-tiba merasa
hidupmu sedikit lebih sunyi,

jangan buru-buru mencariku.

Mungkin sunyi itu
adalah bentuk kepergianku
yang paling sopan.

Aku tidak akan membuat keributan.

Tidak akan mengutuk.

Tidak akan berkata
"lihat, aku sudah bilang."

Aku hanya akan pergi
dengan membawa satu hal:

keyakinan bahwa aku pernah mencintaimu
dengan cara yang paling mampu kulakukan.

Meski tidak sempurna.

Meski kadang diam.

Meski pernah salah.

Meski pernah lelah.

Meski pernah ingin menyerah.

Tetapi tidak pernah
dengan niat mengkhianati.

Dan jika suatu hari
waktu akhirnya membuktikan
bahwa aku memang tulus,

aku tidak akan datang
untuk berkata,

"Aku benar."

Sebab cinta yang benar
tidak membutuhkan kemenangan.

Ia hanya membutuhkan
dua orang yang akhirnya sadar
bahwa mereka pernah hampir kehilangan
sesuatu yang sebenarnya
tidak sedang mereka lawan.

---

Jadi malam ini,

tidurlah.

Aku juga akan mencoba tidur.

Kau dengan segala ketakutanmu.

Aku dengan segala lelahku.

Kita biarkan malam
mengubur percakapan ini
untuk sementara.

Besok,

jika masih ada yang ingin dibicarakan,

kita bicarakan.

Jika masih ada yang ingin diperbaiki,

kita perbaiki.

Jika masih ada yang ingin diperjuangkan,

kita perjuangkan.

Tetapi jika ternyata
yang tersisa hanya saling curiga,

maka mungkin kita harus cukup dewasa
untuk mengakui:

cinta saja tidak selalu cukup
untuk membuat dua manusia
berhenti saling melukai.

Dan jika akhirnya aku harus pergi,

aku tidak akan mengatakan
bahwa kau adalah perempuan jahat.

Tidak.

Aku akan mengatakan:

kau adalah seseorang
yang pernah sangat takut kehilangan,

hingga tanpa sadar
kau hampir kehilangan
orang yang tidak pernah berniat pergi.

Dan aku?

Aku adalah lelaki
yang pernah begitu ingin tinggal,

hingga akhirnya belajar
bahwa tinggal pun
harus memiliki batas.

Sebab mencintaimu
tidak pernah menjadi masalah.

Yang menjadi masalah
adalah ketika aku harus terus-menerus
membuktikan bahwa aku pantas dicintai.

Aku tidak meminta kau percaya kepadaku.

Aku hanya meminta:

jangan hukum aku
atas luka yang bukan kubuat.

Jangan jadikan aku terdakwa
sebelum aku bersalah.

Dan jangan memintaku
menjadi obat
untuk luka yang bahkan
tidak pernah kubuka.

Karena bila kelak
aku benar-benar pergi,

aku ingin kau tahu—

aku bukan pergi
karena tidak mencintaimu.

Aku pergi
karena akhirnya aku mencintai diriku sendiri
cukup untuk mengerti:

bahwa cinta yang sehat
seharusnya menjadi tempat pulang,
bukan ruang sidang
yang tidak pernah selesai.



Topan Arif
Malang, 24 Agustus 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026

MONOLOG - AKU, BAJINGAN YANG TERDIDIK


Silakan duduk.

Jangan tegang.

Aku tidak akan menyakitimu.

Setidaknya—

tidak lagi secara langsung.

Aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa manusia tidak harus menggunakan pisau untuk membunuh seseorang.

Kadang cukup dengan janji.

Kadang cukup dengan diam.

Kadang cukup dengan berkata,

"Aku masih sayang."

ketika sebenarnya yang tersisa hanya rasa takut untuk terlihat sebagai penjahat.

Ah, aku memang lelaki yang sopan.

Aku tidak menghancurkan hati orang dengan cara kasar.

Aku melakukannya dengan etika.

Dengan tata bahasa yang baik.

Dengan kalimat lengkap.

Dengan senyum.

Dengan pelukan.

Dengan,

"Maaf, aku sedang banyak pikiran."

Betapa terpelajarnya kebiadabanku.

Aku tidak pernah mengatakan,

"Aku ingin menghancurkanmu."

Tidak.

Aku jauh lebih beradab.

Aku berkata,

"Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik."

Lalu pergi.

Kalimat yang luar biasa mulia, bukan?

Seolah-olah aku sedang melepaskanmu demi kebahagiaanmu.

Padahal sebenarnya aku hanya sedang mencari cara agar bisa pergi tanpa harus terlihat sebagai bajingan.

Dan hebatnya—

berhasil.

Kau menangis.

Aku terlihat dewasa.

Kau kehilangan.

Aku terlihat bijaksana.

Kau terluka.

Aku terlihat sedang menyelamatkanmu.

Lucu sekali.

Kadang kebohongan memang terdengar paling indah ketika dibungkus dengan bahasa yang santun.


Aku juga pernah berkata,

"Aku bukan lelaki sempurna."

Tentu saja.

Siapa yang meminta sempurna?

Yang mereka minta hanya jangan berkhianat.

Jangan berbohong.

Jangan mempermainkan perasaan.

Jangan menjadikan seseorang sebagai rumah sementara ketika kau sendiri sudah menyiapkan koper.

Ternyata permintaan sesederhana itu terlalu berat untuk lelaki sepertiku.

Jadi maaf.

Aku tidak sempurna.

Aku lebih buruk dari itu.

Aku konsisten.

Konsisten mengecewakan.

Konsisten datang ketika kesepian.

Konsisten pergi ketika bosan.

Konsisten meminta dimengerti tanpa pernah belajar memahami.

Konsisten meminta kesempatan kedua dengan dosa yang sama dan wajah yang sedikit lebih menyesal.

Aku memang punya komitmen.

Hanya saja, komitmenku adalah mengulangi kesalahan.


Kau tahu apa yang paling kusukai dari menjadi bajingan?

Aku selalu punya alasan.

Jika aku pergi—

aku sedang mencari jati diri.

Jika aku berbohong—

aku sedang menjaga perasaanmu.

Jika aku berubah—

keadaanlah yang memaksaku.

Jika aku menyakitimu—

aku juga sedang terluka.

Lihat?

Aku bahkan bisa membuat kejahatan terdengar seperti puisi.

Aku bisa menumpahkan bensin lalu menyebut api sebagai takdir.

Aku bisa menghancurkan rumah lalu menyebut reruntuhannya sebagai kenangan.

Aku bisa mengkhianati seseorang lalu menyebutnya "proses pendewasaan."

Betapa canggihnya manusia zaman sekarang.

Bahkan dosa pun sudah punya istilah yang lebih elegan.


Aku pernah ingin menjadi lelaki baik.

Sungguh.

Aku pernah membayangkan diriku sebagai lelaki yang pulang tepat waktu, menepati janji, menjaga seseorang seperti menjaga sesuatu yang sakral.

Tapi kemudian aku bertemu ego.

Kami akrab.

Sangat akrab.

Ia selalu membisikkan:

"Kau pantas mendapatkan yang lebih baik."

"Jangan terlalu terikat."

"Masih banyak yang lain."

"Kau lelaki, jangan terlihat membutuhkan."

Dan aku menurut.

Karena ternyata lebih mudah menjadi lelaki yang tidak peduli daripada lelaki yang harus bertanggung jawab atas perasaannya sendiri.

Bukankah begitu aturan tak tertulis menjadi lelaki hari ini?

Jangan menangis.

Jangan terlalu mencintai.

Jangan terlalu membutuhkan.

Jangan mengaku takut.

Jangan mengaku kesepian.

Jangan bilang kau hancur.

Jadilah keras.

Jadilah dingin.

Jadilah batu.

Lalu ketika semua orang pergi, berdiri sendirian di kamar dan pura-pura tidak apa-apa.

Hebat.

Kami menyebutnya kedewasaan.

Padahal sering kali itu hanya ketidakmampuan untuk mengatakan,

"Aku sebenarnya takut kehilanganmu."


Maka jangan heran kalau aku menjadi seperti ini.

Aku dibesarkan oleh gengsi.

Dididik oleh ego.

Didewasakan oleh kehilangan.

Dan dipoles oleh kebohongan agar terlihat seperti lelaki yang tahu apa yang ia lakukan.

Padahal aku tidak tahu apa-apa.

Aku hanya pandai berjalan dengan kepala tegak di atas reruntuhan yang kubuat sendiri.

Dan kalau kau bertanya apakah aku menyesal—

tentu.

Aku menyesal.

Tetapi jangan terlalu kagum.

Penyesalan tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik.

Kadang penyesalan hanyalah bentuk lain dari egoisme.

Kita menyesal bukan karena telah menyakiti seseorang.

Kita menyesal karena orang itu akhirnya pergi.

Ada perbedaan.

Dan aku tahu perbedaan itu terlambat.


Sekarang lihat aku.

Aku masih hidup.

Masih bekerja.

Masih tertawa.

Masih bisa bercanda seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Bukankah manusia memang luar biasa?

Bisa menghancurkan hati seseorang pada hari Senin,

lalu membeli kopi dengan santai pada hari Selasa.

Bisa membuat seseorang mempertanyakan harga dirinya,

lalu tidur nyenyak karena besok harus bekerja.

Aku bahkan pernah mengatakan,

"Semoga dia bahagia."

Betapa bajingannya aku.

Aku berharap dia bahagia setelah aku sendiri menjadi alasan mengapa ia sulit mempercayai seseorang.

Aku berharap dia menemukan lelaki baik setelah aku mengajarinya bahwa lelaki bisa mengatakan "selamanya" dan tetap pergi.

Sungguh.

Doaku memang indah.

Hanya saja, aku tidak pernah pantas menjadi bagian dari doanya.


Jadi jangan panggil aku korban.

Jangan romantisasi kebusukanku.

Jangan bilang aku hanya lelaki yang salah mencintai.

Tidak.

Aku tahu apa yang kulakukan.

Aku hanya terlalu pengecut untuk mengakuinya ketika semuanya masih bisa diperbaiki.

Aku bajingan.

Tetapi bukan bajingan yang tidak tahu dirinya bajingan.

Aku justru lebih menyedihkan.

Aku tahu.

Aku sadar.

Aku mengerti.

Dan tetap kulakukan.

Itulah yang membuatku jijik kepada diriku sendiri.

Sebab dosa paling besar bukan ketika manusia berbuat salah karena tidak tahu.

Tetapi ketika ia tahu bahwa sesuatu itu salah—

lalu tetap memilihnya.


Jadi, kalau suatu hari kau mendengar namaku disebut dalam sebuah percakapan,

jangan bela aku.

Jangan katakan,

"Sebenarnya dia orang baik."

Tidak perlu.

Biarkan aku menerima seluruh keburukanku tanpa kosmetik moral.

Katakan saja:

"Dia pernah dicintai seseorang dengan sangat tulus, dan dia membalasnya dengan menjadi dirinya sendiri."

Itu sudah cukup.

Dan jika suatu malam aku berdiri di depan cermin dan bertanya,

"Apa kau masih pantas dicintai?"

Aku tidak membutuhkan jawaban.

Sebab cermin tidak pernah berbohong.

Ia hanya memantulkan lelaki yang terlalu lama mengira bahwa kehilangan adalah hukuman.

Padahal bukan.

Hukuman terbesarku bukan kehilangan mereka.

Bukan kesepian.

Bukan penyesalan.

Bukan malam-malam panjang yang harus kulewati sendirian.

Hukumanku jauh lebih sederhana.

Aku harus hidup dengan pengetahuan bahwa pernah ada seseorang yang mencintaiku tanpa syarat—

dan aku mengajarinya untuk tidak pernah mencintai lelaki seperti aku lagi.

Dan suatu hari nanti, mungkin ia akan bertemu lelaki yang jauh lebih baik.

Lelaki yang tidak berbohong.

Tidak bermain-main.

Tidak pergi ketika keadaan sulit.

Lelaki yang membuatnya merasa aman.

Dan aku?

Aku akan tersenyum.

Tentu saja aku akan tersenyum.

Aku akan berkata,

"Syukurlah. Akhirnya dia bahagia."

Lalu ketika pintu kamar tertutup dan tidak ada seorang pun melihat,

aku akan menatap langit-langit sambil menyadari satu hal:

ternyata aku tidak kehilangan perempuan yang kucintai.

Aku kehilangan perempuan yang pernah mencintaiku meskipun aku belum pantas dicintai.

Dan sejak malam itu, aku tahu—

aku tidak takut sendirian.

Aku takut suatu hari aku benar-benar berubah menjadi lelaki baik,

sementara dia sudah terlalu sembuh untuk peduli.

Karena mungkin, itulah ironi paling kejam dari seorang bajingan:

ketika akhirnya ia belajar mencintai dengan benar, orang yang paling pantas menerima cintanya sudah tidak sudi menerimanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,

aku tidak punya siapa-siapa untuk disalahkan.

Tidak keadaan.

Tidak masa lalu.

Tidak cinta.

Tidak takdir.

Hanya aku.

Aku.

Bajingan yang selama ini kucari-cari alasannya.

Dan ternyata—

akulah alasannya.



Topan Arif

Malang, 14 Agustus 2026

MONOLOG - DIALOG TERAKHIR DENGAN TAKDIR


Kau masih terjaga?

Tentu.

Seorang lelaki sepertiku
tidak pernah benar-benar tidur.

Kami hanya memejamkan mata
setelah selesai berpura-pura kuat
sepanjang hari.

Besok pagi harus bekerja.

Ada tagihan.

Ada cicilan.

Ada orang tua yang semakin tua.

Ada pekerjaan yang tidak boleh kacau
hanya karena kehidupan pribadi sedang berantakan.

Ada orang-orang
yang tetap membutuhkan kita
meskipun kita sendiri
sudah tidak tahu
siapa yang dapat kita mintai pertolongan.

Itulah masalahnya menjadi lelaki dewasa.

Ketika masih muda,
kita mengira menjadi laki-laki
berarti memiliki keberanian.

Setelah dewasa,
kita baru tahu:

menjadi laki-laki sering kali berarti
tetap berjalan
meskipun kita tidak tahu
ke mana harus pergi.

Dan yang lebih menyedihkan—

tidak banyak orang bertanya
apakah kita masih sanggup.

Mereka hanya bertanya:

“Sudah beres?”

Sudah.

“Besok masuk?”

Masuk.

“Urusannya sudah selesai?”

Sudah.

“Kamu baik-baik saja?”

...

“Saya baik-baik saja.”

Kalimat paling pendek
yang pernah diciptakan manusia
untuk menyembunyikan perang.

Aku sudah sangat ahli mengucapkannya.


Dulu aku berpikir
bahwa hidup akan menjadi lebih mudah
ketika aku dewasa.

Ternyata tidak.

Masalah hanya berubah bentuk.

Dulu aku takut dimarahi orang tua.

Sekarang aku takut
tidak mampu menjadi orang tua
yang dapat dibanggakan.

Dulu aku takut kehilangan pacar.

Sekarang aku takut
gagal membangun rumah tangga.

Dulu aku takut tidak punya uang.

Sekarang aku takut
uang yang kupunya
tidak pernah cukup
untuk semua yang harus kutanggung.

Dulu aku takut sendirian.

Sekarang aku tahu
yang lebih menakutkan adalah
merasa sendirian
ketika secara hukum
kau masih memiliki keluarga.

Itu yang tidak pernah diajarkan
oleh siapa pun kepada kita.

Bahwa sebuah rumah
dapat tetap berdiri
sementara pernikahan
di dalamnya telah runtuh.

Bahwa dua orang
dapat tidur di ranjang yang sama
dan bangun
sebagai dua orang asing.

Bahwa seseorang
dapat menggenggam tanganmu
selama bertahun-tahun,

lalu suatu hari
melepaskannya
seolah-olah seluruh hidup
yang kalian bangun
hanyalah kesalahan
yang terlalu lama dipertahankan.


Aku pernah menikah.

Dan aku tidak malu mengatakannya:

aku gagal.

Ya.

Gagal.

Bukan kalimat yang mudah
diucapkan seorang lelaki.

Karena masyarakat menyukai
laki-laki yang berhasil.

Laki-laki yang mapan.

Laki-laki yang mampu menyediakan.

Laki-laki yang tidak banyak mengeluh.

Laki-laki yang pulang membawa solusi.

Tidak banyak yang mengajarkan
apa yang harus dilakukan
ketika seorang laki-laki
pulang membawa kegagalan.

Tidak ada buku petunjuk
untuk seorang suami
yang tidak mampu menyelamatkan
rumah tangganya.

Tidak ada pelatihan
untuk lelaki
yang harus mengembalikan cincin
yang dahulu ia sematkan
dengan keyakinan seumur hidup.

Tidak ada seragam
untuk seseorang
yang secara resmi telah kehilangan
keluarga yang pernah ia sebut
sebagai masa depan.

Maka kita memakai pakaian biasa.

Pergi bekerja.

Bertemu orang.

Makan siang.

Membalas pesan.

Tertawa seperlunya.

Lalu malam tiba.

Dan semua yang kita tahan
sepanjang hari
kembali duduk di samping kita.


Kau tahu apa yang paling menyakitkan?

Bukan ketika dia mengatakan
bahwa semuanya selesai.

Tetapi ketika aku pulang
dan menyadari—

aku tidak lagi memiliki seseorang
yang dapat kuceritakan
tentang bagaimana hariku berjalan.

Aku membuka telepon.

Tidak ada namanya.

Aku mengetik sesuatu.

Menghapusnya.

Mengetik lagi.

Menghapus lagi.

Kemudian meletakkan telepon.

Begitulah kesepian orang dewasa.

Bukan selalu tentang
tidak memiliki siapa-siapa.

Kadang hanya tentang
memiliki begitu banyak hal
yang ingin diceritakan,

tetapi tidak tahu
kepada siapa.


Dan jangan katakan kepadaku:

“Lupakan saja.”

Aku tahu.

Aku tahu hidup harus berjalan.

Aku tahu waktu tidak akan berhenti
hanya karena rumah tanggaku berakhir.

Aku tahu dunia tidak peduli
apakah malam tadi aku menangis
atau tidak.

Besok tetap Senin.

Alarm tetap berbunyi.

Pekerjaan tetap menunggu.

Atasan tetap meminta laporan.

Karyawan tetap membutuhkan keputusan.

Tagihan tetap datang.

Bensin tetap harus dibeli.

Makan tetap harus dibayar.

Dan kehidupan—

dengan kejamnya—

tetap berjalan
seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi.

Itulah sebabnya
banyak lelaki dewasa
menyimpan kehancurannya
dengan sangat rapi.

Kami tidak punya waktu
untuk berantakan.


Kadang aku iri
kepada mereka yang bisa berkata:

“Aku sedang tidak baik-baik saja.”

Aku tidak tahu bagaimana caranya.

Sejak kecil kami diajarkan:

jangan menangis.

Jangan mengeluh.

Jangan lemah.

Jadilah laki-laki.

Maka kami tumbuh
dengan kemampuan luar biasa:

menelan kesedihan
tanpa mengunyahnya.

Kami menelan penghinaan.

Menelan kegagalan.

Menelan perpisahan.

Menelan rasa takut.

Menelan kecewa.

Sampai suatu hari
perut batin kita penuh
dan tidak ada lagi ruang
untuk memasukkan apa pun.

Lalu kita disebut pemarah.

Dingin.

Tidak komunikatif.

Sulit dipahami.

Padahal mungkin
kita hanya terlalu lama
tidak memiliki tempat
untuk menjadi manusia.


Aku pernah duduk sendirian
di dalam mobil
setelah bekerja.

Mesin sudah mati.

Lampu sudah dimatikan.

Tetapi aku belum turun.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Entah berapa lama.

Bukan karena tidak ingin pulang.

Aku hanya tidak tahu
pulang ke mana.

Rumah?

Rumah itu sudah tidak terasa
seperti rumah.

Kantor?

Kantor bukan tempat pulang.

Masa lalu?

Masa lalu sudah menutup pintu.

Masa depan?

Masa depan belum mengenalku.

Jadi aku duduk di sana—

di dalam mobil yang gelap,

seorang lelaki dewasa
dengan pekerjaan,
pengalaman,
nomor rekening,
nomor telepon,
dan berbagai tanggung jawab,

tetapi tidak memiliki jawaban
atas satu pertanyaan sederhana:

“Untuk apa semua ini?”


Aku pernah menyalahkan diriku.

Berkali-kali.

Mungkin aku kurang baik.

Mungkin aku kurang sabar.

Mungkin aku terlalu sibuk bekerja.

Mungkin aku terlalu keras.

Mungkin aku tidak cukup romantis.

Mungkin aku tidak cukup kaya.

Mungkin aku terlalu banyak diam.

Mungkin aku terlalu banyak bicara.

Mungkin...

mungkin...

mungkin...

Betapa kejamnya pikiran manusia.

Ia mampu membuat seseorang
mengadili dirinya sendiri
tanpa seorang pun menjadi hakim.

Tetapi malam ini
aku ingin berhenti.

Berhenti menghukum diriku
atas semua hal
yang tidak dapat lagi kuubah.

Aku bukan suami yang sempurna.

Aku pernah salah.

Aku pernah egois.

Aku pernah gagal mendengar.

Aku pernah mengatakan sesuatu
yang seharusnya tidak kukatakan.

Aku pernah mengambil keputusan
yang ternyata keliru.

Aku mengakuinya.

Tetapi aku juga tahu—

satu kegagalan
tidak berhak menghapus seluruh nilai
seorang manusia.


Dan sekarang...

aku ingin bicara
kepada takdir.

Sudah cukup.

Aku sudah terlalu lama diam.

Jika memang hidup ingin mengujiku—

uji aku.

Jika ingin menjatuhkanku—

jatuhkan.

Tetapi jangan berharap
aku akan selamanya merangkak.

Aku sudah pernah kehilangan cinta.

Aku sudah pernah kehilangan rumah.

Aku sudah pernah kehilangan
kepercayaan kepada seseorang.

Aku bahkan pernah kehilangan
kepercayaan kepada diriku sendiri.

Lalu apa?

Apa lagi?

Apa yang belum kau ambil?

Katakan!

APA LAGI?

Kau sudah mengambil
orang yang kucintai.

Kau sudah mengambil
rumah yang kubangun.

Kau sudah mengambil
beberapa tahun terbaik
dalam hidupku.

Kau sudah membuatku
mempertanyakan harga diriku sendiri.

Sekarang kau ingin apa?

Air mataku?

Sudah.

Harga diriku?

Sudah pernah kau injak.

Harapanku?

Pernah hampir kau bunuh.

Tetapi ada satu hal
yang ternyata masih tersisa.

Dan malam ini
aku baru menyadarinya.

Kehendakku.

Kehendak untuk tetap hidup.

Kehendak untuk kembali bekerja
meskipun hati belum pulih.

Kehendak untuk membayar tagihan
meskipun kehidupan terasa tidak adil.

Kehendak untuk bangun pagi
meskipun malam sebelumnya
aku ingin menyerah.

Kehendak untuk mencoba mencintai
meskipun aku pernah patah.

Kehendak untuk menjadi manusia
meskipun hidup berkali-kali
memperlakukan aku
seolah-olah aku bukan manusia.

Itu yang tidak bisa kau ambil.

Takdir.

Itu milikku.


Jadi dengarkan aku.

Aku tidak akan meminta
hidup menjadi mudah.

Aku tidak membutuhkan belas kasihan.

Aku tidak ingin dikasihani.

Aku hanya ingin satu kesempatan
untuk membuktikan
bahwa seseorang dapat kehilangan
hampir seluruh yang ia miliki
dan tetap memilih
untuk tidak menjadi pahit.

Aku akan membawa perceraian ini
sebagai sejarah,

bukan sebagai identitas.

Aku akan membawa kegagalan
sebagai pelajaran,

bukan sebagai hukuman.

Aku akan mengingat perempuan itu
tanpa harus kembali kepadanya.

Aku akan menghormati masa lalu
tanpa menjadikannya tempat tinggal.

Dan suatu hari nanti—

jika seseorang bertanya:

“Apa yang terjadi kepadamu?”

Aku tidak akan menjawab
dengan cerita panjang.

Aku hanya akan berkata:

“Aku pernah kehilangan banyak hal.”

Jika mereka bertanya:

“Lalu bagaimana kau bisa bertahan?”

Aku akan menjawab:

“Karena saya tidak punya pilihan lain
selain menjadi lebih kuat
daripada keadaan yang mencoba menghancurkan saya.”


Kau masih di sana?

Ya.

Aku masih di sini.

Dan untuk pertama kalinya
aku tidak takut kepada pagi.

Besok aku akan bangun.

Aku akan mandi.

Aku akan mengenakan pakaian kerja.

Aku akan berangkat.

Aku akan menyelesaikan apa
yang memang harus diselesaikan.

Aku akan membayar apa
yang memang harus dibayar.

Aku akan bertanggung jawab
atas hidupku sendiri.

Bukan karena hidup telah memberiku
akhir yang bahagia.

Tetapi karena aku akhirnya mengerti:

kedewasaan bukan tentang
memiliki kehidupan yang sempurna.

Kedewasaan adalah kemampuan
untuk tetap menjalankan kehidupan
ketika kehidupan itu sendiri
tidak berjalan sesuai keinginan.

Dan jika suatu hari
takdir kembali mengetuk pintuku—

silakan.

Aku akan membukanya.

Tidak dengan ketakutan.

Tidak dengan doa agar ia pergi.

Tetapi dengan kepala tegak.

Sebab sekarang aku tahu
siapa yang berdiri di balik pintu.

Bukan lagi lelaki
yang dulu memohon agar hidup
berhenti menyakitinya.

Melainkan lelaki
yang telah merasakan sakit
sampai ke batas terakhir
dan berkata:

“Sekarang giliran saya.”

Jika kau ingin mengambil sesuatu—

ambil.

Jika kau ingin mengujiku—

uji.

Jika kau ingin menjatuhkanku—

jatuhkan.

Tetapi ingat satu hal:

aku sudah pernah berada
di titik paling rendah
dalam hidupku.

Dan aku berhasil keluar.

Jadi jangan salah mengira
bekas luka sebagai kelemahan.

Jangan mengira kesunyian
sebagai kekalahan.

Dan jangan mengira
seorang lelaki yang diam
tidak sedang berperang.

Karena mungkin
di balik diamnya,

ada sebuah dunia
yang sedang ia bangun kembali
dari reruntuhan.

Dan malam ini—

aku tidak sedang meminta
takdir mengubah hidupku.

Aku sedang memberi tahu takdir
bahwa aku akan mengubahnya sendiri.

Aku belum selesai.

Belum.

Selama masih ada pagi
yang dapat kutemui,

selama masih ada pekerjaan
yang dapat kuselesaikan,

selama masih ada orang tua
yang dapat kupeluk,

selama masih ada tubuh
yang sanggup kubawa berjalan,

selama masih ada satu alasan
untuk membuka mata—

aku belum selesai.

Dan jika suatu hari nanti
aku kembali mencintai,

aku tidak akan mencintai
karena takut sendirian.

Aku akan mencintai
karena aku sudah selesai
berdamai dengan diriku sendiri.

Jika suatu hari nanti
aku kembali membangun rumah,

aku tidak akan membangunnya
di atas ketakutan akan kehilangan.

Aku akan membangunnya
di atas kesadaran
bahwa manusia dapat tinggal
tanpa harus saling memiliki.

Dan jika suatu hari nanti
hidup kembali mengujiku,

aku akan tersenyum.

Bukan karena aku tidak takut.

Tetapi karena aku sudah pernah
berdiri di hadapan kehancuran
dan berkata:

“Saya masih di sini.”

Jadi, takdir—

datanglah.

Aku tidak lagi menunggumu
dengan tangan gemetar.

Aku menunggumu
dengan kedua kaki
yang telah belajar berdiri.

Kau boleh mengambil masa laluku.

Kau boleh mengubah rencanaku.

Kau boleh menghancurkan
apa yang kubangun.

Tetapi satu hal
tidak akan kuberikan kepadamu:

hak untuk menentukan
siapa diriku.

Itu keputusan terakhir
yang masih menjadi milikku.

Dan malam ini—

aku memilih diriku sendiri.

Bukan karena aku tidak pernah gagal.

Bukan karena aku tidak pernah patah.

Tetapi karena setelah seluruh kehilangan itu,

aku masih mempunyai keberanian
untuk melanjutkan hidup.

Itu bukan kemenangan besar.

Namun untuk seorang lelaki
yang pernah merasa
tidak memiliki apa-apa lagi—

itu sudah cukup
untuk memulai kembali.



Topan Arif

Malang, 2 Agustus 2026

MONOLOG - Nusantara


Ketika Bumi Menggugat Langit

Dengarkan...

Jangan bertepuk tangan.

Jangan dulu.

Sebab malam ini
yang hendak kita dengarkan
bukan puisi.

Melainkan—

suara bumi
yang sedang sekarat.

Dengarkan...

Di bawah telapak kakimu
ada tanah yang pernah menyimpan
darah para leluhur.

Di atas kepalamu
ada langit yang dahulu
dipercayakan kepada manusia
untuk dijaga.

Dan di antara keduanya—

berdiri kita.

Manusia.

Makhluk yang mengaku paling beradab,
namun tangannya paling lihai
mengoyak rahim kehidupan.

Nusantara!

Tanah yang dahulu
disebut zamrud—

kini hijau hanya
pada warna uang
yang mengalir di meja-meja kekuasaan!

Hutannya ditebang.

Gunungnya dibelah.

Sungainya dicekik limbah.

Lautnya dikuras.

Tanahnya dipagari.

Lalu manusia berdiri
di hadapan kehancuran
sambil tersenyum dan berkata:

“Ini pembangunan.”

Pembangunan?

Atas nama siapa?

Kemajuan?

Menuju ke mana?

Kesejahteraan?

Untuk siapa?

Ah...

Betapa agung peradaban kita.

Kita mampu membangun gedung
setinggi kesombongan.

Kita mampu membuat jalan
sepanjang kerakusan.

Kita mampu menembus langit
dengan mesin-mesin canggih.

Namun anehnya—

kita gagal memahami
bahwa pohon yang ditebang
tidak dapat tumbuh kembali
hanya karena pidato.

Kita menanam satu pohon
lalu memotret diri sendiri.

Seolah bumi
membutuhkan kamera
untuk mengakui kebaikan kita.

Lucu.

Sungguh lucu.

Manusia menghancurkan rumahnya sendiri
kemudian mengadakan seminar
tentang cara menyelamatkan rumah.

Kalian!

Yang duduk nyaman
di balik meja kekuasaan!

Kalian yang mengukur hutan
dengan luas konsesi!

Kalian yang menimbang gunung
dengan harga komoditas!

Kalian yang menghitung sungai
dengan angka keuntungan!

Pernahkah sekali saja—

sekali saja!

kalian menghitung
berapa banyak burung
yang kehilangan rumah?

Berapa banyak ikan
yang kehilangan sungai?

Berapa banyak petani
yang kehilangan tanah?

Berapa banyak anak
yang kelak mewarisi
udara yang tidak layak dihirup?

Ataukah semuanya
terlalu kecil
dibandingkan angka
di rekening kalian?

Dan di suatu tempat
seorang ibu menatap sungai.

Dahulu airnya jernih.

Anaknya mandi di sana.

Ikan-ikan berkejaran
di bawah matahari.

Kini sungai itu
membawa warna
yang bukan lagi warna air.

Ia membawa busa.

Ia membawa limbah.

Ia membawa dosa.

Sang ibu bertanya:

“Ke mana perginya sungai kami?”

Tidak ada yang menjawab.

Sebab sungai telah mati
jauh sebelum manusia
berani mengakui
bahwa mereka adalah pembunuhnya.

Gunung pun mulai bicara.

Bukan dengan bahasa manusia.

Ia berbicara
melalui longsor.

Ia berbicara
melalui retakan tanah.

Ia berbicara
melalui banjir
yang menerobos rumah-rumah.

Dan manusia kembali berkata:

“Bencana.”

Tidak.

Kadang-kadang
yang kita sebut bencana
adalah—

surat balasan
dari alam
atas surat penghancuran
yang telah kita kirim
bertahun-tahun.

Jangan salahkan hujan!

Jangan salahkan angin!

Jangan salahkan sungai!

Jangan salahkan gunung!

Jangan salahkan laut!

Sebab alam
tidak pernah menandatangani
izin untuk dihancurkan!

KITALAH
YANG MENANDATANGANINYA!

Dengan kapak!

Dengan mesin!

Dengan keserakahan!

Dengan tanda tangan!

Dengan stempel!

Dengan keputusan-keputusan
yang kadang lebih cepat
melindungi angka
daripada melindungi kehidupan!

PENGADILAN BUMI

Bayangkan...

Suatu malam
ketika seluruh kota terlelap,

bumi bangkit
dari ranjang lukanya.

Gunung-gunung berdiri
seperti para saksi tua.

Sungai-sungai membawa
berkas kesaksian.

Hutan-hutan yang tersisa
menjadi barisan para korban.

Laut membentangkan
hamparan biru
sebagai kitab perkara.

Dan di tengah semuanya—

manusia berdiri sebagai terdakwa.

Tidak ada pengacara.

Tidak ada kamera.

Tidak ada konferensi pers.

Tidak ada mikrofon
untuk memperindah kebohongan.

Hanya bumi.

Dan ingatan.

Lalu terdengarlah suara:

“Manusia.”

“Aku memberimu hutan.”

Manusia menjawab:

“Untuk kayu.”

“Aku memberimu sungai.”

“Untuk industri.”

“Aku memberimu laut.”

“Untuk sumber daya.”

“Aku memberimu tanah.”

“Untuk dimiliki.”

Bumi terdiam.

Lalu bertanya:

“Dan apa yang kau berikan kepadaku?”

Manusia membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

Karena apa yang kita berikan
kepada bumi?

Asap.

Limbah.

Luka.

Kepunahan.

Dan keserakahan
yang kita wariskan
dengan nama kemajuan.

Lalu bumi berkata:

“Aku tidak pernah meminta
engkau menyembahku.”

“Aku hanya meminta
jangan bunuh aku.”

“Aku tidak pernah meminta
engkau memujiku.”

“Aku hanya meminta
jangan racuni aku.”

“Aku tidak pernah meminta
engkau mencintaiku
dengan kata-kata.”

“Aku hanya meminta
engkau menjagaku
dengan perbuatan.”

Namun manusia
masih saja berdebat.

Mereka membuat rapat.

Mereka membentuk panitia.

Mereka menyusun dokumen.

Mereka mengadakan konferensi.

Mereka mengucapkan:

“Kami prihatin.”

Prihatin!

Betapa murahnya sebuah kata
ketika hutan telah menjadi abu!

Betapa indahnya sebuah pidato
ketika sungai telah menjadi racun!

Betapa gagahnya sebuah slogan
ketika anak-anak tumbuh
di bawah langit yang kehilangan biru!

Kita terlalu pandai berkata-kata
dan terlalu malas menyelamatkan kehidupan!

Maka dengarkan baik-baik!

Bukan bumi
yang membutuhkan manusia
untuk tetap hidup.

Manusialah
yang membutuhkan bumi!

Bumi telah hidup
jauh sebelum nama kita ditemukan.

Hutan telah bernapas
sebelum kerajaan-kerajaan berdiri.

Laut telah bergelombang
sebelum manusia mengenal uang.

Gunung telah menjaga langit
sebelum manusia mengenal kekuasaan.

Tetapi kita datang—

dengan mahkota kesombongan
di kepala,

dengan pisau keserakahan
di tangan,

dan mengira
seluruh semesta
diciptakan untuk melayani kita!

SIAPA YANG MEMBERI KITA HAK ITU?

Siapa?

Nusantara...

Maafkan kami.

Kami menyebutmu tanah air,

tetapi memperlakukanmu
seperti tanah rampasan.

Kami menyebutmu ibu,

tetapi menggergaji tulangmu.

Kami menyebutmu warisan,

tetapi menjual tubuhmu
kepada generasi berikutnya
dalam keadaan terluka.

Kami mengajarkan anak-anak
untuk mencintai negeri,

tetapi diam-diam
mengajari mereka
cara mengeksploitasi negeri.

Dan kelak...

Seratus tahun dari hari ini...

Seorang anak berdiri
di depan sebuah buku sejarah.

Ia membaca:

“Dahulu,
di negeri bernama Nusantara,
tumbuh hutan yang sangat luas.”

Anak itu bertanya:

“Hutan itu apa?”

Guru menjawab:

“Tempat pohon tumbuh.”

Anak itu bertanya lagi:

“Pohon itu apa?”

Guru terdiam.

Sebab generasi itu
hanya mengenal pohon
dari gambar.

Burung?

Dari video.

Sungai?

Dari museum.

Laut?

Dari arsip.

Dan kata “hutan”
menjadi kata purba
yang tidak lagi dipahami
oleh lidah manusia.

Apakah itu
yang kita inginkan?

Kalau tidak—

BERHENTI!

Berhenti menjadikan bumi
sebagai makam bagi keserakahan!

Berhenti menjadikan hutan
sebagai angka!

Berhenti menjadikan sungai
sebagai saluran pembuangan!

Berhenti menjadikan laut
sebagai tempat sampah
peradaban!

Berhenti menjadikan kekuasaan
sebagai pisau
yang memotong masa depan!

Karena suatu hari—

jabatanmu akan selesai.

Gedungmu akan runtuh.

Hartamu akan diwarisi orang lain.

Namamu akan memudar.

Foto-fotomu akan menguning.

Tetapi luka bumi—

mungkin akan tinggal
lebih lama daripada namamu!

Maka jangan wariskan
kepada anak-anak kita
sebuah dunia
yang hanya pandai bercerita
tentang keindahan masa lalu!

Jangan!

Jangan wariskan
sungai yang mati!

Jangan wariskan
hutan yang tinggal nama!

Jangan wariskan
laut yang penuh plastik!

Jangan wariskan
langit yang kehilangan bintang!

Jangan wariskan
sebuah peradaban
yang kaya akan gedung
tetapi miskin kehidupan!

Karena anak-anak kita
tidak meminta istana.

Mereka hanya meminta
sebuah bumi
yang masih layak disebut rumah.

Sebab kelak...

ketika manusia terakhir
berdiri di hadapan bumi
yang telah kehilangan warna,

bumi mungkin tidak akan bertanya:

“Siapa yang paling kaya?”

Ia tidak akan bertanya:

“Siapa yang paling berkuasa?”

Ia hanya akan bertanya:

“Ketika aku hampir mati...
mengapa kalian memilih diam?”

Dan pada saat itu—

tidak akan ada pidato.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada uang.

Tidak ada stempel.

Tidak ada kekuasaan.

Hanya manusia...

dan bumi...

yang saling menatap
dalam keheningan
yang tidak dapat dibeli.

Jaga bumi.

Sebelum bumi
hanya tinggal—

nama.



Topan Arif

Malang, 23 Agustus 2026

Kakawin Rasa Nirantara III



Sarga Antara Takdir lan Pilihan

Manggala

Om awighnam astu namas siddham.

Hana tresna kang lair saking swara,
tan saka pasuryan, tan saka asta kang nyawiji,
nanging saking rasa kang alon-alon tumuwuh
ing antaraning wengi lan sepi.

Hana kalih manah
kang durung ngerti bakal tekan ngendi,
nanging wis padha wani
nglebokake pangarep ing jeneng siji lan sijinΓ©.

Aku lan sira.

Wus tau kasmaran.
Wus tau kasandhung.
Wus tau meneng lan nyuwun pangapura.

Nanging saiki—

dudu rasa kang dadi pitakon.

Takdir kang dadi pitakon.


---

Sarga I — Kala

Kala ora nate nyuwun idin.

Dina lumaku.

Wengi ganti wengi.

Lan rasa kang biyen katon prasaja
wiwit nduweni bayangan dhewe.

Aku wiwit ngerti:

ora kabeh kang kita tresnani
bakal gampang kita duweni.

Ana jarak
kang ora bisa diukur dening langkah.

Ana wektu
kang ora bisa dicepetake dening pangarep.

Ana jagat
kang kadhangkala kaya sengaja
nyoba nggawΓ© kalih manah
saling adoh
nalika saktenane padha kepengin nyedhak.

Lan aku ngguyu getir.

Heh, takdir—

pinter tenan sira.

Nalika aku wis nemokake
papan kanggo mulih,
sira malah takon:

“Apa kowe yakin
omah iki bakal tetep ana?”


---

Sarga II — Wasangka

Ana wengi
nalika aku ora wedi marang sira.

Aku wedi marang aku dhewe.

Wedi yen rasa iki
mung gedhe amarga isih anyar.

Wedi yen wektu
bakal nyopot siji-siji
apa kang saiki ndadekake aku kasmaran.

Wedi yen sawijining esuk
swara sira ora maneh
ndadekake manahku mandheg.

Lan pitakon paling ala
iku dudu:

“Apa sira bakal ninggalake aku?”

Nanging:

“Apa aku bakal isih dadi wong
kang pantes ditinggalake sira?”

Ah.

Manungsa pancen aneh.

Wong bisa nglawan jagat,
nanging kalah
mung amarga pikirane dhewe.

Aku dadi puruαΉ£a
kang nyiptakake mungsuh
saka bayangane dhewe.

Lan sira ora ngerti
sepira rame perang
kang dak lakoni
nalika sira mung meneng.


---

Sarga III — Sira

Nanging nalika aku ndeleng sira maneh,
kabeh pitakon iku dadi cilik.

Sira isih padha.

Isih makarya
sanadyan dina ora tansah welas.

Isih lumaku
sanadyan dalan ora tansah alus.

Isih dadi sira
kang ora gampang njaluk tulung
senajan jagat kadang
abot tumrap pundakmu.

Lan aku ngerti:

aku ora butuh sira
dadi luwih gampang kanggo dak tresnani.

Aku butuh aku dhewe
dadi luwih wicaksana
supaya bisa tresna marang sira
tanpa ngowahi sira
dadi apa kang dak karepake.

Sira ora perlu dadi candramā
saben wengi.

Ora perlu dadi agni
saben perang.

Ora perlu dadi meru
saben jagat gonjang-ganjing.

Kadhangkala—

sira cukup dadi sira.

Lan aku bakal sinau
yen tresna dudu babagan
nggawe wong kang kita tresnani
dadi sampurna.

Tresna yaiku
wani ndeleng cacate
tanpa langsung kepengin
ngganti wujude.


---

Sarga IV — Pralaya

Nanging saben prasasti
mesthi nduweni watu
kang kudu dipahat.

Lan saben katresnan
mesthi nduweni dina
nalika kabeh tembung
katon ora cukup.

Ana sawijining wengi
nalika aku rumangsa
kita mung kari sethithik
saka sawijining perpisahan.

Ora amarga tresna wis mati.

Nanging amarga loro manungsa
kadang kesel
nggawa rasa sing padha.

Sira meneng.

Aku meneng.

Lan jagat
ngguyu ing antarane kita.

Kaya panggung
kang tiba lampune.

Ora ana swara.

Ora ana musik.

Mung loro aktor
kang ora ngerti
apa adegan iki
wis dadi adegan pungkasan.

Aku pengin nyedhak.

Nanging wedi.

Aku pengin ngendika.

Nanging tembung
katon kaya pedhang.

Mula aku mung ngucap:

“Yen pancen kudu lunga,
aja lunga amarga kita
ora gelem nyoba maneh.”

Lan kanggo pisanan
aku ora njaluk sira tetep
amarga aku wedi dhewekan.

Aku njaluk sira tetep
amarga aku isih percaya
yen kita durung rampung.


---

Sarga V — Samaya

Sira nyawang aku.

Lan ing sajroning pandangan iku
aku nemokake sawijining bab
kang luwih gedhe tinimbang jawaban:

pilihan.

Kita ora dijanjeni
urip tanpa salah.

Kita ora dijanjeni
ora bakal saling nglarani.

Kita ora dijanjeni
dalan iki bakal dawa.

Nanging kita bisa milih.

Milih bali.

Milih ngrungokake.

Milih ngapura.

Milih sinau maneh
carane nyebut jeneng siji lan sijinΓ©
tanpa nggawa luka saka wingi.

Lan aku ngerti:

katresnan ora tansah ditemtokake
dening sapa sing teka.

Kadhangkala
katresnan ditemtokake
dening sapa sing tetep
nalika lunga luwih gampang.


---

Sarga VI — Ahamkara

Aku banjur ngerti
mungsuh paling gedhe
ora nate sira.

Ora jarak.

Ora wektu.

Ora takdir.

Mungsuhku yaiku ahamkara—
ego kang bisik:

“Menanglah.”

Nalika katresnan mung njaluk:

“Ngertiya.”

Ego ngendika:

“BuktΓ¨kna yen kowe bener.”

Katresnan ngendika:

“BuktΓ¨kna yen kowe gelem ngrungokake.”

Ego ngendika:

“Jangan minta maaf dulu.”

Katresnan ngendika:

“Yen salah, sujudna gengsimu.”

Heh, manungsa.

Kita kerep kalah
ora amarga ora tresna.

Nanging amarga
kakehan tresna marang
awake dhewe.

Mula dina iku
aku ngalah.

Ora marang sira.

Nanging marang ego
kang wis suwe
nggawe aku ora bisa ndeleng
sepira ajinΓ© sira.


---

Sarga VII — Nirantara

Saiki aku ora maneh
njanjeni selawase.

Amarga aku wis ngerti:

selawase iku dudu duweke manungsa.

Kala bisa nyolong esuk.

Jagat bisa ngganti dalan.

Karma bisa muter tanpa kabar.

Urip bisa nutup lawang
nalika kita durung siap.

Mula aku mung duwe siji janji
kang bisa dak lakoni:

saben dina kang kaparingake,
aku bakal milih sira.

Dudu amarga aku ngerti
apa sing bakal kedadeyan sesuk.

Nanging amarga aku ngerti
apa sing dak pilih dina iki.

Yen sesuk isih ana,
aku milih sira.

Yen sesuk dadi peteng,
aku bakal nggoleki tanganira.

Yen sira sayah,
aku ora bakal nyebut sira lemah.

Yen aku salah,
elingana aku.

Yen sira nesu,
aku bakal ngrungokake.

Yen sira meneng,
aku ora bakal langsung ngira
yen tresna wis rampung.

Lan yen jagat
nggawa kita menyang persimpangan—

aku ora bakal takon:

“Endi dalan sing paling gampang?”

Aku bakal takon:

“Endi dalan
sing isih bisa kita lakoni bebarengan?”


---

Sarga VIII — Klimaks

Antara Takdir lan Pilihan

Yen takdir iku
wus ditulis dening para dewa,

muga jenengira
ora ana ing aksara pungkasan.

Nanging yen manungsa
isih kagungan daya
kanggo milih dalane dhewe—

saben esuk
aku bakal nulis aranira maneh.

Yen karma nyebut
kita mung kudu kepanggih sedhela,

aku bakal nglawan
kanthi saben dina
kang isih bisa dak wenehake.

Yen pralaya teka
lan njaluk kabeh sing kita duwe,

njupuka tanganku.

Aja janji ora bakal wedi.

Aja janji ora bakal nangis.

Aja janji bakal tansah kuwat.

Mung—

aja lunga dhewe.

Yen jagat ambruk,
ayo padha ndeleng ambruke.

Yen wengi dawa,
ayo padha ngenteni esuke.

Yen prau kita pecah,
ayo padha nyekel reruntuhane
nganti isih ana siji papan
kanggo napas.

Amarga saiki aku ngerti:

aku ora pengin
dadi wong sing nduweni sira.

Aku pengin
dadi wong sing dipilih sira
lan saben dina
isih milih sira maneh.

Iki dudu sumpah
marang selawase.

Iki luwih prasaja.

Lan luwih abot:

“Dina iki, aku milih sira.”

Banjur sesuk—

yen Gusti isih maringi napas,

aku bakal milih sira maneh.


---

Sarga IX — Prasasti Pungkasan

Lan yen pungkasane
kita tekan sawijining dina
nalika langkah wis ora kaya saiki,

rambut wis dadi salju,

swara wis dadi lirih,

lan jagat ora maneh
ngerti sapa kita—

aku ora pengin
prasasti iki nulis:

> “Dheweke tresna marang sawijining wadon.”



Ora.

Tulisen:

> “Dheweke tau nemokake
sawijining manah
kang beda saka kabeh kang tau ditemoni.
Lan wiwit dina iku,
dheweke ora maneh nggoleki
apa kang luwih sampurna.
Dheweke mung sinau
supaya luwih becik
kanggo wong kang wis dipilih.”



Lan yen ana sing takon:

“Apa tresna iku nirantara?”

Aku bakal mesem.

Amarga saiki aku ngerti jawabane.

Ora.

Tresna ora kudu langgeng.

Nanging nalika loro manungsa
isih gelem milih siji lan sijine
sanadyan luwih gampang lunga—

ing kono,

sawijining rasa
wis ngluwihi wektu.

Lan mbokmenawa—

iku sing diarani:

NIRANTARA.


---

Panutup — Śānti

Muga sira tansah pinaringan rahayu.

Muga saben lelahmu
nemokake teduh.

Muga saben sepi
ora dadi jurang.

Muga saben tatu
nemokake pangapura.

Lan muga aku—

ora mung dadi wong
kang tau teka
ing sajroning uripira,

nanging dadi wong
kang saben dina
isih pantes
kanggo tetep ana
ing sisinira.

Tan amarga takdir.
Tan amarga karma.
Tan amarga janji.

Nanging amarga—

aku milih sira.

Lan sira isih milih aku.

Nirantara.



Topan Arif
Lereng Kawi, 23 Agustus 2026