Kau pergi,
dan aku tinggal bersama sunyi
yang hafal namamu lebih baik dariku.
Kini ada seseorang
yang memelukmu tanpa rasa kehilangan.
Sedang aku—
memeluk kenangan seperti bara,
tahu ia membakar,
namun tak sanggup melepaskannya.
Aku tidak membencimu.
Justru itu yang paling kejam:
hatiku masih menyediakan tempat
bagi seseorang
yang telah membangun rumah
di dada orang lain.
Rindu kini bukan lagi jalan pulang.
Ia hanya luka
yang datang malam-malam,
duduk di samping ranjangku,
lalu mengingatkanku
bahwa namamu masih hidup
di tempat yang tak lagi menjadi milikmu.
Jika kelak kau mengingatku,
jangan mencari.
Biarkan aku menjadi bagian
dari masa lalu yang kau lewati
tanpa perlu kau tengok kembali.
Sebab aku sudah mengerti:
beberapa cinta tidak berakhir
karena kehilangan rasa,
melainkan karena salah satu hati
telah menemukan tempat lain
untuk berhenti.
Dan malam ini,
aku berhenti menunggumu.
Bukan karena rinduku telah padam—
aku hanya akhirnya paham
bahwa tidak semua yang kita cintai
ditakdirkan untuk kembali.
Maka pergilah dengan bahagia.
Aku akan menyimpan namamu
di tempat paling sunyi dalam diriku—
tempat di mana sesuatu pernah hidup,
lalu tidak pernah benar-benar mati.
Topan Arif
Malang, 26 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar