Sabtu, 22 Agustus 2026

MONOLOG - AKU, BAJINGAN YANG TERDIDIK


Silakan duduk.

Jangan tegang.

Aku tidak akan menyakitimu.

Setidaknya—

tidak lagi secara langsung.

Aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa manusia tidak harus menggunakan pisau untuk membunuh seseorang.

Kadang cukup dengan janji.

Kadang cukup dengan diam.

Kadang cukup dengan berkata,

"Aku masih sayang."

ketika sebenarnya yang tersisa hanya rasa takut untuk terlihat sebagai penjahat.

Ah, aku memang lelaki yang sopan.

Aku tidak menghancurkan hati orang dengan cara kasar.

Aku melakukannya dengan etika.

Dengan tata bahasa yang baik.

Dengan kalimat lengkap.

Dengan senyum.

Dengan pelukan.

Dengan,

"Maaf, aku sedang banyak pikiran."

Betapa terpelajarnya kebiadabanku.

Aku tidak pernah mengatakan,

"Aku ingin menghancurkanmu."

Tidak.

Aku jauh lebih beradab.

Aku berkata,

"Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik."

Lalu pergi.

Kalimat yang luar biasa mulia, bukan?

Seolah-olah aku sedang melepaskanmu demi kebahagiaanmu.

Padahal sebenarnya aku hanya sedang mencari cara agar bisa pergi tanpa harus terlihat sebagai bajingan.

Dan hebatnya—

berhasil.

Kau menangis.

Aku terlihat dewasa.

Kau kehilangan.

Aku terlihat bijaksana.

Kau terluka.

Aku terlihat sedang menyelamatkanmu.

Lucu sekali.

Kadang kebohongan memang terdengar paling indah ketika dibungkus dengan bahasa yang santun.


Aku juga pernah berkata,

"Aku bukan lelaki sempurna."

Tentu saja.

Siapa yang meminta sempurna?

Yang mereka minta hanya jangan berkhianat.

Jangan berbohong.

Jangan mempermainkan perasaan.

Jangan menjadikan seseorang sebagai rumah sementara ketika kau sendiri sudah menyiapkan koper.

Ternyata permintaan sesederhana itu terlalu berat untuk lelaki sepertiku.

Jadi maaf.

Aku tidak sempurna.

Aku lebih buruk dari itu.

Aku konsisten.

Konsisten mengecewakan.

Konsisten datang ketika kesepian.

Konsisten pergi ketika bosan.

Konsisten meminta dimengerti tanpa pernah belajar memahami.

Konsisten meminta kesempatan kedua dengan dosa yang sama dan wajah yang sedikit lebih menyesal.

Aku memang punya komitmen.

Hanya saja, komitmenku adalah mengulangi kesalahan.


Kau tahu apa yang paling kusukai dari menjadi bajingan?

Aku selalu punya alasan.

Jika aku pergi—

aku sedang mencari jati diri.

Jika aku berbohong—

aku sedang menjaga perasaanmu.

Jika aku berubah—

keadaanlah yang memaksaku.

Jika aku menyakitimu—

aku juga sedang terluka.

Lihat?

Aku bahkan bisa membuat kejahatan terdengar seperti puisi.

Aku bisa menumpahkan bensin lalu menyebut api sebagai takdir.

Aku bisa menghancurkan rumah lalu menyebut reruntuhannya sebagai kenangan.

Aku bisa mengkhianati seseorang lalu menyebutnya "proses pendewasaan."

Betapa canggihnya manusia zaman sekarang.

Bahkan dosa pun sudah punya istilah yang lebih elegan.


Aku pernah ingin menjadi lelaki baik.

Sungguh.

Aku pernah membayangkan diriku sebagai lelaki yang pulang tepat waktu, menepati janji, menjaga seseorang seperti menjaga sesuatu yang sakral.

Tapi kemudian aku bertemu ego.

Kami akrab.

Sangat akrab.

Ia selalu membisikkan:

"Kau pantas mendapatkan yang lebih baik."

"Jangan terlalu terikat."

"Masih banyak yang lain."

"Kau lelaki, jangan terlihat membutuhkan."

Dan aku menurut.

Karena ternyata lebih mudah menjadi lelaki yang tidak peduli daripada lelaki yang harus bertanggung jawab atas perasaannya sendiri.

Bukankah begitu aturan tak tertulis menjadi lelaki hari ini?

Jangan menangis.

Jangan terlalu mencintai.

Jangan terlalu membutuhkan.

Jangan mengaku takut.

Jangan mengaku kesepian.

Jangan bilang kau hancur.

Jadilah keras.

Jadilah dingin.

Jadilah batu.

Lalu ketika semua orang pergi, berdiri sendirian di kamar dan pura-pura tidak apa-apa.

Hebat.

Kami menyebutnya kedewasaan.

Padahal sering kali itu hanya ketidakmampuan untuk mengatakan,

"Aku sebenarnya takut kehilanganmu."


Maka jangan heran kalau aku menjadi seperti ini.

Aku dibesarkan oleh gengsi.

Dididik oleh ego.

Didewasakan oleh kehilangan.

Dan dipoles oleh kebohongan agar terlihat seperti lelaki yang tahu apa yang ia lakukan.

Padahal aku tidak tahu apa-apa.

Aku hanya pandai berjalan dengan kepala tegak di atas reruntuhan yang kubuat sendiri.

Dan kalau kau bertanya apakah aku menyesal—

tentu.

Aku menyesal.

Tetapi jangan terlalu kagum.

Penyesalan tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik.

Kadang penyesalan hanyalah bentuk lain dari egoisme.

Kita menyesal bukan karena telah menyakiti seseorang.

Kita menyesal karena orang itu akhirnya pergi.

Ada perbedaan.

Dan aku tahu perbedaan itu terlambat.


Sekarang lihat aku.

Aku masih hidup.

Masih bekerja.

Masih tertawa.

Masih bisa bercanda seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Bukankah manusia memang luar biasa?

Bisa menghancurkan hati seseorang pada hari Senin,

lalu membeli kopi dengan santai pada hari Selasa.

Bisa membuat seseorang mempertanyakan harga dirinya,

lalu tidur nyenyak karena besok harus bekerja.

Aku bahkan pernah mengatakan,

"Semoga dia bahagia."

Betapa bajingannya aku.

Aku berharap dia bahagia setelah aku sendiri menjadi alasan mengapa ia sulit mempercayai seseorang.

Aku berharap dia menemukan lelaki baik setelah aku mengajarinya bahwa lelaki bisa mengatakan "selamanya" dan tetap pergi.

Sungguh.

Doaku memang indah.

Hanya saja, aku tidak pernah pantas menjadi bagian dari doanya.


Jadi jangan panggil aku korban.

Jangan romantisasi kebusukanku.

Jangan bilang aku hanya lelaki yang salah mencintai.

Tidak.

Aku tahu apa yang kulakukan.

Aku hanya terlalu pengecut untuk mengakuinya ketika semuanya masih bisa diperbaiki.

Aku bajingan.

Tetapi bukan bajingan yang tidak tahu dirinya bajingan.

Aku justru lebih menyedihkan.

Aku tahu.

Aku sadar.

Aku mengerti.

Dan tetap kulakukan.

Itulah yang membuatku jijik kepada diriku sendiri.

Sebab dosa paling besar bukan ketika manusia berbuat salah karena tidak tahu.

Tetapi ketika ia tahu bahwa sesuatu itu salah—

lalu tetap memilihnya.


Jadi, kalau suatu hari kau mendengar namaku disebut dalam sebuah percakapan,

jangan bela aku.

Jangan katakan,

"Sebenarnya dia orang baik."

Tidak perlu.

Biarkan aku menerima seluruh keburukanku tanpa kosmetik moral.

Katakan saja:

"Dia pernah dicintai seseorang dengan sangat tulus, dan dia membalasnya dengan menjadi dirinya sendiri."

Itu sudah cukup.

Dan jika suatu malam aku berdiri di depan cermin dan bertanya,

"Apa kau masih pantas dicintai?"

Aku tidak membutuhkan jawaban.

Sebab cermin tidak pernah berbohong.

Ia hanya memantulkan lelaki yang terlalu lama mengira bahwa kehilangan adalah hukuman.

Padahal bukan.

Hukuman terbesarku bukan kehilangan mereka.

Bukan kesepian.

Bukan penyesalan.

Bukan malam-malam panjang yang harus kulewati sendirian.

Hukumanku jauh lebih sederhana.

Aku harus hidup dengan pengetahuan bahwa pernah ada seseorang yang mencintaiku tanpa syarat—

dan aku mengajarinya untuk tidak pernah mencintai lelaki seperti aku lagi.

Dan suatu hari nanti, mungkin ia akan bertemu lelaki yang jauh lebih baik.

Lelaki yang tidak berbohong.

Tidak bermain-main.

Tidak pergi ketika keadaan sulit.

Lelaki yang membuatnya merasa aman.

Dan aku?

Aku akan tersenyum.

Tentu saja aku akan tersenyum.

Aku akan berkata,

"Syukurlah. Akhirnya dia bahagia."

Lalu ketika pintu kamar tertutup dan tidak ada seorang pun melihat,

aku akan menatap langit-langit sambil menyadari satu hal:

ternyata aku tidak kehilangan perempuan yang kucintai.

Aku kehilangan perempuan yang pernah mencintaiku meskipun aku belum pantas dicintai.

Dan sejak malam itu, aku tahu—

aku tidak takut sendirian.

Aku takut suatu hari aku benar-benar berubah menjadi lelaki baik,

sementara dia sudah terlalu sembuh untuk peduli.

Karena mungkin, itulah ironi paling kejam dari seorang bajingan:

ketika akhirnya ia belajar mencintai dengan benar, orang yang paling pantas menerima cintanya sudah tidak sudi menerimanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,

aku tidak punya siapa-siapa untuk disalahkan.

Tidak keadaan.

Tidak masa lalu.

Tidak cinta.

Tidak takdir.

Hanya aku.

Aku.

Bajingan yang selama ini kucari-cari alasannya.

Dan ternyata—

akulah alasannya.



Topan Arif

Malang, 14 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...