Katanya, perempuan itu harus banyak bicara
ketika hatinya terluka.
Lucu.
Kau justru memilih diam—
seolah-olah aku cukup cerdas
untuk mengerti bahasa
yang bahkan tidak memiliki suara.
Sungguh romantis caramu menyiksaku:
tidak marah, tidak menuntut,
hanya menarik percakapan
pelan-pelan dari meja,
lalu membiarkanku duduk
bersama dosa-dosaku sendiri.
Ah, kau memang kejam.
Bukan karena kau tak peduli,
melainkan karena kau terlalu peduli
untuk membuang kata-kata
kepada lelaki yang sedang bodoh.
Dan aku?
Aku berdiri di hadapan diammu
seperti aktor gagal
yang lupa dialog
di panggung pertunjukan terakhir.
Ingin meminta maaf,
gengsi.
Ingin memeluk,
takut.
Ingin bertanya,
namun harga diriku tiba-tiba
menjadi bangsawan miskin
yang terlalu sombong untuk mengemis.
Sementara kau tetap diam.
Tenang.
Elegan.
Seperti ratu yang telah menjatuhkan vonis
tanpa perlu mengetuk palu.
Namun di balik diam itu,
aku tahu ada hati yang sedang berperang.
Dan mungkin itulah yang paling kucintai darimu:
kau tidak gaduh ketika terluka,
kau justru menjadi sunyi
agar aku bisa mendengar
betapa kerasnya kesalahanku sendiri.
Kau perempuan yang berbeda.
Ketika dunia sibuk mencari bahu
untuk bersandar,
kau malah membangun pundakmu sendiri.
Ketika orang lain mengeluh tentang beratnya hidup,
kau bekerja—
seolah lelah hanyalah pajak kecil
yang harus dibayar demi masa depan.
Dan sialnya,
aku jatuh cinta kepada perempuan
yang tidak membutuhkan pahlawan.
Aku hanya berharap
kau tetap mengizinkanku
menjadi seseorang
yang berjalan di sampingmu.
Bukan untuk menyelamatkanmu.
Hanya untuk memastikan
ketika suatu hari kau lelah,
kau tahu ke mana harus pulang.
Sebab aku tidak ingin mencintaimu
hanya sebagai episode indah
yang selesai ketika layar menjadi hitam.
Aku ingin kita menjadi pertunjukan
yang terlalu keras kepala untuk tamat.
Dan jika kelak takdir bertanya
apa yang kuinginkan darimu—
aku tidak meminta sempurna.
Aku hanya meminta satu hal:
jangan terlalu sering diam ketika aku salah.
Sebab aku mungkin mencintaimu
dengan seluruh kemampuan yang kupunya,
tetapi, sayangnya,
aku masih lelaki—
makhluk tragikomedi
yang kadang baru mengerti
setelah kehilangan suara
yang sedang ia dengarkan.
Jadi bila suatu hari kau kembali diam,
biarkan aku duduk di sebelahmu.
Tak perlu bicara.
Tak perlu menjelaskan.
Cukup biarkan aku menggenggam tanganmu
dan mengakui satu kebenaran paling memalukan:
aku mungkin belum pandai mencintaimu,
tetapi aku ingin menghabiskan hidup
untuk belajar.
Topan Arif
Malang, 22 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar