— Elegi bagi Para Saudagar Aksara
Kalian menjual puisi di lorong gelap asmara,
menyewa bulan untuk memoles wajah rayuan;
setiap metafora kalian sulap menjadi mantra,
agar nafsu tampak luhur bernama kesusastraan.
Kalian mengemis takjub lewat sebait madah,
menabur kata manis pada telinga yang percaya;
lalu menyebut diri penyair paling indah,
padahal yang kalian buru cuma tubuh di balik aksara.
Kalian bukan penyair—kalian pedagang kata,
mengemas birahi dengan pita bernama estetika;
perempuan kalian jadikan pasar tempat ego berniaga,
dan setiap bait hanyalah kail untuk menjerat mangsa.
Kalian mengukir “kau satu-satunya” pada setiap perempuan,
seolah hati manusia cuma halaman untuk kalian tuliskan;
hari ini satu nama kalian puja sampai ke nirwana,
esok nama lain kalian sembah dengan bahasa yang sama.
Jangan bangga bila perempuan tunduk pada kata,
sebab racun pun kerap dibungkus dalam madu;
jangan sebut itu cinta bila ujungnya hanya raga,
sebab iblis pun fasih mengaji sebelum menawar nafsu.
Kalian mengira sedang menaklukkan hati,
padahal yang kalian taklukkan hanya kesabaran;
kalian mengira sedang memanen cinta dari puisi,
padahal kalian sedang memanen malu dari kepalsuan.
Lalu kalian menyebut diri penyair—betapa murah gelar itu,
jika setiap bait lahir dari niat untuk memiliki;
kalian menyucikan nafsu dengan metafora yang syahdu,
kemudian menyebut manipulasi sebagai seni.
Tetapi sastra memiliki cermin yang tak bisa kalian tipu:
ia akan mengembalikan wajah kepada pemiliknya;
dan ketika perempuan berhenti percaya pada puisi kalian,
yang mati bukan cinta—melainkan kedok kalian sebagai penyair.
Sebab perempuan bukan halaman untuk kalian menulis kemenangan,
bukan trofi yang sah setelah sebuah soneta berhasil;
ia manusia yang mampu membaca niat di balik keindahan,
dan pada akhirnya, kalianlah yang terbaca paling telanjang.
Maka inilah vonis terakhir bagi para saudagar aksara:
kalian datang membawa puisi untuk membeli cinta,
namun pulang dengan kehormatan yang telah kalian jual sendiri—
dan sejak saat itu, setiap kata indah yang kalian tulis hanya menjadi bukti bahwa kalian mampu membuat kehinaan terdengar seperti sastra.
Topan Arif
Malang, 13 September 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar