Aku membangun pintu
dari tulang rusuk kesetiaan,
menyalakan lampu
dari sisa-sisa sabar—
agar langkahmu yang tersesat
masih mengenali pulang.
Kau datang membawa musim
yang enggan dipeluk langit;
aku menadahnya dengan dada
hingga tubuhku sendiri
menjadi cuaca.
Kukira cinta ialah teduh.
Ternyata aku hanya bayang
yang terlalu lama
mengira dirinya matahari.
Maka pergilah.
Semoga kelak seseorang
membaca retakmu sebagai aksara,
bukan cacat yang harus diperbaiki;
memeluk badaimu
tanpa ingin menjinakkannya.
Sedang aku—
akan mengembalikan namamu
kepada malam.
Bukan karena cinta telah mati,
melainkan ia telah belajar
bentuk paling sunyi dari ikhlas:
melepaskan kapal
yang dicintai laut,
sebab bahkan laut tahu—
tak setiap yang dipeluknya
ditakdirkan berlabuh.
Topan Arif
Malang, 12 September 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar