Dua puluh empat jam,
Kita dimakan hari dan malam
Ada yang mondar mandir dalam dada
Tanpa jeda tanpa aba-aba
Hingga acap kali diketuk pintu kalbu
Menyilahkan para hantu datang bertamu
Dua puluh empat jam,
Kita disulut pertikaian
Ada pembantaian tak terbaca
Meninggalkan peta cekam juga udara dicerai sia-sia
Ini raga punya siapa?
Bila kita tak kuasa menghentikan tua
Dua puluh empat jam,
Kita tak kenal diam selain kematian
Ada pertemuan rahasia antara jujur dan dusta
Saling menikam
Kita masih ada di antara tebing dan ngarai
Dari kelana yang tak kunjung usai
Dua puluh empat jam,
Kita mengarungi masa
Ada bahtera telah menjauh dari pantai
Mengarungi badai menghempas layar hingga kusut masai
Karam perahu;
Kita tak pernah tahu
Topan Arf
Tulungagung, 2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar