Di pagi yang masih tersipu malu,
Diatas meja, secangkir rindu tersaji.
Menyambut mentari yang kian beranjak,
Dalam diam, syukur terucap.
Setetes embun membasahi kaca,
Menyiratkan kerinduan yang merambat.
Seperti lagu yang terlelap di bibir,
Segelas rindu menyanyi menyapa pagi.
Mengalirlah rawikara dalam irama yang berlalu,
Menyisakan kenangan di sudut hati.
Pada pagi yang mulai beranjak pergi,
Rintik rindu terpaut pada tangkai indahmu.
Sementara,
Di tengah senja yang berwarna emas,
Diantara riuh pepohonan yang berdansa,
Kamu datang, cahaya dalam kegelapan,
Cinta terakhir yang aku harapkan.
Bersama mentari yang bersembunyi di ufuk,
Kita mengukir kisah indah.
Diantara bintang-bintang yang bersinar,
Cinta terakhir yang takkan pernah pudar.
Di malam yang sunyi,
Di bawah langit yang bersahabat.
Katakan saja,
Apa yang sedang bersembunyi di hatimu.
Biarlah angin malam menjadi saksi,
Dengarlah, di hening malam yang paling dalam.
Katakan saja,
Bebaskan kata-kata yang terpenjara.
Katakan saja,
Yang tak bisa terucap selama ini.
Biarkan puisi malam yang merangkai diksi,
Menjadi riuh rendah dalam sunyi.
Di pelukanmu, dunia terasa sempurna,
Di sampingmu, aku merasa bahagia.
Kita menari diatas mega bersama,
Cinta mengalir diatas rindu dan bahagia.
Topan Arif
Tulungagung, 7 November 2024
Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Upon the Ruins of Mine Own Soul
Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...
-
Setelah kamu pergi... Pertanyaan yang tersisa masih sama... "𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮 ?" Namun...
-
Aku kira aku telah usai denganmu, namun diam-diam, langkahku masih hafal arah pulang ke tempat yang selalu menyimpan namamu. Aku hidup ...
-
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek. Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya. Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan ter...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar