Aku ingin menikmati segala yang belum kita selesaikan,
diantara kecemasan diri,
di batas perasaan yang kita miliki,
diantara dedaunan hijau yang bercabang di kepalamu.
Aku ingin menikmati tunggu yang lahir di tiap perpisahan,
pada masa yang tak tentu,
di lingkar waktu pilihanmu aku menaruh kunci kecil yang bisa kau bawa setiap kali menemuiku.
Aku ingin menikmati sempurna cahaya purnamamu,
aku bintang kecil di lautan semesta,
bagaimana pun aku memadamkan diri,
sinarmu tetap menembus bentengku ini.
Kenapa semesta mengirimmu pada hari-hari yang terasa sulit bagiku?
Antara merawat badai dalam diri atau membiarkan diri dalam badai.
Kamu tidak mungkin bisa aku hindari, kutemukan getar pada hari-hari.
Kamu tidak jua bisa kunafikan, degup meronta dalam dada setiap kali kamu ada di dekatku.
Pada hari-hari yang tidak sesuai rencana,
kita merawat sabar yang berkali-kali tertunda.
Tuang padaku sepi yang larut dalam sunyi,
pada segala yang tak pasti aku berlari.
Pada dasar diriku berhamburan dirimu.
Meski mungkin esok masih jadi tanda tanya, tak apa lupakan sejenak untuk nikmati jeda.
Meski aku memadamkan percik nyala setiap kali bertemu kamu.
Meski kupasang rona biasa, dalam diri girang aku tak terkira.
Topan Arif
Tulungagung, 14 November 2024
Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Upon the Ruins of Mine Own Soul
Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...
-
Setelah kamu pergi... Pertanyaan yang tersisa masih sama... "𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮 ?" Namun...
-
Aku kira aku telah usai denganmu, namun diam-diam, langkahku masih hafal arah pulang ke tempat yang selalu menyimpan namamu. Aku hidup ...
-
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek. Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya. Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan ter...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar