Tidak ada yang seindah musim semi,
seindah kuncup memekarkan bunganya.
Kita pernah berada di kemarau yang gersang,
lalu dedaunan gugur itu bersemi kembali dan merekah indah penuh warna.
Ini pertemuan yang aneh,
kulihat warna di sekujur tubuhmu,
kudekati dan memelukmu.
Seusai pelukan itu,
warna-warna itu menempel pada tubuhku hingga hari ini.
Aku jatuh cinta ketika melihat senyummu berkembang.
Ada warna yang tak bisa kucirikan di palet-palet itu.
Kolaborasi gelap dan terang nampak mendominasi tiap inci kanvas.
Mengarsir secara perlahan menjadi lukisan yang belum aku tahu.
Aku suka caramu mengikisku dengan aquarel,
membentuk sketsa cinta yang tipis, tak tembus oleh pandang.
Kamu toreh pointilis rindu yang abstrak,
kamu beri titik renggang terang diantara rindu dari gelapnya cemburu.
Aku rasakan goresan ekspresif dari setiap gerak kuasmu yang meliuk tenang.
Aku seperti objek kanvas musim semimu yang penuh dengan mozaik warna semu.
Aku telah menjelaskan padamu melalui kanvas bahwa goresan itu tidaklah hampa belaka.
Aku telah menjelaskan padamu melalui kuas bahwa genggaman itu bukanlah tanpa makna.
Pada setiap warna aku sisipkan rupa bahwa kamu sungguh membuatku memendam rasa.
Lukisan musim semi telah selesai dan aku jatuh cinta lagi.
Topan Arif
Tulungagung, 13 November 2024
Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Upon the Ruins of Mine Own Soul
Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...
-
Setelah kamu pergi... Pertanyaan yang tersisa masih sama... "𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮 ?" Namun...
-
Aku kira aku telah usai denganmu, namun diam-diam, langkahku masih hafal arah pulang ke tempat yang selalu menyimpan namamu. Aku hidup ...
-
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek. Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya. Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan ter...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar