Minggu, 23 Agustus 2026

BEDEBAH YANG MEMBAKAR RUMAHNYA SENDIRI

NTT mengguncang.

Bumi bergeser,
rumah-rumah roboh,
debu menelan nama-nama,
dan manusia berlari
mencari keselamatan
dari tanah yang mendadak
kehilangan keseimbangannya.

Sementara di tempat lain—

SULAWESI TERBAKAR.

Api merambat di antara pepohonan
seperti kabar buruk
yang sudah terlalu lama disembunyikan.

KALIMANTAN TERBAKAR.

Hutan menghitam.

Langit berubah menjadi kain kafan
yang digantung di atas kepala rakyat.

PAPUA TERBAKAR.

Dan di sana,
pohon-pohon tumbang
sebelum sempat mengerti
mengapa manusia
begitu rakus terhadap rumahnya sendiri.

Lalu LOMBOK—

bara menjilat tanah,
asap menutup langit,
dan kita kembali menyaksikan
negeri ini kehilangan sedikit demi sedikit
apa yang seharusnya diwariskan.

Lalu datanglah para BANGSAT
dengan wajah penuh simpati.

Datang membawa kamera.

Datang membawa pidato.

Datang membawa kata-kata:

“Prihatin.”

Prihatin, katanya.

Sial.

Kalau memang prihatin,
mengapa setelah kamera dimatikan
hutan kembali dihitung
seperti angka dalam buku kas?

Kalau memang cinta tanah air,
mengapa tanah air
selalu terasa seperti barang lelang?

Bajingan.

Betapa mudahnya mengucapkan
“demi rakyat”

ketika yang dimaksud
bukan rakyat yang sedang menghirup asap,

melainkan keuntungan
yang sedang masuk ke rekening.

Kalian menyebutnya pembangunan.

Aku menyebutnya
keserakahan yang diberi jas,
diberi meja,
diberi stempel,
lalu disuruh tersenyum di depan kamera.

Anjing!

Hutan bukan angka.

Gunung bukan saham.

Sungai bukan tempat
membuang dosa.

Tanah bukan karpet
yang bisa kalian gulung
dan bawa pulang.

Tapi kalian bertingkah
seolah negeri ini
adalah warisan bapak kalian.

Bedebah.

Kalian membakar hutan,
lalu menyalahkan musim.

Kalian mengeruk bumi,
lalu menyalahkan alam.

Kalian merusak keseimbangan,
lalu ketika bencana datang,

kalian menunjuk langit
dan berkata:

“Takdir.”

Takdir?

Jangan jadi pengecut.

Jangan sembunyikan dosa manusia
di balik nama Tuhan.

Gempa adalah bencana.

Tetapi penderitaan yang diperparah
oleh keserakahan, kelalaian,
dan tata kelola yang buruk—

itu bukan sekadar takdir.

Itu tanggung jawab manusia.

Dan kalau ada yang merasa tersinggung
oleh kalimat ini,

bagus.

Memang harus tersinggung.

Sebab negeri yang terbakar
tidak membutuhkan
lebih banyak orang yang tersenyum sopan.

Negeri ini membutuhkan
orang-orang yang berani berkata:

“KALIAN SALAH!”

Kepada para bedebah
yang menjadikan hutan sebagai mesin uang:

KALIAN SALAH!

Kepada para bajingan
yang melihat penderitaan rakyat
sebagai statistik:

KALIAN SALAH!

Kepada manusia-manusia rakus
yang mengira bumi diciptakan
untuk menggemukkan rekening:

KALIAN SALAH!

Dan kepada siapa pun
yang menggunakan nasionalisme
sebagai tameng
agar keserakahannya tidak disentuh—

JANGAN BICARA TENTANG CINTA TANAH AIR
KALAU TANAHNYA SENDIRI
KAU BIKIN MATI!

Kalian berteriak:

“INDONESIA HARGA MATI!”

Harga?

Ya.

Ternyata memang ada harganya.

Hutan punya harga.

Gunung punya harga.

Pantai punya harga.

Tanah punya harga.

Bahkan penderitaan rakyat
barangkali sudah masuk
ke dalam tabel perhitungan kalian.

Sialan.

Sejak kapan
ibu pertiwi
menjadi barang dagangan?

Sejak kapan
merah putih
menjadi dekorasi
di atas meja mereka
yang sedang membagi-bagi
isi perut negeri?

Aku muak.

Muak dengan nasionalisme palsu.

Muak dengan pidato
yang lebih panjang daripada umur hutan
yang mereka habiskan.

Muak dengan manusia
yang menyebut dirinya patriot
tetapi meninggalkan bumi
dalam keadaan sekarat.

Binatang!

Bahkan binatang
tidak membakar seluruh rumahnya
demi memiliki lebih banyak kandang.

Bahkan binatang
tidak menebang hutan
hanya untuk membeli
kemewahan berikutnya.

Tapi manusia?

Manusia punya ijazah.

Punya jabatan.

Punya perusahaan.

Punya kuasa.

Dan tetap bertingkah
seperti binatang yang diberi kalkulator.

NTT mengguncang!

Sulawesi membara!

Kalimantan menghitam!

Papua terbakar!

Lombok menjadi bara!

Dan kalian masih bertanya:

“Mengapa rakyat marah?”

KARENA KAMI BUKAN BATU!

KAMI PUNYA DARAH!

KAMI PUNYA RUMAH!

KAMI PUNYA ANAK!

KAMI PUNYA MASA DEPAN!

DAN KALIAN TIDAK BERHAK
MEMBAKAR MASA DEPAN KAMI
HANYA KARENA KALIAN
TERLALU SERAKAH!

CUKUP!

CUKUP MENJADIKAN KAMI
PENONTON!

CUKUP MENJADIKAN HUTAN
KORBAN!

CUKUP MENJADIKAN BUMI
MESIN UANG!

CUKUP MEMAKAI
MERAH PUTIH
UNTUK MENUTUPI
TANGAN-TANGAN YANG KOTOR!

DENGARKAN!

INDONESIA BUKAN PERUSAHAAN PRIBADI!

INDONESIA BUKAN WARISAN OLIGARKI!

INDONESIA BUKAN LADANG
UNTUK PARA BEDEBAH
MEMUASKAN KESERAKAHANNYA!

Indonesia adalah
tanah tempat kami dilahirkan.

Tanah tempat ibu kami berdiri.

Tanah tempat bapak kami bekerja.

Tanah tempat anak-anak kami
akan belajar bermimpi.

Dan demi Tuhan—

JANGAN BAKAR RUMAH
YANG AKAN DITINGGALI
ANAK-ANAK KAMI!

Kalau kalian masih menyebut ini
tanah air,

maka berhentilah memperlakukannya
seperti barang dagangan.

Kalau kalian masih menyebut diri
nasionalis,

maka lindungilah tanahnya.

Kalau kalian masih mengaku
pemimpin,

maka berdirilah di depan rakyat
ketika api datang—

bukan berdiri di belakang meja
ketika keuntungan datang.

Sebab suatu hari nanti
anak-anak kita akan bertanya:

“Siapa yang membakar negeri ini?”

Dan jangan jawab:

“Bencana alam.”

Katakan yang sebenarnya.

Katakan dengan jujur.

Bahwa sebagian luka ini
lahir dari tangan manusia.

Dari keserakahan.

Dari pembiaran.

Dari kekuasaan
yang terlalu lama merasa kebal.

Dari manusia-manusia
yang lupa satu hal:

BUMI TIDAK PERNAH MENJADI MILIK KITA.

KITA HANYA MENUMPANG.

Dan kepada para bajingan
yang masih merasa
bisa membeli seluruh negeri—

dengarkan baik-baik:

KALIAN BOLEH MEMBELI TANAH.

KALIAN BOLEH MEMBELI HUTAN.

KALIAN BOLEH MEMBELI GUNUNG.

KALIAN BOLEH MEMBELI GEDUNG.

KALIAN BOLEH MEMBELI KURSI.

TAPI KALIAN TIDAK AKAN PERNAH
MEMBELI HARGA DIRI
SEORANG RAKYAT
YANG SUDAH TERLALU LAMA
DIPAKSA DIAM!

Karena ketika rakyat akhirnya berteriak—

bukan hutan saja yang bergema.

SELURUH INDONESIA AKAN MENDENGAR!

Dan kami akan berkata:

BAHWA TANAH AIR INI
BUKAN MILIK PARA ANJING
YANG PALING RAKUS!

BUKAN MILIK PARA BAJINGAN
YANG PALING KUAT!

BUKAN MILIK PARA BEDEBAH
YANG PALING KAYA!

INDONESIA ADALAH RUMAH KITA!

DAN RUMAH INI
TIDAK AKAN KAMI BIARKAN
KALIAN BAKAR
DEMI KEUNTUNGAN
KALIAN SENDIRI!

CUKUP!

CUKUP!

CUKUP!

KALIAN SUDAH TERLALU LAMA
MEMBAKAR RUMAH KAMI!

DAN HARI INI—

KAMI TIDAK LAGI
MENANGIS DI DEPAN API.

KAMI BERDIRI.

KAMI MENUNJUK.

DAN KAMI BERTERIAK:

INI TANAH AIR KAMI, BEDEBAH!

BUKAN LADANG KEUNTUNGAN KALIAN!




Topan Arif
Malang, 24 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...