Senin, 24 Agustus 2026

BALADA LELAKI YANG TAK PERNAH PULANG

Dengarlah kisah dari negeri jauh,
tentang seorang lelaki yang malang,
ia berlayar membawa rindu,
namun selalu pulang membawa perang.

Orang-orang di kedai tua berkata,
sambil menyesap pahitnya malam:

“Jangan jatuh cinta kepada perempuan yang terluka,
sebab kau mungkin pulang sebagai luka.”

Namun lelaki itu tertawa.

Ia percaya kepada matanya,
ia percaya kepada kata-kata,
dan lebih celaka dari segala percaya—
ia percaya dirinya mampu menyembuhkan siapa saja.

---

I

Pada suatu senja yang merah,
datang perempuan berambut panjang.

Matanya teduh seperti telaga,
tetapi dasarnya menyimpan jurang.

Ia berkata,

"Cintailah aku,
tetapi jangan pernah meninggalkanku."

Lelaki itu menjawab,

"Selama napasku masih ada,
aku akan tinggal."

Maka mereka menanam janji
di bawah pohon tua dekat perigi.

Tetapi cinta perempuan itu
bukan sungai yang mengalir tenang.

Ia adalah laut
yang setiap malam mencari badai.

Sedikit terlambat—
ia menangis.

Sedikit bertanya—
ia curiga.

Sedikit berjarak—
ia menganggap lelaki itu pergi.

Dan lelaki itu berkata:

"Ia hanya takut kehilangan."

Padahal ketakutan
yang tidak disembuhkan
dapat berubah menjadi rantai.

---

II

Tahun berikutnya datang perempuan lain.

Ia membawa tawa
seperti lonceng di musim semi.

Ia cantik.

Ia liar.

Ia tahu bagaimana membuat seorang lelaki
merasa menjadi satu-satunya manusia
di muka bumi.

Namun pada malam-malam tertentu,
ia menghilang tanpa kabar.

Ketika dicari, ia marah.

Ketika dibiarkan, ia kembali.

Ketika dipeluk, ia menangis.

Ketika dilepaskan, ia memohon.

Mereka seperti dua kapal
yang saling menabrak
hanya untuk memastikan
bahwa keduanya masih berlayar.

Orang-orang berkata:

“Tinggalkan perempuan itu!”

Tetapi lelaki tersebut menjawab:

"Cinta memang tidak mudah."

Ah, betapa sering manusia
menamai kehancuran sebagai perjuangan.

Mereka bertengkar sampai fajar,
berdamai ketika burung mulai bernyanyi.

Dan setiap kali cinta hampir mati,
mereka memberinya satu alasan
untuk hidup kembali.

---

REFRAIN

Ah, lelaki itu—
lelaki yang tak pernah pulang.

Berlayar mengejar cinta,
terdampar di pelabuhan kesedihan.

Ia menyalahkan badai,
ia mengutuk lautan,

tetapi tidak pernah bertanya:

siapa yang memilih berlayar
ketika langit sudah menghitam?

---

III

Kemudian datang perempuan ketiga.

Ia tidak banyak bicara.

Senyumnya kecil.

Langkahnya tenang.

Tidak ada petir dalam suaranya.

Lelaki itu berkata dalam hati:

"Inilah rumahku."

Namun malam pertama
ia menemukan pintu yang dikunci.

Malam kedua
ia menemukan pertanyaan.

Malam ketiga
ia menemukan dirinya sendiri
sedang diperiksa
seperti terdakwa di pengadilan.

"Dengan siapa kau tadi?"

"Mengapa pesanmu terlambat?"

"Siapa perempuan itu?"

"Mengapa kau tersenyum kepadanya?"

Lelaki itu mulai mengerti:

penjara tidak selalu terbuat dari besi.

Kadang ia terbuat dari rasa takut.

Kadang dari cemburu.

Kadang dari pelukan
yang terlalu erat
untuk disebut kasih sayang.

Ia hendak pergi.

Tetapi perempuan itu menangis.

Dan sekali lagi
lelaki itu tinggal.

Sebab ia mengira:

meninggalkan seseorang yang terluka
adalah sebuah kejahatan.

Ia belum tahu
bahwa menyelamatkan seseorang
dengan menghancurkan diri sendiri
bukanlah cinta.

Itu pengorbanan yang salah alamat.

---

IV

Sampai pada suatu malam
datanglah perempuan terakhir.

Ia tidak membawa bunga.

Tidak membawa air mata.

Tidak pula membawa janji.

Ia hanya membawa sebuah cermin.

Diletakkannya cermin itu
di hadapan lelaki tersebut.

"Lihatlah."

Lelaki itu melihat wajahnya sendiri.

"Apa yang kau lihat?"

Ia menjawab:

"Seorang lelaki yang selalu disakiti."

Perempuan itu tersenyum getir.

"Tidak."

"Lalu?"

"Seorang lelaki yang selalu memilih
perempuan yang harus diselamatkan."

Malam tiba-tiba sunyi.

Bahkan angin
seolah takut melewati jendela.

"Kau menyebut mereka gila."

"Karena memang begitu."

"Mungkin."

Perempuan itu menatapnya.

"Tetapi mengapa setiap kali badai datang,
kau justru membuka layar?"

Lelaki itu terdiam.

Untuk pertama kalinya
takdir tidak bisa dijadikan kambing hitam.

Masa lalu tidak bisa dijadikan alasan.

Dan perempuan-perempuan yang pernah ia cintai
tidak bisa lagi dijadikan terdakwa.

Sebab di dalam cermin itu
ia menemukan pelaku sebenarnya.

Dirinya sendiri.

---

REFRAIN

Ah, lelaki itu—
lelaki yang tak pernah pulang.

Bukan laut yang mengutuknya.

Bukan angin yang mencelakakannya.

Ia sendiri yang memilih pelabuhan
tempat kapal-kapal patah
dikuburkan.

Ia sendiri yang jatuh cinta
kepada perempuan-perempuan yang karam,

sebab di antara reruntuhan
ia dapat memainkan peran
sebagai penyelamat.

---

V

Perempuan terakhir kemudian berkata:

"Kau tidak mencintai kehancuran mereka."

"Kau mencintai perasaan
bahwa seseorang membutuhkanmu."

Lelaki itu menundukkan kepala.

Kalimat itu sederhana.

Namun lebih tajam
daripada seribu pisau.

Ia teringat perempuan pertama.

Perempuan kedua.

Perempuan ketiga.

Betapa berbeda wajah mereka.

Betapa sama luka yang dibawanya.

Dan betapa sama pula lelaki
yang selalu datang
membawa dirinya sendiri.

Saat itu ia mengerti:

barangkali bukan perempuan-perempuan itu
yang selalu gila.

Barangkali ia
yang selalu mencari kegilaan
karena ketenangan membuatnya merasa asing.

---

VI

Pagi datang tanpa suara.

Perempuan terakhir pergi.

Tidak ada tangis.

Tidak ada kutukan.

Tidak ada pintu yang dibanting.

Hanya langkah kaki
yang perlahan menjauh
dari rumah lelaki itu.

Ia berdiri di ambang pintu.

Untuk pertama kalinya
ia tidak mengejar.

Ia membiarkan seseorang pergi
tanpa mengubah kepergian
menjadi perang.

Kemudian ia melihat laut.

Laut yang selama bertahun-tahun
ia jadikan kambing hitam.

Ia tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya
ia tidak mengangkat layar.

Tidak mencari kapal.

Tidak mencari perempuan.

Tidak mencari badai.

Ia pulang.

---

EPILOG

Maka jika kelak
kau bertemu lelaki di kedai tua
yang berkata:

“Aku selalu mendapatkan perempuan gila.”

Jangan buru-buru kasihan.

Dengarkan sampai habis kisahnya.

Sebab mungkin ia bukan korban.

Mungkin ia seorang pelaut
yang terlalu mencintai karam.

Mungkin ia bukan lelaki
yang selalu disakiti cinta.

Mungkin ia hanya lelaki
yang belum pernah belajar
membedakan cinta
dengan kebutuhan untuk dibutuhkan.

Dan jika ia bertanya:

"Mengapa aku selalu mendapatkan perempuan seperti itu?"

Jawablah perlahan:

“Bukan mereka yang selalu menemukanmu,
kawan.

Kamulah yang selalu menemukan mereka.”

Lalu biarkan ia diam.

Biarkan ia menatap laut.

Biarkan ia mengingat
seluruh kapal yang pernah karam.

Sebab ada lelaki
yang baru mengenal rumah
setelah terlalu lama
menjadi penghuni badai.

Dan ada cinta
yang baru dapat ditemukan
setelah seseorang berhenti
mencari seseorang untuk diselamatkan.

Demikianlah balada seorang lelaki
yang sepanjang hidupnya berlayar mencari cinta—

hingga akhirnya ia mengerti
bahwa perempuan yang paling lama ia tinggalkan
adalah dirinya sendiri.




Topan Arif
Malang, 24 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...