Jumat, 21 Agustus 2026

Kepada Perempuan yang Menjadi Pengecualian


Lucu, bukan?
Di antara ribuan wajah yang pandai menawarkan pesona,
aku justru memilih satu nama
yang tak pernah sibuk meminta untuk dicintai—
namun diam-diam menjadi gravitasi
bagi seluruh semesta kecil di dalam dadaku.

Aku pernah mengira cinta adalah perkara kalkulasi:
tentang siapa datang, siapa tinggal,
siapa paling layak diberi mahkota.
Ternyata aku keliru;
hati rupanya memiliki konstitusinya sendiri—
dan namamu adalah satu-satunya pasal
yang tak pernah berhasil diamandemen oleh waktu.

Betapa satirnya hidup:
aku bisa mengagumi seribu perempuan
tanpa sedikit pun ingin memilikinya,
sementara kepadamu,
aku kehilangan seluruh pretensi menjadi rasional.

Mereka mungkin sekadar metafora
yang indah untuk dipandang dari kejauhan;
sedangkan engkau adalah paradoks
yang ingin kupeluk bahkan ketika akal
menyuruhku menjaga jarak.

Jangan salah menafsirkan diamku.
Bukan karena tak ada perempuan lain
yang lebih cantik, lebih cerdas,
atau lebih gemerlap di mata dunia.
Aku hanya sedang menyindir takdir—
sebab dari begitu banyak kemungkinan,
ia dengan pongahnya menjatuhkan hatiku
tepat di hadapanmu.

Dan bukankah itu ironi paling sempurna?

Aku, yang konon mampu membedakan
antara kagum dan cinta,
justru menjadi terdakwa
atas perasaan yang tak mampu kubantah.

Sebab kepadamu,
aku tak sekadar menyimpan rasa;
aku menyimpan rumah.

Bila cinta adalah lautan,
maka perempuan lain mungkin hanya riak
yang sempat mengusik permukaannya.
Sedangkan engkau—
adalah palung terdalam
tempat seluruh keberanianku untuk mencintai
akhirnya karam tanpa ingin diselamatkan.

Jadi, jangan tanyakan lagi
mengapa hanya engkau.

Karena jawabannya terlalu sederhana
untuk sebuah perasaan yang begitu rumit:

aku bisa melihat banyak perempuan,
mengagumi banyak keindahan,
namun hanya kepadamu
hatiku kehilangan keinginan
untuk mencari siapa-siapa lagi.

Dan jika dunia menganggap itu kelemahan,
biarlah.

Sebab aku lebih rela disebut bodoh
karena mencintaimu sepenuh-penuhnya,
daripada menjadi bijaksana
dengan cara kehilangan satu-satunya perempuan
yang benar-benar ingin kucintai.



Topan Arif
Malang, 21 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...