Senin, 24 Agustus 2026

ODE: KEPADA CANDRA

Wahai Candra,
mahkota pucat di kening malam,
jangan terlalu terang malam ini—
ada seorang lelaki
yang takut memejamkan mata.

Bukan karena gulita.

Ia takut pada mimpi
yang selalu mengembalikan
seorang gadis
dengan wajah yang pernah menjadi rumah.

Dahulu, senyumnya adalah fajar;
tatapnya, telaga tempat ia menenggelamkan
seluruh resah dan kesombongan.

Kini ia hanya masa lalu.

Namun cinta begitu kejam:
tubuh dapat pergi,
tetapi nama tinggal berakar
di dalam darah.

Maka lelaki itu berjaga.

Kopi menjadi persembahan,
asap menjadi doa,
dan jarum jam
mengiris malam
setetes demi setetes.

Sebab ia tahu—
tidur berarti bertemu kembali,
dan fajar berarti kehilangan
untuk kedua kalinya.

Wahai Candra,
jika malam ini matanya terpejam,
jangan bangunkan.

Biarkan gadis itu datang
untuk terakhir kalinya.

Biarkan ia memeluknya
di negeri mimpi
yang belum mengenal perpisahan.

Lalu, sebelum fajar merenggutnya,
biarkan ia berbisik:

“Aku masih mencintaimu.
Tetapi malam ini,
aku memilih hidup.”

Dan ketika pagi bertanya
mengapa bulan tampak pucat,
jawablah:

“Seorang lelaki telah berdamai
dengan kehilangan—
tanpa harus membunuh
cinta yang pernah menyelamatkannya.”



Topan Arif
Malang, 25 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...