Senin, 24 Agustus 2026

AKU INGIN MATI DALAM KEADAAN EREKSI

Aku ingin mati dalam keadaan ereksi.

Bukan karena penis harus dipuja,
bukan karena vagina harus disembah,
melainkan karena aku sedang mengejek zaman
yang begitu fasih membicarakan tubuh
tetapi gagap ketika ditanya tentang akal sehat.

Mereka tahu penis.
Mereka tahu vagina.
Mereka tahu kondom dan pelumas seks.

Tetapi ketika ditanya:

“Apa arti tanggung jawab?”

Mereka mendadak kehilangan bahasa.

Mereka berkata,
“Kami saling mencintai.”

Lalu tubuh dijadikan bukti cinta,
hasrat dijadikan keberanian,
kondom dijadikan solusi,
dan akal sehat ditinggalkan di luar kamar.

Lucu.

Untuk membuka celana
tidak diperlukan kedewasaan.

Tetapi untuk menghadapi akibatnya,
mereka berkata:

“Kami belum siap.”

Aku tidak membenci seks.
Aku tidak membenci tubuh.
Hasrat bukan dosa.

Yang menyedihkan adalah manusia
yang menyerahkan kemudi hidupnya
kepada satu organ
yang bahkan tidak punya akal.

Penis bukan raja.
Vagina bukan altar.
Kondom bukan surat nikah.
Pelumas seks bukan sertifikat kedewasaan.

Dan orgasme
bukan ijazah kehidupan.

Aku ingin mati dalam keadaan ereksi
agar orang-orang bertanya:

“Mengapa ereksi?”

Aku akan menjawab dari dalam tanah:

“Karena semasa hidupku
aku melihat terlalu banyak penis
yang lebih berani daripada pemiliknya.”

Mereka berani menyalakan hasrat,
tetapi takut menyalakan tanggung jawab.

Mereka berani mencintai tubuh,
tetapi belum tentu berani menerima konsekuensi.

Maka tulislah di batu nisanku:

«DI SINI TERBARING SEORANG LELAKI
YANG PERNAH MEMILIKI NAFSU,
PERNAH MENGENAL CINTA,
NAMUN BERUSAHA
AGAR AKAL SEHATNYA
TIDAK MATI LEBIH DULU.»

Dan tepat di bawahnya:

AKU INGIN MATI DALAM KEADAAN EREKSI.

Biar vulgar.

Sebab terkadang manusia
harus ditampar dengan kata yang membuatnya malu
agar ia kembali belajar
menghormati dirinya sendiri.



Topan Arif
Malang, 23 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...