Seperti isi dalam rokmu—
kau tumpahkan semesta
dengan segala gaduhnya:
rengginang, rawon, jazz, granat,
dosa, pesta, Tuhan,
bahkan manusia yang mabuk
oleh kebenarannya sendiri.
Tapi izinkan aku bertanya:
siapa yang sebenarnya sedang kita telanjangi—
rokmu, atau zaman?
Sebab di balik kain itu
aku menemukan pasar yang lapar,
bioskop yang menjual mimpi,
gedung-gedung yang menelan langit,
dan meja-meja bilyar
tempat nasib dipukul
dengan tongkat kesombongan.
Aku menemukan hukum
yang tajam kepada yang lapar
namun tumpul di hadapan dasi.
Ayam dicuri—
manusia membakar manusia.
Negeri dicuri—
manusia bertepuk tangan
seolah korupsi adalah pertunjukan
dengan tiket kehormatan.
Lalu Tuhan dipanggil
untuk membenarkan kebencian.
Manusia begitu takut kepada setan,
tetapi memeliharanya
di dalam dada
lalu memberinya nama:
moral.
Kau bilang di dalam rokmu
ada Disneyland,
ada nirwana,
ada fatamorgana.
Sebab dunia memang taman bermain
bagi mereka yang punya tiket,
dan rumah jagal
bagi mereka yang lahir
tanpa uang untuk membelinya.
Sedangkan kami—
anak-anak yang keluar
dari rahim malu dan kemiskinan—
bahkan belum sempat memilih dosa
ketika dunia sudah lebih dulu
menghakimi kelahiran kami.
Jadi jangan buru-buru
menyalahkan isi rokmu.
Barangkali yang busuk
bukan yang berada di bawah kain.
Barangkali busuk itu
ada di tangan yang merogoh,
di mata yang mengintip,
di mulut yang menghakimi,
dan terutama
di kepala manusia
yang mengira dirinya Tuhan.
Jika rokmu memang menyimpan semesta,
biarkan ia tetap terbuka sebagai metafora.
Sebab aku tak ingin
membaca tubuhmu.
Aku ingin membaca
peradaban yang bersembunyi
di baliknya.
Topan Arif
Malang, 11 September 2026
— balasan untuk cocot kencono
Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Upon the Ruins of Mine Own Soul
Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...
-
Setelah kamu pergi... Pertanyaan yang tersisa masih sama... "𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮 ?" Namun...
-
Aku kira aku telah usai denganmu, namun diam-diam, langkahku masih hafal arah pulang ke tempat yang selalu menyimpan namamu. Aku hidup ...
-
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek. Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya. Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan ter...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar