— sebuah satire tentang cinta yang salah membaca kebebasan —
Katanya, perempuan kini telah merdeka.
Tak perlu lelaki,
tak perlu bahu,
tak perlu tangan yang mengulurkan pulang.
Ia telah menjadi negeri berdaulat—
memiliki konstitusi atas tubuhnya sendiri,
dan lelaki hanyalah imigran
yang harus mengantongi visa
setiap kali ingin masuk ke hatinya.
Sebab di negeri yang katanya merdeka itu,
lelaki justru diwajibkan
menjadi rakyat jelata:
membayar pajak kesabaran,
menyetor upeti pengertian,
dan berlutut di hadapan singgasana
yang bahkan tak mengaku dirinya kerajaan.
Ia harus mengerti
ketika perempuan sedang marah,
memaafkan ketika perempuan bersalah,
diam ketika perempuan melukai,
dan tetap tersenyum
agar egonya tidak merasa terancam.
Bukankah indah?
Satu pihak diberi kebebasan
untuk menjadi dirinya sendiri;
pihak lain diberi kebebasan
untuk mencintainya
dengan syarat kehilangan dirinya sendiri.
Lelaki tak boleh menangis—
itu dianggap lemah.
Tak boleh mengeluh—
itu dianggap tak dewasa.
Tak boleh pergi—
itu dianggap tak setia.
Tetapi perempuan boleh berkata,
“Aku begini karena aku perempuan.”
Dan kalimat itu, rupanya,
adalah kartu bebas masuk
bagi segala dosa
yang tak boleh dimiliki lelaki.
Betapa progresifnya zaman ini:
rantai lama dipotong
dari pergelangan perempuan,
lalu ditempa kembali
menjadi kalung di leher lelaki.
Yang satu menyebutnya emansipasi.
Yang lain menyebutnya cinta.
Padahal dari kejauhan,
keduanya tampak seperti satu hal:
perbudakan
yang sudah belajar
memakai bahasa yang lebih indah.
Dan lelaki itu masih berlutut—
bukan karena ia tak punya harga diri,
melainkan karena sejak kecil
ia diajari bahwa mencintai perempuan
berarti menjadi tempat sampah
bagi segala badai
yang tak ingin ia akui sebagai miliknya.
Ironisnya,
ketika ia akhirnya berdiri
dan berkata,
“Aku juga manusia,”
ia justru dituduh
tidak memahami perempuan.
Mungkin benar.
Sebab di dunia yang terbalik,
memahami perempuan berarti memaklumi,
sedangkan memahami lelaki
berarti menuntutnya diam.
Lalu mereka menyebut hubungan itu
setara.
Sungguh sebuah lelucon yang sempurna:
dua orang berdiri di altar cinta,
tetapi hanya satu
yang boleh menjadi manusia.
Topan Arif
Malang, 6 September 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar