Minggu, 06 September 2026

HELEH KONTOL

Kau mengaku lanang sejati—
padahal keberanianmu
hanya gagah di cangkem,
kecut di hadapan kenyataan.

Mulutmu mendirikan kerajaan:
janji menjadi mahkota,
alasan menjadi singgasana.
Begitu tindakan mengetuk pintu,
kau mendadak tak punya rumah.

Katamu, “Aku beda.”
Memang.
Begitu jauhnya
jarak antara ucapan
dan kesanggupanmu.

Kau menabur janji
seperti saudagar menabur harga,
lalu memanen alasan
seperti itu satu-satunya
hasil yang bisa kau banggakan.

Heleh, kontol.

Kau bicara harga diri
seolah martabat pusaka,
padahal setiap janji yang kau ingkari
kau gadaikan dengan tangan sendiri.

Kau menjual kesetiaan
dengan suara lantang,
sementara hatimu
berpintu putar.

Lalu ketika dustamu
menjulang setinggi menara,
kau bersembunyi di balik:

“Aku mung manungsa.”

Iyo.

Manungsa duwe salah.
Kowe duwe pola.

Jangan tuduh takdir
atas janji yang kau khianati.
Jangan salahkan keadaan
atas kegagalan yang kau rawat.

Sebab lelaki sejati
tak perlu meniup terompet
untuk mengumumkan kejantanannya.

Ia melakukan.

Yang lain cuma cangkem—
riuh seperti pasar,
tetapi ketika ditimbang,
isinya angin.

Heleh, kontol.




Topan Arif
Malang, 17 Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...