Jumat, 11 September 2026

EPITAF DUA HATI YANG SALING MEMBUNUH

Aku bukan lelaki
yang pandai menerjemahkan
musim-musim di kepalamu;
aku hanya seseorang
yang terlalu lama mengira
diam adalah cara paling baik
untuk mencintai.

Kita pernah menjadi rumah
bagi dua kesunyian
yang saling menemukan.
Aku mengenal tawamu,
kau mengenal retakku;
dan di antara keduanya
kita menanam cinta
seolah waktu tak akan pernah
menemukan jalan untuk merobohkannya.

Namun malam itu,
kata-kata kehilangan akal,
amarah menjadi api,
dan tangan yang semestinya
menjadi teduh
justru meninggalkan luka.

Sejak saat itu
cinta tak lagi punya
tempat yang utuh untuk pulang.

Jangan katakan itu cinta.
Cinta tak pernah membutuhkan luka
sebagai bukti kesetiaan.

Barangkali kita masih saling mencintai—
hanya saja cinta kita
telah terlalu banyak kehilangan
cara untuk menjadi baik.

Aku masih mengingatmu
seperti bumi mengingat hujan:
dengan bekas basah
yang tak segera kering.

Tetapi aku akhirnya mengerti,
ada perpisahan
yang bukan lahir dari habisnya cinta,
melainkan dari kesadaran
bahwa dua hati yang masih saling mencinta
kadang harus saling menjauh
agar tak kembali saling melukai.

Maka pergilah.

Bawalah seluruh kenangan
yang pernah membuat kita percaya
bahwa selamanya itu nyata.

Aku akan menyimpan namamu
bukan sebagai kebencian,
melainkan sebagai elegi—

tentang dua manusia
yang pernah begitu mencintai,
namun gagal belajar
bagaimana caranya
tidak saling menghancurkan.



Topan Arif
Malang, 11 September 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...