Katanya, leluhur menitipkan tiga pepatah agar manusia tak kehilangan jalan. Tetapi zaman menukar kompas dengan kalkulator, dan nurani dijadikan recehan di laci paling bawah.
Ringan sama dijinjing. Ah... benar. Yang dijinjing hanya mereka yang bernilai. Sisanya dibiarkan menjadi debu di telapak sejarah, dipanggil dengan seribu nama, namun tak pernah disebut manusia.
Miskin bukan sekadar kosong saku, ia adalah dosa yang tak pernah diakui pelakunya. Ia dihujat seperti hujan menghukum tanah, padahal langitlah yang pelit menurunkan awan.
Berat sama dipikul. Betapa anggun dusta itu terdengar. Pundak ternyata mengenal kasta. Ia rapuh di hadapan emas, namun menjadi batu di depan luka. Pelukan menjelma pasar malam: siapa membawa cahaya uang, dialah yang paling hangat dirangkul.
Persaudaraan? Sering kali hanya bayang-bayang yang muncul ketika matahari bernama kepentingan terbit.
Ada udang di balik batu. Kini batunya dibelah. Tak ada udang. Yang bersembunyi hanyalah amplop, jabatan, hutang budi, dan senyum yang disetrika agar tampak tulus.
Keadilan menjahit matanya sendiri. Kebenaran belajar menjadi badut, tertawa di panggung orang kaya, menangis di ruang tunggu orang papa.
Lalu aku bertanya kepada malam, "Siapa yang sesungguhnya miskin?"
Yang tak memiliki uang? Atau yang begitu kaya, hingga seluruh isi dadanya habis dibeli angka?
Sebab tragedi terbesar bukan ketika dompet kosong, melainkan ketika harga diri punya label harga, ketika belas kasih memiliki nominal, dan ketika manusia— dengan sangat sopan— menguburkan nuraninya sendiri, lalu menaburkan bunga sambil menyebut pemakaman itu kehidupan.
Topan Arif
Malang, 1 September 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar