Senin, 04 Maret 2024

𝐓𝐞𝐧𝐭𝐚 𝐑𝐢𝐧𝐝𝐮

Secangkir kopi pahit mengepulkan asapnya
berteman pena yang asyik merangkai diksi menjadi kata
tembakau dan cengkeh bercumbu di sebatang keretek
dibakar api menyala dari korek.

Kenangan enggan beranjak
dan sang waktu terus berjalan
Luka menginflasi hati, dada terasa sesak
perasaan menjadi liar, melahirkan penyesalan.

Keretekku sudah terbakar menjadi abu
Kopi di cangkir perlahan habis bagai rindu yang tergerus waktu
Tapi rasa masih utuh
Pena masih sibuk, melukis tinta kenangan di selarik kertas simpuh.




Topan Arf
Tulungagung, 2024

𝐒𝐚𝐤𝐚𝐮

Aku membayangkan ada disini
dalam rumah pohon denganmu
menyapa deru angin
dan gemericik air yang jatuh 
karena gerimis datang.

Mendengar burung pelatuk berkicau
tentang illegalloging yang
melenyapkan rumah mereka,
Tentang pohon tumbang menghilangkan telur
yang baru saja akan melihat dunia.

Tak banyak yang kita bicarakan
kita minum secangkir kopi
asapnya menggumpal
membentuk wajahmu dalam bayang kekal.

Senyummu yang muncul
bersamaan datang senja
menyambut tenggelamnya sang surya.

Riak air dalam genang tersapu angin
memecah lamunanku
membayangkan hari-hari berlalu
indah saat denganmu.


Topan Arf
Tulungagung, 01-03-2024

𝐋𝐞𝐥𝐚𝐩𝐦𝐮

Malam datang lagi
setelah hari yang panjang
terbungkus lelah
yang menempel di wajah.

Gelap sengaja diciptakan malam
agar matamu lelap terpejam
Ku bisik namamu dengan pelan
Ku titip pada hembus angin semilir perlahan.

Ku harap segera sampai padamu
lalu samar kau dengar suaraku
diantara sadar dan lelap tidurmu



Topan Arf
Tulungagung, 2024

𝐑𝐢𝐧𝐝𝐮 𝐊𝐚𝐛𝐢𝐬𝐚𝐭


Bisa gak kita bicara
tanpa ada rahasia
dalam diri masing-masing?

Bisa kita terbuka
melepas rindu
yang menyiksa diri
selama ini?

Biar aku bisa sekedar
menatap binar matamu
tanpa canggung
menghampiriku.

Dan juga kamu bisa
melihat sesuatu yang ada
pada diriku
dan menemukan dirimu
yang berulang kali masuk
di akal sehatku.


Topan Arf
Tulungagung, 2024

01.22




Lelaki pengecut
Menulis puisi
Dini hari
Menuju pagi

Menatap gambar
Wajahmu samar
Tanpa henti
Bising kepala sepanjang hari

Rintik hujan letih turun
Ganti sejuk datang embun
Menunggu terbit matahari
Cahayamu jauh sekali

Kamu diksi
- kadang indah
Tapi sulit ku mengerti

Kamu puisi
- memang indah
Membuatku serba salah

01.22 dini hari
Hadirmu di hidupku masih penuh teka-teki



Topan Arf
Tulungagung, 29-02-2024

𝐄𝐥𝐞𝐠𝐢 𝐊𝐨𝐭𝐚𝐤𝐮



1 dari 365 hari yang baru
Aku kembali ke kotaku
Menepati janjiku walau dengan rasa kehilangan yang bahkan aku sendiri tak bisa mengungkapkan.

Kira-kira kau jenuh tidak?
Saat aku pulang mengunjungimu hanya untuk menenangkanku dari rumitnya sebuah kehilangan.
Ku harap tidak,
Sebab Tulungagung adalah bagian terbaik bagiku untuk merelakan
Merelakan sesuatu yang tak semestinya ku pertahakankan.

Merelakan,
Saat mereka salahkanku
Saat mereka malayangkan tuduhku
Saat mereka hanya melihat alpaku.

Merelakan,
Saat prahara buatku bersimbah
Saat seteru berserak mengajak meradang
Saat naas sebabkan hati meluka dari sedu sedan.

Tulungagung,
Entah kali keberapa kita berpapasan
Aku selalu suka caramu menyapa lembut bersama angin
Aku suka caramu membawa kesunyian
Aku suka caramu membawaku pada sebuah kenangan
Tulungagung dengan segala romantismenya.

Bagaimana kalau kita bertemu disini?
Dimana jatuh hati disini akan jatuh sejatuh-jatuhnya
Jika patah hati,
Akan patah sepatah-patahnya
Lantas kita bersua dan membangun cinta setinggi-tingginya.


Waksudha paramita; Tulungagungku tercinta.


Topan Arf
Tulungagung, 21-2-2024

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...