Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
Rabu, 26 Agustus 2026
ALTAR MATA
Selasa, 25 Agustus 2026
ELEGฤฐ BAGI YANG TAK KEMBALI
Senin, 24 Agustus 2026
KAU PINDAH, AKU TETAP DIAM
ODE: KEPADA CANDRA
AKU INGIN MATI DALAM KEADAAN EREKSI
BALADA LELAKI YANG TAK PERNAH PULANG
Minggu, 23 Agustus 2026
BEDEBAH YANG MEMBAKAR RUMAHNYA SENDIRI
Tidak Semua Laut Ingin Ditemukan
JANGAN JADIKAN AKU TERDAKWA SEBELUM AKU BERSALAH
Sabtu, 22 Agustus 2026
MONOLOG - AKU, BAJINGAN YANG TERDIDIK
Silakan duduk.
Jangan tegang.
Aku tidak akan menyakitimu.
Setidaknya—
tidak lagi secara langsung.
Aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa manusia tidak harus menggunakan pisau untuk membunuh seseorang.
Kadang cukup dengan janji.
Kadang cukup dengan diam.
Kadang cukup dengan berkata,
"Aku masih sayang."
ketika sebenarnya yang tersisa hanya rasa takut untuk terlihat sebagai penjahat.
Ah, aku memang lelaki yang sopan.
Aku tidak menghancurkan hati orang dengan cara kasar.
Aku melakukannya dengan etika.
Dengan tata bahasa yang baik.
Dengan kalimat lengkap.
Dengan senyum.
Dengan pelukan.
Dengan,
"Maaf, aku sedang banyak pikiran."
Betapa terpelajarnya kebiadabanku.
Aku tidak pernah mengatakan,
"Aku ingin menghancurkanmu."
Tidak.
Aku jauh lebih beradab.
Aku berkata,
"Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik."
Lalu pergi.
Kalimat yang luar biasa mulia, bukan?
Seolah-olah aku sedang melepaskanmu demi kebahagiaanmu.
Padahal sebenarnya aku hanya sedang mencari cara agar bisa pergi tanpa harus terlihat sebagai bajingan.
Dan hebatnya—
berhasil.
Kau menangis.
Aku terlihat dewasa.
Kau kehilangan.
Aku terlihat bijaksana.
Kau terluka.
Aku terlihat sedang menyelamatkanmu.
Lucu sekali.
Kadang kebohongan memang terdengar paling indah ketika dibungkus dengan bahasa yang santun.
Aku juga pernah berkata,
"Aku bukan lelaki sempurna."
Tentu saja.
Siapa yang meminta sempurna?
Yang mereka minta hanya jangan berkhianat.
Jangan berbohong.
Jangan mempermainkan perasaan.
Jangan menjadikan seseorang sebagai rumah sementara ketika kau sendiri sudah menyiapkan koper.
Ternyata permintaan sesederhana itu terlalu berat untuk lelaki sepertiku.
Jadi maaf.
Aku tidak sempurna.
Aku lebih buruk dari itu.
Aku konsisten.
Konsisten mengecewakan.
Konsisten datang ketika kesepian.
Konsisten pergi ketika bosan.
Konsisten meminta dimengerti tanpa pernah belajar memahami.
Konsisten meminta kesempatan kedua dengan dosa yang sama dan wajah yang sedikit lebih menyesal.
Aku memang punya komitmen.
Hanya saja, komitmenku adalah mengulangi kesalahan.
Kau tahu apa yang paling kusukai dari menjadi bajingan?
Aku selalu punya alasan.
Jika aku pergi—
aku sedang mencari jati diri.
Jika aku berbohong—
aku sedang menjaga perasaanmu.
Jika aku berubah—
keadaanlah yang memaksaku.
Jika aku menyakitimu—
aku juga sedang terluka.
Lihat?
Aku bahkan bisa membuat kejahatan terdengar seperti puisi.
Aku bisa menumpahkan bensin lalu menyebut api sebagai takdir.
Aku bisa menghancurkan rumah lalu menyebut reruntuhannya sebagai kenangan.
Aku bisa mengkhianati seseorang lalu menyebutnya "proses pendewasaan."
Betapa canggihnya manusia zaman sekarang.
Bahkan dosa pun sudah punya istilah yang lebih elegan.
Aku pernah ingin menjadi lelaki baik.
Sungguh.
Aku pernah membayangkan diriku sebagai lelaki yang pulang tepat waktu, menepati janji, menjaga seseorang seperti menjaga sesuatu yang sakral.
Tapi kemudian aku bertemu ego.
Kami akrab.
Sangat akrab.
Ia selalu membisikkan:
"Kau pantas mendapatkan yang lebih baik."
"Jangan terlalu terikat."
"Masih banyak yang lain."
"Kau lelaki, jangan terlihat membutuhkan."
Dan aku menurut.
Karena ternyata lebih mudah menjadi lelaki yang tidak peduli daripada lelaki yang harus bertanggung jawab atas perasaannya sendiri.
Bukankah begitu aturan tak tertulis menjadi lelaki hari ini?
Jangan menangis.
Jangan terlalu mencintai.
Jangan terlalu membutuhkan.
Jangan mengaku takut.
Jangan mengaku kesepian.
Jangan bilang kau hancur.
Jadilah keras.
Jadilah dingin.
Jadilah batu.
Lalu ketika semua orang pergi, berdiri sendirian di kamar dan pura-pura tidak apa-apa.
Hebat.
Kami menyebutnya kedewasaan.
Padahal sering kali itu hanya ketidakmampuan untuk mengatakan,
"Aku sebenarnya takut kehilanganmu."
Maka jangan heran kalau aku menjadi seperti ini.
Aku dibesarkan oleh gengsi.
Dididik oleh ego.
Didewasakan oleh kehilangan.
Dan dipoles oleh kebohongan agar terlihat seperti lelaki yang tahu apa yang ia lakukan.
Padahal aku tidak tahu apa-apa.
Aku hanya pandai berjalan dengan kepala tegak di atas reruntuhan yang kubuat sendiri.
Dan kalau kau bertanya apakah aku menyesal—
tentu.
Aku menyesal.
Tetapi jangan terlalu kagum.
Penyesalan tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik.
Kadang penyesalan hanyalah bentuk lain dari egoisme.
Kita menyesal bukan karena telah menyakiti seseorang.
Kita menyesal karena orang itu akhirnya pergi.
Ada perbedaan.
Dan aku tahu perbedaan itu terlambat.
Sekarang lihat aku.
Aku masih hidup.
Masih bekerja.
Masih tertawa.
Masih bisa bercanda seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Bukankah manusia memang luar biasa?
Bisa menghancurkan hati seseorang pada hari Senin,
lalu membeli kopi dengan santai pada hari Selasa.
Bisa membuat seseorang mempertanyakan harga dirinya,
lalu tidur nyenyak karena besok harus bekerja.
Aku bahkan pernah mengatakan,
"Semoga dia bahagia."
Betapa bajingannya aku.
Aku berharap dia bahagia setelah aku sendiri menjadi alasan mengapa ia sulit mempercayai seseorang.
Aku berharap dia menemukan lelaki baik setelah aku mengajarinya bahwa lelaki bisa mengatakan "selamanya" dan tetap pergi.
Sungguh.
Doaku memang indah.
Hanya saja, aku tidak pernah pantas menjadi bagian dari doanya.
Jadi jangan panggil aku korban.
Jangan romantisasi kebusukanku.
Jangan bilang aku hanya lelaki yang salah mencintai.
Tidak.
Aku tahu apa yang kulakukan.
Aku hanya terlalu pengecut untuk mengakuinya ketika semuanya masih bisa diperbaiki.
Aku bajingan.
Tetapi bukan bajingan yang tidak tahu dirinya bajingan.
Aku justru lebih menyedihkan.
Aku tahu.
Aku sadar.
Aku mengerti.
Dan tetap kulakukan.
Itulah yang membuatku jijik kepada diriku sendiri.
Sebab dosa paling besar bukan ketika manusia berbuat salah karena tidak tahu.
Tetapi ketika ia tahu bahwa sesuatu itu salah—
lalu tetap memilihnya.
Jadi, kalau suatu hari kau mendengar namaku disebut dalam sebuah percakapan,
jangan bela aku.
Jangan katakan,
"Sebenarnya dia orang baik."
Tidak perlu.
Biarkan aku menerima seluruh keburukanku tanpa kosmetik moral.
Katakan saja:
"Dia pernah dicintai seseorang dengan sangat tulus, dan dia membalasnya dengan menjadi dirinya sendiri."
Itu sudah cukup.
Dan jika suatu malam aku berdiri di depan cermin dan bertanya,
"Apa kau masih pantas dicintai?"
Aku tidak membutuhkan jawaban.
Sebab cermin tidak pernah berbohong.
Ia hanya memantulkan lelaki yang terlalu lama mengira bahwa kehilangan adalah hukuman.
Padahal bukan.
Hukuman terbesarku bukan kehilangan mereka.
Bukan kesepian.
Bukan penyesalan.
Bukan malam-malam panjang yang harus kulewati sendirian.
Hukumanku jauh lebih sederhana.
Aku harus hidup dengan pengetahuan bahwa pernah ada seseorang yang mencintaiku tanpa syarat—
dan aku mengajarinya untuk tidak pernah mencintai lelaki seperti aku lagi.
Dan suatu hari nanti, mungkin ia akan bertemu lelaki yang jauh lebih baik.
Lelaki yang tidak berbohong.
Tidak bermain-main.
Tidak pergi ketika keadaan sulit.
Lelaki yang membuatnya merasa aman.
Dan aku?
Aku akan tersenyum.
Tentu saja aku akan tersenyum.
Aku akan berkata,
"Syukurlah. Akhirnya dia bahagia."
Lalu ketika pintu kamar tertutup dan tidak ada seorang pun melihat,
aku akan menatap langit-langit sambil menyadari satu hal:
ternyata aku tidak kehilangan perempuan yang kucintai.
Aku kehilangan perempuan yang pernah mencintaiku meskipun aku belum pantas dicintai.
Dan sejak malam itu, aku tahu—
aku tidak takut sendirian.
Aku takut suatu hari aku benar-benar berubah menjadi lelaki baik,
sementara dia sudah terlalu sembuh untuk peduli.
Karena mungkin, itulah ironi paling kejam dari seorang bajingan:
ketika akhirnya ia belajar mencintai dengan benar, orang yang paling pantas menerima cintanya sudah tidak sudi menerimanya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,
aku tidak punya siapa-siapa untuk disalahkan.
Tidak keadaan.
Tidak masa lalu.
Tidak cinta.
Tidak takdir.
Hanya aku.
Aku.
Bajingan yang selama ini kucari-cari alasannya.
Dan ternyata—
akulah alasannya.
Topan Arif
Malang, 14 Agustus 2026
MONOLOG - DIALOG TERAKHIR DENGAN TAKDIR
Kau masih terjaga?
Tentu.
Seorang lelaki sepertiku
tidak pernah benar-benar tidur.
Kami hanya memejamkan mata
setelah selesai berpura-pura kuat
sepanjang hari.
Besok pagi harus bekerja.
Ada tagihan.
Ada cicilan.
Ada orang tua yang semakin tua.
Ada pekerjaan yang tidak boleh kacau
hanya karena kehidupan pribadi sedang berantakan.
Ada orang-orang
yang tetap membutuhkan kita
meskipun kita sendiri
sudah tidak tahu
siapa yang dapat kita mintai pertolongan.
Itulah masalahnya menjadi lelaki dewasa.
Ketika masih muda,
kita mengira menjadi laki-laki
berarti memiliki keberanian.
Setelah dewasa,
kita baru tahu:
menjadi laki-laki sering kali berarti
tetap berjalan
meskipun kita tidak tahu
ke mana harus pergi.
Dan yang lebih menyedihkan—
tidak banyak orang bertanya
apakah kita masih sanggup.
Mereka hanya bertanya:
“Sudah beres?”
Sudah.
“Besok masuk?”
Masuk.
“Urusannya sudah selesai?”
Sudah.
“Kamu baik-baik saja?”
...
“Saya baik-baik saja.”
Kalimat paling pendek
yang pernah diciptakan manusia
untuk menyembunyikan perang.
Aku sudah sangat ahli mengucapkannya.
Dulu aku berpikir
bahwa hidup akan menjadi lebih mudah
ketika aku dewasa.
Ternyata tidak.
Masalah hanya berubah bentuk.
Dulu aku takut dimarahi orang tua.
Sekarang aku takut
tidak mampu menjadi orang tua
yang dapat dibanggakan.
Dulu aku takut kehilangan pacar.
Sekarang aku takut
gagal membangun rumah tangga.
Dulu aku takut tidak punya uang.
Sekarang aku takut
uang yang kupunya
tidak pernah cukup
untuk semua yang harus kutanggung.
Dulu aku takut sendirian.
Sekarang aku tahu
yang lebih menakutkan adalah
merasa sendirian
ketika secara hukum
kau masih memiliki keluarga.
Itu yang tidak pernah diajarkan
oleh siapa pun kepada kita.
Bahwa sebuah rumah
dapat tetap berdiri
sementara pernikahan
di dalamnya telah runtuh.
Bahwa dua orang
dapat tidur di ranjang yang sama
dan bangun
sebagai dua orang asing.
Bahwa seseorang
dapat menggenggam tanganmu
selama bertahun-tahun,
lalu suatu hari
melepaskannya
seolah-olah seluruh hidup
yang kalian bangun
hanyalah kesalahan
yang terlalu lama dipertahankan.
Aku pernah menikah.
Dan aku tidak malu mengatakannya:
aku gagal.
Ya.
Gagal.
Bukan kalimat yang mudah
diucapkan seorang lelaki.
Karena masyarakat menyukai
laki-laki yang berhasil.
Laki-laki yang mapan.
Laki-laki yang mampu menyediakan.
Laki-laki yang tidak banyak mengeluh.
Laki-laki yang pulang membawa solusi.
Tidak banyak yang mengajarkan
apa yang harus dilakukan
ketika seorang laki-laki
pulang membawa kegagalan.
Tidak ada buku petunjuk
untuk seorang suami
yang tidak mampu menyelamatkan
rumah tangganya.
Tidak ada pelatihan
untuk lelaki
yang harus mengembalikan cincin
yang dahulu ia sematkan
dengan keyakinan seumur hidup.
Tidak ada seragam
untuk seseorang
yang secara resmi telah kehilangan
keluarga yang pernah ia sebut
sebagai masa depan.
Maka kita memakai pakaian biasa.
Pergi bekerja.
Bertemu orang.
Makan siang.
Membalas pesan.
Tertawa seperlunya.
Lalu malam tiba.
Dan semua yang kita tahan
sepanjang hari
kembali duduk di samping kita.
Kau tahu apa yang paling menyakitkan?
Bukan ketika dia mengatakan
bahwa semuanya selesai.
Tetapi ketika aku pulang
dan menyadari—
aku tidak lagi memiliki seseorang
yang dapat kuceritakan
tentang bagaimana hariku berjalan.
Aku membuka telepon.
Tidak ada namanya.
Aku mengetik sesuatu.
Menghapusnya.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Kemudian meletakkan telepon.
Begitulah kesepian orang dewasa.
Bukan selalu tentang
tidak memiliki siapa-siapa.
Kadang hanya tentang
memiliki begitu banyak hal
yang ingin diceritakan,
tetapi tidak tahu
kepada siapa.
Dan jangan katakan kepadaku:
“Lupakan saja.”
Aku tahu.
Aku tahu hidup harus berjalan.
Aku tahu waktu tidak akan berhenti
hanya karena rumah tanggaku berakhir.
Aku tahu dunia tidak peduli
apakah malam tadi aku menangis
atau tidak.
Besok tetap Senin.
Alarm tetap berbunyi.
Pekerjaan tetap menunggu.
Atasan tetap meminta laporan.
Karyawan tetap membutuhkan keputusan.
Tagihan tetap datang.
Bensin tetap harus dibeli.
Makan tetap harus dibayar.
Dan kehidupan—
dengan kejamnya—
tetap berjalan
seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi.
Itulah sebabnya
banyak lelaki dewasa
menyimpan kehancurannya
dengan sangat rapi.
Kami tidak punya waktu
untuk berantakan.
Kadang aku iri
kepada mereka yang bisa berkata:
“Aku sedang tidak baik-baik saja.”
Aku tidak tahu bagaimana caranya.
Sejak kecil kami diajarkan:
jangan menangis.
Jangan mengeluh.
Jangan lemah.
Jadilah laki-laki.
Maka kami tumbuh
dengan kemampuan luar biasa:
menelan kesedihan
tanpa mengunyahnya.
Kami menelan penghinaan.
Menelan kegagalan.
Menelan perpisahan.
Menelan rasa takut.
Menelan kecewa.
Sampai suatu hari
perut batin kita penuh
dan tidak ada lagi ruang
untuk memasukkan apa pun.
Lalu kita disebut pemarah.
Dingin.
Tidak komunikatif.
Sulit dipahami.
Padahal mungkin
kita hanya terlalu lama
tidak memiliki tempat
untuk menjadi manusia.
Aku pernah duduk sendirian
di dalam mobil
setelah bekerja.
Mesin sudah mati.
Lampu sudah dimatikan.
Tetapi aku belum turun.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Entah berapa lama.
Bukan karena tidak ingin pulang.
Aku hanya tidak tahu
pulang ke mana.
Rumah?
Rumah itu sudah tidak terasa
seperti rumah.
Kantor?
Kantor bukan tempat pulang.
Masa lalu?
Masa lalu sudah menutup pintu.
Masa depan?
Masa depan belum mengenalku.
Jadi aku duduk di sana—
di dalam mobil yang gelap,
seorang lelaki dewasa
dengan pekerjaan,
pengalaman,
nomor rekening,
nomor telepon,
dan berbagai tanggung jawab,
tetapi tidak memiliki jawaban
atas satu pertanyaan sederhana:
“Untuk apa semua ini?”
Aku pernah menyalahkan diriku.
Berkali-kali.
Mungkin aku kurang baik.
Mungkin aku kurang sabar.
Mungkin aku terlalu sibuk bekerja.
Mungkin aku terlalu keras.
Mungkin aku tidak cukup romantis.
Mungkin aku tidak cukup kaya.
Mungkin aku terlalu banyak diam.
Mungkin aku terlalu banyak bicara.
Mungkin...
mungkin...
mungkin...
Betapa kejamnya pikiran manusia.
Ia mampu membuat seseorang
mengadili dirinya sendiri
tanpa seorang pun menjadi hakim.
Tetapi malam ini
aku ingin berhenti.
Berhenti menghukum diriku
atas semua hal
yang tidak dapat lagi kuubah.
Aku bukan suami yang sempurna.
Aku pernah salah.
Aku pernah egois.
Aku pernah gagal mendengar.
Aku pernah mengatakan sesuatu
yang seharusnya tidak kukatakan.
Aku pernah mengambil keputusan
yang ternyata keliru.
Aku mengakuinya.
Tetapi aku juga tahu—
satu kegagalan
tidak berhak menghapus seluruh nilai
seorang manusia.
Dan sekarang...
aku ingin bicara
kepada takdir.
Sudah cukup.
Aku sudah terlalu lama diam.
Jika memang hidup ingin mengujiku—
uji aku.
Jika ingin menjatuhkanku—
jatuhkan.
Tetapi jangan berharap
aku akan selamanya merangkak.
Aku sudah pernah kehilangan cinta.
Aku sudah pernah kehilangan rumah.
Aku sudah pernah kehilangan
kepercayaan kepada seseorang.
Aku bahkan pernah kehilangan
kepercayaan kepada diriku sendiri.
Lalu apa?
Apa lagi?
Apa yang belum kau ambil?
Katakan!
APA LAGI?
Kau sudah mengambil
orang yang kucintai.
Kau sudah mengambil
rumah yang kubangun.
Kau sudah mengambil
beberapa tahun terbaik
dalam hidupku.
Kau sudah membuatku
mempertanyakan harga diriku sendiri.
Sekarang kau ingin apa?
Air mataku?
Sudah.
Harga diriku?
Sudah pernah kau injak.
Harapanku?
Pernah hampir kau bunuh.
Tetapi ada satu hal
yang ternyata masih tersisa.
Dan malam ini
aku baru menyadarinya.
Kehendakku.
Kehendak untuk tetap hidup.
Kehendak untuk kembali bekerja
meskipun hati belum pulih.
Kehendak untuk membayar tagihan
meskipun kehidupan terasa tidak adil.
Kehendak untuk bangun pagi
meskipun malam sebelumnya
aku ingin menyerah.
Kehendak untuk mencoba mencintai
meskipun aku pernah patah.
Kehendak untuk menjadi manusia
meskipun hidup berkali-kali
memperlakukan aku
seolah-olah aku bukan manusia.
Itu yang tidak bisa kau ambil.
Takdir.
Itu milikku.
Jadi dengarkan aku.
Aku tidak akan meminta
hidup menjadi mudah.
Aku tidak membutuhkan belas kasihan.
Aku tidak ingin dikasihani.
Aku hanya ingin satu kesempatan
untuk membuktikan
bahwa seseorang dapat kehilangan
hampir seluruh yang ia miliki
dan tetap memilih
untuk tidak menjadi pahit.
Aku akan membawa perceraian ini
sebagai sejarah,
bukan sebagai identitas.
Aku akan membawa kegagalan
sebagai pelajaran,
bukan sebagai hukuman.
Aku akan mengingat perempuan itu
tanpa harus kembali kepadanya.
Aku akan menghormati masa lalu
tanpa menjadikannya tempat tinggal.
Dan suatu hari nanti—
jika seseorang bertanya:
“Apa yang terjadi kepadamu?”
Aku tidak akan menjawab
dengan cerita panjang.
Aku hanya akan berkata:
“Aku pernah kehilangan banyak hal.”
Jika mereka bertanya:
“Lalu bagaimana kau bisa bertahan?”
Aku akan menjawab:
“Karena saya tidak punya pilihan lain
selain menjadi lebih kuat
daripada keadaan yang mencoba menghancurkan saya.”
Kau masih di sana?
Ya.
Aku masih di sini.
Dan untuk pertama kalinya
aku tidak takut kepada pagi.
Besok aku akan bangun.
Aku akan mandi.
Aku akan mengenakan pakaian kerja.
Aku akan berangkat.
Aku akan menyelesaikan apa
yang memang harus diselesaikan.
Aku akan membayar apa
yang memang harus dibayar.
Aku akan bertanggung jawab
atas hidupku sendiri.
Bukan karena hidup telah memberiku
akhir yang bahagia.
Tetapi karena aku akhirnya mengerti:
kedewasaan bukan tentang
memiliki kehidupan yang sempurna.
Kedewasaan adalah kemampuan
untuk tetap menjalankan kehidupan
ketika kehidupan itu sendiri
tidak berjalan sesuai keinginan.
Dan jika suatu hari
takdir kembali mengetuk pintuku—
silakan.
Aku akan membukanya.
Tidak dengan ketakutan.
Tidak dengan doa agar ia pergi.
Tetapi dengan kepala tegak.
Sebab sekarang aku tahu
siapa yang berdiri di balik pintu.
Bukan lagi lelaki
yang dulu memohon agar hidup
berhenti menyakitinya.
Melainkan lelaki
yang telah merasakan sakit
sampai ke batas terakhir
dan berkata:
“Sekarang giliran saya.”
Jika kau ingin mengambil sesuatu—
ambil.
Jika kau ingin mengujiku—
uji.
Jika kau ingin menjatuhkanku—
jatuhkan.
Tetapi ingat satu hal:
aku sudah pernah berada
di titik paling rendah
dalam hidupku.
Dan aku berhasil keluar.
Jadi jangan salah mengira
bekas luka sebagai kelemahan.
Jangan mengira kesunyian
sebagai kekalahan.
Dan jangan mengira
seorang lelaki yang diam
tidak sedang berperang.
Karena mungkin
di balik diamnya,
ada sebuah dunia
yang sedang ia bangun kembali
dari reruntuhan.
Dan malam ini—
aku tidak sedang meminta
takdir mengubah hidupku.
Aku sedang memberi tahu takdir
bahwa aku akan mengubahnya sendiri.
Aku belum selesai.
Belum.
Selama masih ada pagi
yang dapat kutemui,
selama masih ada pekerjaan
yang dapat kuselesaikan,
selama masih ada orang tua
yang dapat kupeluk,
selama masih ada tubuh
yang sanggup kubawa berjalan,
selama masih ada satu alasan
untuk membuka mata—
aku belum selesai.
Dan jika suatu hari nanti
aku kembali mencintai,
aku tidak akan mencintai
karena takut sendirian.
Aku akan mencintai
karena aku sudah selesai
berdamai dengan diriku sendiri.
Jika suatu hari nanti
aku kembali membangun rumah,
aku tidak akan membangunnya
di atas ketakutan akan kehilangan.
Aku akan membangunnya
di atas kesadaran
bahwa manusia dapat tinggal
tanpa harus saling memiliki.
Dan jika suatu hari nanti
hidup kembali mengujiku,
aku akan tersenyum.
Bukan karena aku tidak takut.
Tetapi karena aku sudah pernah
berdiri di hadapan kehancuran
dan berkata:
“Saya masih di sini.”
Jadi, takdir—
datanglah.
Aku tidak lagi menunggumu
dengan tangan gemetar.
Aku menunggumu
dengan kedua kaki
yang telah belajar berdiri.
Kau boleh mengambil masa laluku.
Kau boleh mengubah rencanaku.
Kau boleh menghancurkan
apa yang kubangun.
Tetapi satu hal
tidak akan kuberikan kepadamu:
hak untuk menentukan
siapa diriku.
Itu keputusan terakhir
yang masih menjadi milikku.
Dan malam ini—
aku memilih diriku sendiri.
Bukan karena aku tidak pernah gagal.
Bukan karena aku tidak pernah patah.
Tetapi karena setelah seluruh kehilangan itu,
aku masih mempunyai keberanian
untuk melanjutkan hidup.
Itu bukan kemenangan besar.
Namun untuk seorang lelaki
yang pernah merasa
tidak memiliki apa-apa lagi—
itu sudah cukup
untuk memulai kembali.
Topan Arif
Malang, 2 Agustus 2026
MONOLOG - Nusantara
Ketika Bumi Menggugat Langit
Dengarkan...
Jangan bertepuk tangan.
Jangan dulu.
Sebab malam ini
yang hendak kita dengarkan
bukan puisi.
Melainkan—
suara bumi
yang sedang sekarat.
Dengarkan...
Di bawah telapak kakimu
ada tanah yang pernah menyimpan
darah para leluhur.
Di atas kepalamu
ada langit yang dahulu
dipercayakan kepada manusia
untuk dijaga.
Dan di antara keduanya—
berdiri kita.
Manusia.
Makhluk yang mengaku paling beradab,
namun tangannya paling lihai
mengoyak rahim kehidupan.
Nusantara!
Tanah yang dahulu
disebut zamrud—
kini hijau hanya
pada warna uang
yang mengalir di meja-meja kekuasaan!
Hutannya ditebang.
Gunungnya dibelah.
Sungainya dicekik limbah.
Lautnya dikuras.
Tanahnya dipagari.
Lalu manusia berdiri
di hadapan kehancuran
sambil tersenyum dan berkata:
“Ini pembangunan.”
Pembangunan?
Atas nama siapa?
Kemajuan?
Menuju ke mana?
Kesejahteraan?
Untuk siapa?
Ah...
Betapa agung peradaban kita.
Kita mampu membangun gedung
setinggi kesombongan.
Kita mampu membuat jalan
sepanjang kerakusan.
Kita mampu menembus langit
dengan mesin-mesin canggih.
Namun anehnya—
kita gagal memahami
bahwa pohon yang ditebang
tidak dapat tumbuh kembali
hanya karena pidato.
Kita menanam satu pohon
lalu memotret diri sendiri.
Seolah bumi
membutuhkan kamera
untuk mengakui kebaikan kita.
Lucu.
Sungguh lucu.
Manusia menghancurkan rumahnya sendiri
kemudian mengadakan seminar
tentang cara menyelamatkan rumah.
Kalian!
Yang duduk nyaman
di balik meja kekuasaan!
Kalian yang mengukur hutan
dengan luas konsesi!
Kalian yang menimbang gunung
dengan harga komoditas!
Kalian yang menghitung sungai
dengan angka keuntungan!
Pernahkah sekali saja—
sekali saja!
kalian menghitung
berapa banyak burung
yang kehilangan rumah?
Berapa banyak ikan
yang kehilangan sungai?
Berapa banyak petani
yang kehilangan tanah?
Berapa banyak anak
yang kelak mewarisi
udara yang tidak layak dihirup?
Ataukah semuanya
terlalu kecil
dibandingkan angka
di rekening kalian?
Dan di suatu tempat
seorang ibu menatap sungai.
Dahulu airnya jernih.
Anaknya mandi di sana.
Ikan-ikan berkejaran
di bawah matahari.
Kini sungai itu
membawa warna
yang bukan lagi warna air.
Ia membawa busa.
Ia membawa limbah.
Ia membawa dosa.
Sang ibu bertanya:
“Ke mana perginya sungai kami?”
Tidak ada yang menjawab.
Sebab sungai telah mati
jauh sebelum manusia
berani mengakui
bahwa mereka adalah pembunuhnya.
Gunung pun mulai bicara.
Bukan dengan bahasa manusia.
Ia berbicara
melalui longsor.
Ia berbicara
melalui retakan tanah.
Ia berbicara
melalui banjir
yang menerobos rumah-rumah.
Dan manusia kembali berkata:
“Bencana.”
Tidak.
Kadang-kadang
yang kita sebut bencana
adalah—
surat balasan
dari alam
atas surat penghancuran
yang telah kita kirim
bertahun-tahun.
Jangan salahkan hujan!
Jangan salahkan angin!
Jangan salahkan sungai!
Jangan salahkan gunung!
Jangan salahkan laut!
Sebab alam
tidak pernah menandatangani
izin untuk dihancurkan!
KITALAH
YANG MENANDATANGANINYA!
Dengan kapak!
Dengan mesin!
Dengan keserakahan!
Dengan tanda tangan!
Dengan stempel!
Dengan keputusan-keputusan
yang kadang lebih cepat
melindungi angka
daripada melindungi kehidupan!
PENGADILAN BUMI
Bayangkan...
Suatu malam
ketika seluruh kota terlelap,
bumi bangkit
dari ranjang lukanya.
Gunung-gunung berdiri
seperti para saksi tua.
Sungai-sungai membawa
berkas kesaksian.
Hutan-hutan yang tersisa
menjadi barisan para korban.
Laut membentangkan
hamparan biru
sebagai kitab perkara.
Dan di tengah semuanya—
manusia berdiri sebagai terdakwa.
Tidak ada pengacara.
Tidak ada kamera.
Tidak ada konferensi pers.
Tidak ada mikrofon
untuk memperindah kebohongan.
Hanya bumi.
Dan ingatan.
Lalu terdengarlah suara:
“Manusia.”
“Aku memberimu hutan.”
Manusia menjawab:
“Untuk kayu.”
“Aku memberimu sungai.”
“Untuk industri.”
“Aku memberimu laut.”
“Untuk sumber daya.”
“Aku memberimu tanah.”
“Untuk dimiliki.”
Bumi terdiam.
Lalu bertanya:
“Dan apa yang kau berikan kepadaku?”
Manusia membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
Karena apa yang kita berikan
kepada bumi?
Asap.
Limbah.
Luka.
Kepunahan.
Dan keserakahan
yang kita wariskan
dengan nama kemajuan.
Lalu bumi berkata:
“Aku tidak pernah meminta
engkau menyembahku.”
“Aku hanya meminta
jangan bunuh aku.”
“Aku tidak pernah meminta
engkau memujiku.”
“Aku hanya meminta
jangan racuni aku.”
“Aku tidak pernah meminta
engkau mencintaiku
dengan kata-kata.”
“Aku hanya meminta
engkau menjagaku
dengan perbuatan.”
Namun manusia
masih saja berdebat.
Mereka membuat rapat.
Mereka membentuk panitia.
Mereka menyusun dokumen.
Mereka mengadakan konferensi.
Mereka mengucapkan:
“Kami prihatin.”
Prihatin!
Betapa murahnya sebuah kata
ketika hutan telah menjadi abu!
Betapa indahnya sebuah pidato
ketika sungai telah menjadi racun!
Betapa gagahnya sebuah slogan
ketika anak-anak tumbuh
di bawah langit yang kehilangan biru!
Kita terlalu pandai berkata-kata
dan terlalu malas menyelamatkan kehidupan!
Maka dengarkan baik-baik!
Bukan bumi
yang membutuhkan manusia
untuk tetap hidup.
Manusialah
yang membutuhkan bumi!
Bumi telah hidup
jauh sebelum nama kita ditemukan.
Hutan telah bernapas
sebelum kerajaan-kerajaan berdiri.
Laut telah bergelombang
sebelum manusia mengenal uang.
Gunung telah menjaga langit
sebelum manusia mengenal kekuasaan.
Tetapi kita datang—
dengan mahkota kesombongan
di kepala,
dengan pisau keserakahan
di tangan,
dan mengira
seluruh semesta
diciptakan untuk melayani kita!
SIAPA YANG MEMBERI KITA HAK ITU?
Siapa?
Nusantara...
Maafkan kami.
Kami menyebutmu tanah air,
tetapi memperlakukanmu
seperti tanah rampasan.
Kami menyebutmu ibu,
tetapi menggergaji tulangmu.
Kami menyebutmu warisan,
tetapi menjual tubuhmu
kepada generasi berikutnya
dalam keadaan terluka.
Kami mengajarkan anak-anak
untuk mencintai negeri,
tetapi diam-diam
mengajari mereka
cara mengeksploitasi negeri.
Dan kelak...
Seratus tahun dari hari ini...
Seorang anak berdiri
di depan sebuah buku sejarah.
Ia membaca:
“Dahulu,
di negeri bernama Nusantara,
tumbuh hutan yang sangat luas.”
Anak itu bertanya:
“Hutan itu apa?”
Guru menjawab:
“Tempat pohon tumbuh.”
Anak itu bertanya lagi:
“Pohon itu apa?”
Guru terdiam.
Sebab generasi itu
hanya mengenal pohon
dari gambar.
Burung?
Dari video.
Sungai?
Dari museum.
Laut?
Dari arsip.
Dan kata “hutan”
menjadi kata purba
yang tidak lagi dipahami
oleh lidah manusia.
Apakah itu
yang kita inginkan?
Kalau tidak—
BERHENTI!
Berhenti menjadikan bumi
sebagai makam bagi keserakahan!
Berhenti menjadikan hutan
sebagai angka!
Berhenti menjadikan sungai
sebagai saluran pembuangan!
Berhenti menjadikan laut
sebagai tempat sampah
peradaban!
Berhenti menjadikan kekuasaan
sebagai pisau
yang memotong masa depan!
Karena suatu hari—
jabatanmu akan selesai.
Gedungmu akan runtuh.
Hartamu akan diwarisi orang lain.
Namamu akan memudar.
Foto-fotomu akan menguning.
Tetapi luka bumi—
mungkin akan tinggal
lebih lama daripada namamu!
Maka jangan wariskan
kepada anak-anak kita
sebuah dunia
yang hanya pandai bercerita
tentang keindahan masa lalu!
Jangan!
Jangan wariskan
sungai yang mati!
Jangan wariskan
hutan yang tinggal nama!
Jangan wariskan
laut yang penuh plastik!
Jangan wariskan
langit yang kehilangan bintang!
Jangan wariskan
sebuah peradaban
yang kaya akan gedung
tetapi miskin kehidupan!
Karena anak-anak kita
tidak meminta istana.
Mereka hanya meminta
sebuah bumi
yang masih layak disebut rumah.
Sebab kelak...
ketika manusia terakhir
berdiri di hadapan bumi
yang telah kehilangan warna,
bumi mungkin tidak akan bertanya:
“Siapa yang paling kaya?”
Ia tidak akan bertanya:
“Siapa yang paling berkuasa?”
Ia hanya akan bertanya:
“Ketika aku hampir mati...
mengapa kalian memilih diam?”
Dan pada saat itu—
tidak akan ada pidato.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada uang.
Tidak ada stempel.
Tidak ada kekuasaan.
Hanya manusia...
dan bumi...
yang saling menatap
dalam keheningan
yang tidak dapat dibeli.
Jaga bumi.
Sebelum bumi
hanya tinggal—
nama.
Topan Arif
Malang, 23 Agustus 2026
Kakawin Rasa Nirantara III
Upon the Ruins of Mine Own Soul
Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...
-
Setelah kamu pergi... Pertanyaan yang tersisa masih sama... "๐๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ฏ๐ฎ๐ต๐ฎ๐ด๐ถ๐ฎ ?" Namun...
-
Aku kira aku telah usai denganmu, namun diam-diam, langkahku masih hafal arah pulang ke tempat yang selalu menyimpan namamu. Aku hidup ...
-
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek. Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya. Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan ter...