Hari ini aku akan mengakui,
Sudah hilang harga diri dihadapanmu, perilakumu membuatku berpikir bahwa aku sudah tidak berharga lagi di jauh matamu memandang, aku adalah sampah yang kamu buang dengan cuma-cuma.
Aku pernah berusaha menjadi lelaki penurut tapi aku ditindas.
Aku pernah berusaha menjadi laki-laki yang tulus tapi aku tidak dihargai.
Aku juga berusaha menjadi lelaki yang sabar tapi lagi-lagi aku dihancurkan, dikecewakan.
Ternyata benar, berusaha terlalu keras buat membuktikan seberapa tulusnya aku ke kamu hanya membuatku semakin kamu rendahkan. Aku mati-matian membuktikan kalau aku sayang, dengan gampangnya kamu mati-matian menyakiti perasaanku dengan segala penilaian yang keluar dari mulutmu maupun ketikanmu.
Melihat respon kamu yang seperti itu membuatku berpikir mungkin saja pernaku sudah tidak lagi kamu butuhkan. Mungkin aku laki-laki tidak tahu diri yang selalu ingin dicintai hebat olehmu tanpa berkaca seburuk apa diriku. Egomu terlalu tinggi dek, sampai kamu lupa laki-laki ini lebih mengutamakan dirimu daripada dirinya sendiri, tanpa kamu sadar dia selalu mengalah denganmu, selalu sabar menghadapi sikapmu tanpa kamu berpikir apa yang sedang aku rasakan karena bagimu itu menyenangkan.
Berhenti menyirami tanaman mati,
Saling menghargai itu omong kosong,
Semua itu tergantung kepentingan,
Semua akan dihargai kalau sedang dibutuhkan.
Topan Arif
Tulungagung, 29 November 2024
Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
Kamis, 28 November 2024
Rabu, 27 November 2024
Dari Akar Untuk Daun Gugur
Kalau bukan sama kamu terus mau sama siapa lagi?
Cuma sama kamu senyum di wajah bisa merekah sendiri
Cuma sama kamu aku bisa manja walau tak seutuhnya merasa dicinta
Kalau udah cinta sama seseorang mau seluruh dunia bilang dia buruk juga aku tetap cinta
Kurang ini itu seperti kata mereka juga tidak akan merubah semua
Ibarat rasa itu adalah benih dan rindu adalah akar
Kasih sayang menjelma jadi pupuk mekar di tanah
Kuncup bunga yang tumbuh adalah cinta
Mekar jadi kembang seperti tembang-tembang bertalu dikidungkan
Jangan biarkan hati tumbang karena banyak kumbang yang berdatangan menuai benang kala hari mulai petang
Begitulah akar-akar yang menancap kuat karena cinta berkata
Akar-akar itu yang membawa indahnya kehidupan yang ada di taman-taman
Akar-akar yang tidak lapuk meski tidak terurus
Yang tidak mati diterpa ganas kemarau
Yang tidak musnah terpotong tajam cangkul
Akar tetap saja terdiam di ladang begitu sabar menunggu musim untuk kembali bertunas
Begitu kuat akar-akar ini bertahan disini
Itulah aku, akar-akar yang tertanam itu
Burung-burung bermigrasi membawa perpisahan menjatuhkan daun cinta kita pada musim gugur pertama, semoga kelak di musim penghujan kita dipertemukan kembali, diguyur rindu sederas air yang turun membasahi apa yang ada pada semesta
Topan Arif
Tulungagung, 27 November 2024
Cuma sama kamu senyum di wajah bisa merekah sendiri
Cuma sama kamu aku bisa manja walau tak seutuhnya merasa dicinta
Kalau udah cinta sama seseorang mau seluruh dunia bilang dia buruk juga aku tetap cinta
Kurang ini itu seperti kata mereka juga tidak akan merubah semua
Ibarat rasa itu adalah benih dan rindu adalah akar
Kasih sayang menjelma jadi pupuk mekar di tanah
Kuncup bunga yang tumbuh adalah cinta
Mekar jadi kembang seperti tembang-tembang bertalu dikidungkan
Jangan biarkan hati tumbang karena banyak kumbang yang berdatangan menuai benang kala hari mulai petang
Begitulah akar-akar yang menancap kuat karena cinta berkata
Akar-akar itu yang membawa indahnya kehidupan yang ada di taman-taman
Akar-akar yang tidak lapuk meski tidak terurus
Yang tidak mati diterpa ganas kemarau
Yang tidak musnah terpotong tajam cangkul
Akar tetap saja terdiam di ladang begitu sabar menunggu musim untuk kembali bertunas
Begitu kuat akar-akar ini bertahan disini
Itulah aku, akar-akar yang tertanam itu
Burung-burung bermigrasi membawa perpisahan menjatuhkan daun cinta kita pada musim gugur pertama, semoga kelak di musim penghujan kita dipertemukan kembali, diguyur rindu sederas air yang turun membasahi apa yang ada pada semesta
Topan Arif
Tulungagung, 27 November 2024
Senin, 25 November 2024
Persepsi Bulan
Dalam hening malam yang menyapa sandarku pada sudut kamar
Aku tatapi langit yang cahaya bintangnya kerlap-kerlip dari balik jendela
Gegau aku tatkala rindu itu runtuh diterpa badai
Hati pilu penuh suram seperti awan yang muncul menutupi bintang
Delusi perlahan berlalu tersapu angin malam
Aku risau jejakmu akan terhapus perlahan oleh rintik hujan
Persepsi dari mimpi seakan pecah seperti debu yang menghambur waktu
Aku hampa dalam diam menyaksisan kita sudah beda arah tujuan
Waktu semakin memburuku merenggut cinta yang menyisakan sedikit luka dihatiku
Risauku terus terangkai dalam acalapati aksara pena
Samar sengap datang kala mentari menyapa asmaraloka
Harsa bahkan tidak peduli lagi dengan cahaya
Kampa sang wijaya kusuma sayup menyusup relung jiwa
Aku pertegas!
Sinarmu bukan milikmu, itu hanya pantulan
Binarmu bukan milikmu, itu hanya pancaran
Senyum itu bukan milikmu, itu hanya bayang-bayang
Sebab bulan bukanlah bintang yang selalu punya cahaya
Sebab bulan bukan juga surya yang selalu terang sinarnya
Bulan hanya teman bagi bumi untuk sehidup semati
Bulan hanya teman bagi bumi untuk tidak sendiri
Tapi bulan, dia tanda cinta abadi yang tak akan berhenti
Topan Arif
Tulungagung, 25 November 2024
Aku tatapi langit yang cahaya bintangnya kerlap-kerlip dari balik jendela
Gegau aku tatkala rindu itu runtuh diterpa badai
Hati pilu penuh suram seperti awan yang muncul menutupi bintang
Delusi perlahan berlalu tersapu angin malam
Aku risau jejakmu akan terhapus perlahan oleh rintik hujan
Persepsi dari mimpi seakan pecah seperti debu yang menghambur waktu
Aku hampa dalam diam menyaksisan kita sudah beda arah tujuan
Waktu semakin memburuku merenggut cinta yang menyisakan sedikit luka dihatiku
Risauku terus terangkai dalam acalapati aksara pena
Samar sengap datang kala mentari menyapa asmaraloka
Harsa bahkan tidak peduli lagi dengan cahaya
Kampa sang wijaya kusuma sayup menyusup relung jiwa
Aku pertegas!
Sinarmu bukan milikmu, itu hanya pantulan
Binarmu bukan milikmu, itu hanya pancaran
Senyum itu bukan milikmu, itu hanya bayang-bayang
Sebab bulan bukanlah bintang yang selalu punya cahaya
Sebab bulan bukan juga surya yang selalu terang sinarnya
Bulan hanya teman bagi bumi untuk sehidup semati
Bulan hanya teman bagi bumi untuk tidak sendiri
Tapi bulan, dia tanda cinta abadi yang tak akan berhenti
Topan Arif
Tulungagung, 25 November 2024
Sabtu, 23 November 2024
Sadar Diantara Ketidaksadaran
Aku belajar menjauh saat sadar bahwa sudah diabaikan
Aku belajar untuk mengambil jarak saat sadar sudah tidak dipedulikan
Aku belajar untuk berkata tidak saat tahu dicari hanya untuk dibutuhkan
Aku belajar menempatkan diri dimana posisiku berada, jangan sampai saat kamu disampingku hanya karena waktu luangmu
Dan saat saat bahagia, kamu tidak pernah mau menghabiskan waktu dengan aku
Sekarang belajar untuk tidak berlebihan lagi
Belajar untuk tidak mengharapkan lagi
Kalau diabaikan ya aku abaikan juga
Karena kalau kamu memang yang terbaik maka kamu akan memperlakukanku dengan baik juga
Aku tidak menyalahkan keadaan
Hanya aku sadar diri dengan segala kekurangan
Terkadang aku merasa pantas untuk diabaikan
Sebab aku juga tidak terlalu sempurna untuk diperhatikan
Jika kelak semua tidak seperti biasa, maka kamu harus terbiasa tanpa semua
Ternyata makin kesini makin paham
Bukan aku yang kurang baik dalam memperlakukan kamu
Namun kamu yang sedari dulu tidak paham bagaimana cara merespon setiap perlakuan khusus yang pernah aku berikan
Aku terlalu memikirkan orang lain hingga tidak sadar jika diriku sendiri sedang terluka
Yang aku rasa terkadang sikapmu sangat membingungkan
Kadang kamu terlihat sangat menginginkan aku
Kadang juga kamu seolah tidak pernah menginginkanku
Mentalku sudah berantakan
Jadi mau bahagia ataupun sedih bagiku sama saja
Aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa, bahkan aku sendiri tidak tahu
Apakah aku sedang senang atau sedih semuanya seperti hampa
Balajarlah untuk peduli dan menghargai karena aku ingin melihat bahagiamu walaupun bahagiamu tidak bersamaku
Di kesempatan kedua yang kamu beri
Kamu berhasil menyakitiku lagi
Tetapi lagi dan lagi aku selalu gagal membencimu
Entah, aku yang terlalu bodoh apa rasa sayangku yang terlalu besar
Untuk membencimu pun hati terasa gusar
Apalagi yang aku tunggu?
Apalagi yang aku harapkan?
Sampai kapan aku akan bertahan dengan ketidakpastian?
Jelas sudah kamu tampar keras semua puncak pengharapan
Kenapa aku masih erat memeluk sebuah harapan jika hanya aku yang berjuang?
Dimana kesadaranku?
Hujan akan reda dan tugasku sebagai payung akan usai segera
Topan Arif
Tulungagung, 24 November 2024
Aku belajar untuk mengambil jarak saat sadar sudah tidak dipedulikan
Aku belajar untuk berkata tidak saat tahu dicari hanya untuk dibutuhkan
Aku belajar menempatkan diri dimana posisiku berada, jangan sampai saat kamu disampingku hanya karena waktu luangmu
Dan saat saat bahagia, kamu tidak pernah mau menghabiskan waktu dengan aku
Sekarang belajar untuk tidak berlebihan lagi
Belajar untuk tidak mengharapkan lagi
Kalau diabaikan ya aku abaikan juga
Karena kalau kamu memang yang terbaik maka kamu akan memperlakukanku dengan baik juga
Aku tidak menyalahkan keadaan
Hanya aku sadar diri dengan segala kekurangan
Terkadang aku merasa pantas untuk diabaikan
Sebab aku juga tidak terlalu sempurna untuk diperhatikan
Jika kelak semua tidak seperti biasa, maka kamu harus terbiasa tanpa semua
Ternyata makin kesini makin paham
Bukan aku yang kurang baik dalam memperlakukan kamu
Namun kamu yang sedari dulu tidak paham bagaimana cara merespon setiap perlakuan khusus yang pernah aku berikan
Aku terlalu memikirkan orang lain hingga tidak sadar jika diriku sendiri sedang terluka
Yang aku rasa terkadang sikapmu sangat membingungkan
Kadang kamu terlihat sangat menginginkan aku
Kadang juga kamu seolah tidak pernah menginginkanku
Mentalku sudah berantakan
Jadi mau bahagia ataupun sedih bagiku sama saja
Aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa, bahkan aku sendiri tidak tahu
Apakah aku sedang senang atau sedih semuanya seperti hampa
Balajarlah untuk peduli dan menghargai karena aku ingin melihat bahagiamu walaupun bahagiamu tidak bersamaku
Di kesempatan kedua yang kamu beri
Kamu berhasil menyakitiku lagi
Tetapi lagi dan lagi aku selalu gagal membencimu
Entah, aku yang terlalu bodoh apa rasa sayangku yang terlalu besar
Untuk membencimu pun hati terasa gusar
Apalagi yang aku tunggu?
Apalagi yang aku harapkan?
Sampai kapan aku akan bertahan dengan ketidakpastian?
Jelas sudah kamu tampar keras semua puncak pengharapan
Kenapa aku masih erat memeluk sebuah harapan jika hanya aku yang berjuang?
Dimana kesadaranku?
Hujan akan reda dan tugasku sebagai payung akan usai segera
Topan Arif
Tulungagung, 24 November 2024
Naraya
Hamparan pasir berhambur tersapu silir angin.
Ombak berdesir menghempas tubuh perahu.
Awan biru mulai menghitam di ufuk barat.
Sandhyฤ perlahan sembunyi diantara gelap megha.
Melihatmu si mata teduh duduk bersimpuh di samping pantai di bawah pohon kelapa.
Rambut bergejolak tersisir angin yang berhembus sepoi.
Menerpa wajah juwita dari sang dayita, menerjang seluruh raga dan rasa.
Senyum tipis di ranum wajahmu terasa berat, mendung murungmu jelas nampak pada lesung pipi.
Kakimu telanjang menginjak bekas jejak.
Setelah lelah menatap luas lautan lepas.
Berdiri dihamparan pasir yang telah menjadi sendu dalam sesak.
Meninggalkan jejak kesedihan yang merangkulmu dalam bebas.
Hujan rintik mengguyur air mata yang perlahan mulai sirna.
Masih aku lihat sedikit sisa luka pada kelopak mata kamu yang askara.
Kala kita terhenti, tatapan yang seolah menarik lagi memori tentang kisah yang pernah kita lalui.
Namun halnya detik waktu yang mengukup rindu selalu tentangmu, akankah membawa kita kembali atau meninggalkan lalu pergi.
Apakah bahagia akan menjadi akhir dari semua episode kisah kita?
Topan Arif
Tulungagung, 22 November 2024
Ayu
Satu hari di malam itu
Kala hangat menjelma peluk
Aku serupa dingin pelik beku
Kamu serupa hangat yang tunduk
Kudapati kita masih sama terjaga
Mengepal harapan yang kita punya
Ada fase yang hampir menyerah
Sebab enggan seperti hari kemarin dan simpuh pasrah
Baru hari itu aku mengenalmu
Yang tak lagi obrolan sebatas kata
Yang tak lagi panggilan kosong hampa tanpa makna
Memilih menghabiskan waktu bersamamu menawan rindu menjamin mau
Mengenal sosok dewi terapik
Aku enggan tertipu sanubari yang picik
30 jam akan cepat berlalu
Untuk dirimu sundara dari timur berjuluk ayu
Cemas akan mulai jadi hobi baru
Tiap kudapati sehari tanpa kabar darimu
Alam sengaja menawarkan miliaran cerita pada kita
Untuk aku tuliskan pada pangkal amigdala
Hanya lewat gawai aku bisa banyak bertukar cakap
Sadar berbalas pesan tak selalu berbalas perasaan
Kidung bertalu selaras notasi hati yang berangkap
Mendambakan doa yang terlantunkan sampai hati mau bertuan
Mendung hitam hilang dari mega yang perlahan terang
Samudra membiru tersorot cahaya
Sebab hujan tampak mencipta indah pancawarna kala siang
Kini langit tak lagi murung karena sirna mendung oleh surya
Topan Arif
Tulungagung, 23 November 2024
(Terinspirasi dari gadis lombok timur)
Kamis, 21 November 2024
Terkidung Mantra
Harapan datang deras seperti hujan bulan november,
membasahi rindu yang sempat mengering diterpa kemarau.
Pohon mulai menghijaukan rambutnya yang sempat gugur,
mengelopak indah bunga memekarkan mahkotanya.
Riuh dendang musik seirama langkah kaki yang sedang menari.
Aku berpesta seorang diri, tak ada yang diundang.
Berirama sendiri.
Menunggu lebah madu yang siap menghisap manisku sendiri.
Muka yang pucat pasi, pakaian mulai menguning karena lusuh sebab keringat.
Tubuh sibuk meliuk kesana kemari dengan senyum terpancar kenangan teringat.
Sesekali mata terpejam dan tajam menelaah tiap sudut ruang.
Setelahnya samar terdengar isakan yang makin lama menjadi raungan.
Setiap racauannya percik cinta dan sakit-sakitnya.
Makna mutlak bergantung di hati manusia.
Representasi tiap-tiap sudut pandang yang berbeda.
Jadi cumbu yang menarik semua pasang mata.
Sayangnya aku sendirian menari menginterpretasi liuk liar,
Melenggak-lenggok seiring irama musik sakral.
Sembari ku kidungkan doa kepada segala dzat yang mendengar.
Aku si lelaki lusuh pekat bau dupa kemenyan seperti entitas dimensi astral.
Topan Arif
Tulungagung, 21November 2024
membasahi rindu yang sempat mengering diterpa kemarau.
Pohon mulai menghijaukan rambutnya yang sempat gugur,
mengelopak indah bunga memekarkan mahkotanya.
Riuh dendang musik seirama langkah kaki yang sedang menari.
Aku berpesta seorang diri, tak ada yang diundang.
Berirama sendiri.
Menunggu lebah madu yang siap menghisap manisku sendiri.
Muka yang pucat pasi, pakaian mulai menguning karena lusuh sebab keringat.
Tubuh sibuk meliuk kesana kemari dengan senyum terpancar kenangan teringat.
Sesekali mata terpejam dan tajam menelaah tiap sudut ruang.
Setelahnya samar terdengar isakan yang makin lama menjadi raungan.
Setiap racauannya percik cinta dan sakit-sakitnya.
Makna mutlak bergantung di hati manusia.
Representasi tiap-tiap sudut pandang yang berbeda.
Jadi cumbu yang menarik semua pasang mata.
Sayangnya aku sendirian menari menginterpretasi liuk liar,
Melenggak-lenggok seiring irama musik sakral.
Sembari ku kidungkan doa kepada segala dzat yang mendengar.
Aku si lelaki lusuh pekat bau dupa kemenyan seperti entitas dimensi astral.
Topan Arif
Tulungagung, 21November 2024
Senin, 18 November 2024
Adegan Kehidupan Dalam Sebuah Naskah
Ceritakan padaku dimana letak sungai tempat mensucikan diri dari risaunya hati,
tempat dimana penat menghunus palung hati terdalam.
Sedang aku cari celah walau sekecil ujung jarum untuk menghirup manisnya hidup,
sampai senyawa dalam raga teroksidasi dengan sempurna.
Evaporasi rindu mengendap di ruang hampa,
membentuk molekul-molekul cemburu,
telingaku hingar bertalu terdengar samar kamu bersuara,
sedang embun-embun yang menempel di jendela menyisakan kekalutan yang mendekap erat di pelukku.
Sudah kuterima dan kusimpan butir-butir air yang mengepung dada kita yang mengapung dalam kepala.
Aku mencuri diriku membawanya padamu lalu kuhidangkan sepenuhnya agar ada tenang semata.
Aku menyelami sendu yang kamu bagi di sepanjang petang hari itu.
Pada pikir yang bimbang, pada tafsir-tafsir yang kita terka sore itu.
Datanglah kesini biarkan kusisir rambutmu dalam sepi, kususuri rahasia-rahasia yang belasan tahun kamu sembunyikan pada balik pundakmu.
Tumpahkan padaku lewat shyam melalui tatapan mata, aliri aku dengan segala yang kamu simpan pada lemari di kepalamu.
Datang padaku untuk abadi, entah dalam badai yang hampir selalu kita hadapi atau dalam alasan mengapa hari ini jadi puisi dalam tenang yang tak pernah terbayangkan di pelipis ingatanmu.
Dan pada banyak kata yang sukar aku tata, kamu selalu terselip jadi tokoh utama dalam cerita seperti hari ini yang masih menyimpan rindu.
Topan Arif
Tulungagung, 17 November 2024
tempat dimana penat menghunus palung hati terdalam.
Sedang aku cari celah walau sekecil ujung jarum untuk menghirup manisnya hidup,
sampai senyawa dalam raga teroksidasi dengan sempurna.
Evaporasi rindu mengendap di ruang hampa,
membentuk molekul-molekul cemburu,
telingaku hingar bertalu terdengar samar kamu bersuara,
sedang embun-embun yang menempel di jendela menyisakan kekalutan yang mendekap erat di pelukku.
Sudah kuterima dan kusimpan butir-butir air yang mengepung dada kita yang mengapung dalam kepala.
Aku mencuri diriku membawanya padamu lalu kuhidangkan sepenuhnya agar ada tenang semata.
Aku menyelami sendu yang kamu bagi di sepanjang petang hari itu.
Pada pikir yang bimbang, pada tafsir-tafsir yang kita terka sore itu.
Datanglah kesini biarkan kusisir rambutmu dalam sepi, kususuri rahasia-rahasia yang belasan tahun kamu sembunyikan pada balik pundakmu.
Tumpahkan padaku lewat shyam melalui tatapan mata, aliri aku dengan segala yang kamu simpan pada lemari di kepalamu.
Datang padaku untuk abadi, entah dalam badai yang hampir selalu kita hadapi atau dalam alasan mengapa hari ini jadi puisi dalam tenang yang tak pernah terbayangkan di pelipis ingatanmu.
Dan pada banyak kata yang sukar aku tata, kamu selalu terselip jadi tokoh utama dalam cerita seperti hari ini yang masih menyimpan rindu.
Topan Arif
Tulungagung, 17 November 2024
Jumat, 15 November 2024
Wanita Kafein Berselimut Nikotin
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek.
Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya.
Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan tersembunyi.
Aku melihatmu menyalakan korek lalu menghisapnya lembut.
Aku melihatmu menghembuskan kepulan asap seperti penat,
yang mengepul membentuk karbon monoksida jahat dalam lelah otak.
Aku kembali melihatmu menghisap keretekmu,
kamu menikmati setiap miligram tar dan nikotin yang terbakar perlahan.
Asap serupa nafas seputih kanvas memenuhi bilik jantungmu,
menginfeksi setiap detak dari rindu yang menggerutu,
sesak berdesak memberontak menggetar sulur senar saraf pada otak,
gemuruhnya serupa kata-kata bijak dalam sajak sejakmu tak beranjak.
Aku melihatmu menghabiskan malam dengan segelas kopi dan putung rokok berbatang-batang.
Aku harap murung dalam anganmu menghilang beriringan dengan sirna karbon monoksida di udara.
Pahit kopi menyisakan sedikit rasa manis di tiap seruputan,
memunculkan lesung pipi pada senyuman di raut wajahmu yang menawan.
Kini aku memahami setiap kepulan asap kopi dan percikan bara api di sebatang keretek aktifmu.
Aku mengerti beban pada tiap hempasan monoksida yang meninggalkan bekas nikotin di bibir tipismu.
Aku tidak berjanji bisa menggantikan kopi untuk menghangatkanmu,
aku juga tidak berjanji untuk menggantikan keretek favoritmu yang selalu menghitamkan bibirmu.
Aku hanya ingin menjadi bahu untuk kepalamu bersandar setelah habis keretekmu dan jeda dari seruputan kopi panasmu.
Topan Arif
Tulungagung, 16 November 2024
Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya.
Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan tersembunyi.
Aku melihatmu menyalakan korek lalu menghisapnya lembut.
Aku melihatmu menghembuskan kepulan asap seperti penat,
yang mengepul membentuk karbon monoksida jahat dalam lelah otak.
Aku kembali melihatmu menghisap keretekmu,
kamu menikmati setiap miligram tar dan nikotin yang terbakar perlahan.
Asap serupa nafas seputih kanvas memenuhi bilik jantungmu,
menginfeksi setiap detak dari rindu yang menggerutu,
sesak berdesak memberontak menggetar sulur senar saraf pada otak,
gemuruhnya serupa kata-kata bijak dalam sajak sejakmu tak beranjak.
Aku melihatmu menghabiskan malam dengan segelas kopi dan putung rokok berbatang-batang.
Aku harap murung dalam anganmu menghilang beriringan dengan sirna karbon monoksida di udara.
Pahit kopi menyisakan sedikit rasa manis di tiap seruputan,
memunculkan lesung pipi pada senyuman di raut wajahmu yang menawan.
Kini aku memahami setiap kepulan asap kopi dan percikan bara api di sebatang keretek aktifmu.
Aku mengerti beban pada tiap hempasan monoksida yang meninggalkan bekas nikotin di bibir tipismu.
Aku tidak berjanji bisa menggantikan kopi untuk menghangatkanmu,
aku juga tidak berjanji untuk menggantikan keretek favoritmu yang selalu menghitamkan bibirmu.
Aku hanya ingin menjadi bahu untuk kepalamu bersandar setelah habis keretekmu dan jeda dari seruputan kopi panasmu.
Topan Arif
Tulungagung, 16 November 2024
Kamis, 14 November 2024
Wanita Krลซra
Aku dicintai kamu dengan utuh
seperti acuh tapi perasaan di hati sangat riuh
aku tersenyum tersipu menyukai caramu yang angkuh
lebih setan dari setan yang bergentayangan dalam angan yang ingin merengkuh
Singkatmu sangat bermakna
terkadang aku menerka
menanyakan pada sapa apakah kamu hanya pura-pura
ataukah memang sifat alamimu seperti itu untuk mencinta?
tetapi aku mulai paham akan caramu membuatku bahagia
Kamu mengolah dengan sangat indah posesifku
membuatku seakan terbelenggu oleh rindu
Aku berperang hebat dengan cemburu dalam diri
menebalkan selaput cinta yang membungkus setiap inci ruang dalam hati
Aku egois tentang apapun yang menghubungkan kita
bahkan angin pun tidak kurelakan berhembus di rautmu yang juwita
Sempat terbesit penyesalan di masa lampau
mengapa baru kutemukan kamu disaat sinarku sudah pudar dari kisah lalu yang parau
Mutlak kamu jadi satu-satunya orang yang menempati rumah megah yang ku bangun di palung hati
Takkan ada yang mampu menembusnya karena kamu pemegang kuncinya
Berdiri kokoh benteng-benteng yang direkatkan oleh rindu
Meriam-meriam penghancur kekecewaan sudah siaga melepaskan artilerinya
Topan Arif
Tulungagung, 15 November 2024
seperti acuh tapi perasaan di hati sangat riuh
aku tersenyum tersipu menyukai caramu yang angkuh
lebih setan dari setan yang bergentayangan dalam angan yang ingin merengkuh
Singkatmu sangat bermakna
terkadang aku menerka
menanyakan pada sapa apakah kamu hanya pura-pura
ataukah memang sifat alamimu seperti itu untuk mencinta?
tetapi aku mulai paham akan caramu membuatku bahagia
Kamu mengolah dengan sangat indah posesifku
membuatku seakan terbelenggu oleh rindu
Aku berperang hebat dengan cemburu dalam diri
menebalkan selaput cinta yang membungkus setiap inci ruang dalam hati
Aku egois tentang apapun yang menghubungkan kita
bahkan angin pun tidak kurelakan berhembus di rautmu yang juwita
Sempat terbesit penyesalan di masa lampau
mengapa baru kutemukan kamu disaat sinarku sudah pudar dari kisah lalu yang parau
Mutlak kamu jadi satu-satunya orang yang menempati rumah megah yang ku bangun di palung hati
Takkan ada yang mampu menembusnya karena kamu pemegang kuncinya
Berdiri kokoh benteng-benteng yang direkatkan oleh rindu
Meriam-meriam penghancur kekecewaan sudah siaga melepaskan artilerinya
Topan Arif
Tulungagung, 15 November 2024
Asmaradana
Di malam yang sunyi senyap memelas,
ada bunga keluar mekar dari kuncupnya.
Terlahir cantik dan indah bagai arutala selaras,
sinarnya terpancar, temaramnya swastamita jelita.
Sepasang bola mata askara menari menatap ambara,
gadis ayu berjalan beriringan wangi mawar melati pada tubuhnya.
Cantik terpancar aura putri raja,
membuat seluruh semesta terpesona hanvi dahayunya.
Ingin sekali ku cumbu paras cantikmu,
kutelanjangi dengan gairah romantismemu,
kuteriakkan kepada dunia bahwa aku ingin milikimu,
sungguh sejatinya nirankara yang hyang bathara cipta untuk ku puja.
"Gegaraning wong akrami
Dudu bandha dudu rupa
Amung ati pawitane
Luput pisan kena pisan
Yen gampang luwih gampang
Yen angel angel kalangkung
Tan Kena tinumbas arta"
Duh sang dewi,
jangan menghindariku wahai juwita,
sungguh aku tak mampu membendung asmara yang membabi buta.
Kemarilah, bersamamu akan kurengkuh semua bahagia di samastaloka dari para dewa.
"Kidung kedresaning kapti
Yayah nglamong tanpa mangsa
Hingan silarja jatine
Satata samaptaptinya
Raket rakiting ruksa
Tahan tumaneming siku
Karasuk sakeh kasrakat"
Topan Arif
Tulungagung, 12 November 2024
Ancalapati Sang Dayita
Aku ingin menikmati segala yang belum kita selesaikan,
diantara kecemasan diri,
di batas perasaan yang kita miliki,
diantara dedaunan hijau yang bercabang di kepalamu.
Aku ingin menikmati tunggu yang lahir di tiap perpisahan,
pada masa yang tak tentu,
di lingkar waktu pilihanmu aku menaruh kunci kecil yang bisa kau bawa setiap kali menemuiku.
Aku ingin menikmati sempurna cahaya purnamamu,
aku bintang kecil di lautan semesta,
bagaimana pun aku memadamkan diri,
sinarmu tetap menembus bentengku ini.
Kenapa semesta mengirimmu pada hari-hari yang terasa sulit bagiku?
Antara merawat badai dalam diri atau membiarkan diri dalam badai.
Kamu tidak mungkin bisa aku hindari, kutemukan getar pada hari-hari.
Kamu tidak jua bisa kunafikan, degup meronta dalam dada setiap kali kamu ada di dekatku.
Pada hari-hari yang tidak sesuai rencana,
kita merawat sabar yang berkali-kali tertunda.
Tuang padaku sepi yang larut dalam sunyi,
pada segala yang tak pasti aku berlari.
Pada dasar diriku berhamburan dirimu.
Meski mungkin esok masih jadi tanda tanya, tak apa lupakan sejenak untuk nikmati jeda.
Meski aku memadamkan percik nyala setiap kali bertemu kamu.
Meski kupasang rona biasa, dalam diri girang aku tak terkira.
Topan Arif
Tulungagung, 14 November 2024
diantara kecemasan diri,
di batas perasaan yang kita miliki,
diantara dedaunan hijau yang bercabang di kepalamu.
Aku ingin menikmati tunggu yang lahir di tiap perpisahan,
pada masa yang tak tentu,
di lingkar waktu pilihanmu aku menaruh kunci kecil yang bisa kau bawa setiap kali menemuiku.
Aku ingin menikmati sempurna cahaya purnamamu,
aku bintang kecil di lautan semesta,
bagaimana pun aku memadamkan diri,
sinarmu tetap menembus bentengku ini.
Kenapa semesta mengirimmu pada hari-hari yang terasa sulit bagiku?
Antara merawat badai dalam diri atau membiarkan diri dalam badai.
Kamu tidak mungkin bisa aku hindari, kutemukan getar pada hari-hari.
Kamu tidak jua bisa kunafikan, degup meronta dalam dada setiap kali kamu ada di dekatku.
Pada hari-hari yang tidak sesuai rencana,
kita merawat sabar yang berkali-kali tertunda.
Tuang padaku sepi yang larut dalam sunyi,
pada segala yang tak pasti aku berlari.
Pada dasar diriku berhamburan dirimu.
Meski mungkin esok masih jadi tanda tanya, tak apa lupakan sejenak untuk nikmati jeda.
Meski aku memadamkan percik nyala setiap kali bertemu kamu.
Meski kupasang rona biasa, dalam diri girang aku tak terkira.
Topan Arif
Tulungagung, 14 November 2024
Rabu, 13 November 2024
Mozaik Musim Semi
Tidak ada yang seindah musim semi,
seindah kuncup memekarkan bunganya.
Kita pernah berada di kemarau yang gersang,
lalu dedaunan gugur itu bersemi kembali dan merekah indah penuh warna.
Ini pertemuan yang aneh,
kulihat warna di sekujur tubuhmu,
kudekati dan memelukmu.
Seusai pelukan itu,
warna-warna itu menempel pada tubuhku hingga hari ini.
Aku jatuh cinta ketika melihat senyummu berkembang.
Ada warna yang tak bisa kucirikan di palet-palet itu.
Kolaborasi gelap dan terang nampak mendominasi tiap inci kanvas.
Mengarsir secara perlahan menjadi lukisan yang belum aku tahu.
Aku suka caramu mengikisku dengan aquarel,
membentuk sketsa cinta yang tipis, tak tembus oleh pandang.
Kamu toreh pointilis rindu yang abstrak,
kamu beri titik renggang terang diantara rindu dari gelapnya cemburu.
Aku rasakan goresan ekspresif dari setiap gerak kuasmu yang meliuk tenang.
Aku seperti objek kanvas musim semimu yang penuh dengan mozaik warna semu.
Aku telah menjelaskan padamu melalui kanvas bahwa goresan itu tidaklah hampa belaka.
Aku telah menjelaskan padamu melalui kuas bahwa genggaman itu bukanlah tanpa makna.
Pada setiap warna aku sisipkan rupa bahwa kamu sungguh membuatku memendam rasa.
Lukisan musim semi telah selesai dan aku jatuh cinta lagi.
Topan Arif
Tulungagung, 13 November 2024
seindah kuncup memekarkan bunganya.
Kita pernah berada di kemarau yang gersang,
lalu dedaunan gugur itu bersemi kembali dan merekah indah penuh warna.
Ini pertemuan yang aneh,
kulihat warna di sekujur tubuhmu,
kudekati dan memelukmu.
Seusai pelukan itu,
warna-warna itu menempel pada tubuhku hingga hari ini.
Aku jatuh cinta ketika melihat senyummu berkembang.
Ada warna yang tak bisa kucirikan di palet-palet itu.
Kolaborasi gelap dan terang nampak mendominasi tiap inci kanvas.
Mengarsir secara perlahan menjadi lukisan yang belum aku tahu.
Aku suka caramu mengikisku dengan aquarel,
membentuk sketsa cinta yang tipis, tak tembus oleh pandang.
Kamu toreh pointilis rindu yang abstrak,
kamu beri titik renggang terang diantara rindu dari gelapnya cemburu.
Aku rasakan goresan ekspresif dari setiap gerak kuasmu yang meliuk tenang.
Aku seperti objek kanvas musim semimu yang penuh dengan mozaik warna semu.
Aku telah menjelaskan padamu melalui kanvas bahwa goresan itu tidaklah hampa belaka.
Aku telah menjelaskan padamu melalui kuas bahwa genggaman itu bukanlah tanpa makna.
Pada setiap warna aku sisipkan rupa bahwa kamu sungguh membuatku memendam rasa.
Lukisan musim semi telah selesai dan aku jatuh cinta lagi.
Topan Arif
Tulungagung, 13 November 2024
Senin, 11 November 2024
Andai Itu Aku
Andai aku kue sagu itu,
aku akan jadi sarapan favoritmu setiap pagi,
yang kamu sesap sebelum kamu lahap,
yang selalu kamu butuhkan setiap ingin bertatap harap.
Andai aku kopi panas itu,
aku akan hangatkan setiap pagimu,
menemani kue sagu manis dan gurih yang menari di mulutmu,
yang selalu jadi wajibmu tiap kali kamu bertemu rindu.
Andai aku tray persegi di dalam ovenmu,
aku adalah yang selalu jadi butuhmu,
membantumu menyempurnakan karya dari tangan kecilmu itu,
yang selalu kamu bersihkan dari kerak cemburu selepas lama tidak bertemu.
Andai aku fermipan,
kupastikan cintamu mengembang,
menciptakan asmara yang sempurna dalam takar cinta,
yang selalu kamu nikmati sembari menggelengkan kepala dibuainya.
Andai aku clarified butter,
menambah harum wangi aroma paras wajahmu yang juwita,
membebaskanmu dari belenggu laktosa murung karena luka,
yang terdapat vitamin C,I,N,T,A untuk kamu merasakan bahagia.
Andai samastaloka merestui semua semoga,
akulah pelengkapmu untuk mengarungi asmaraloka,
semoga hyang tunggal merestui catra cinta,
diantara asmaradhana kurapalkan kidung doa mengiringi kisah kita.
Topan Arif
Tulungagung, 11 November 2024
aku akan jadi sarapan favoritmu setiap pagi,
yang kamu sesap sebelum kamu lahap,
yang selalu kamu butuhkan setiap ingin bertatap harap.
Andai aku kopi panas itu,
aku akan hangatkan setiap pagimu,
menemani kue sagu manis dan gurih yang menari di mulutmu,
yang selalu jadi wajibmu tiap kali kamu bertemu rindu.
Andai aku tray persegi di dalam ovenmu,
aku adalah yang selalu jadi butuhmu,
membantumu menyempurnakan karya dari tangan kecilmu itu,
yang selalu kamu bersihkan dari kerak cemburu selepas lama tidak bertemu.
Andai aku fermipan,
kupastikan cintamu mengembang,
menciptakan asmara yang sempurna dalam takar cinta,
yang selalu kamu nikmati sembari menggelengkan kepala dibuainya.
Andai aku clarified butter,
menambah harum wangi aroma paras wajahmu yang juwita,
membebaskanmu dari belenggu laktosa murung karena luka,
yang terdapat vitamin C,I,N,T,A untuk kamu merasakan bahagia.
Andai samastaloka merestui semua semoga,
akulah pelengkapmu untuk mengarungi asmaraloka,
semoga hyang tunggal merestui catra cinta,
diantara asmaradhana kurapalkan kidung doa mengiringi kisah kita.
Topan Arif
Tulungagung, 11 November 2024
Minggu, 10 November 2024
Semoga
Semoga lekas reda ragu dalam dirimu,
agar di kesempatan kedua ini tiada yang nihil pada kita.
Waktu saja barangkali belum kuat lama-lama di hadapan kita.
Jangan lagi mengusirku dari hatimu biar tak gusar hariku bila rindu kamu begitu.
Semoga betah-betah kucintai begini,
di sepanjang usiamu yang kuhinggapi.
Meski pulang terasa begitu jauh,
akan sampai padamu masa dimana aku berlabuh.
Semoga aku tidak lagi bisa membendung perasaan yang sempat kubiarkan begitu saja.
Menguap ke udara dan bertebaran menjadi tetes embun lalu menjelma air musim hujan.
Semoga aku tidak lagi bisa menahan perasaan dalam diriku yang tumbuh berlipat ganda yang menjelma banyak rupa dalam kepala.
Sementara kamu tidak juga tahu upayaku menenangkan bayanganmu.
Jadi,
jika tiba-tiba aku terlihat kaku pada percakapan-percakapan kita,
sungguh banyak hal yang sedang aku tenangkan dalam diri yang riuh sejak lama.
Aku dengar lagu keras-keras yang marah,
kusimpan sendu dalam adegan tawa yang murah.
Hanya semata agar bisa aku mengelabui diri,
dari perasaan padamu yang bertumpuk makin tinggi.
agar di kesempatan kedua ini tiada yang nihil pada kita.
Waktu saja barangkali belum kuat lama-lama di hadapan kita.
Jangan lagi mengusirku dari hatimu biar tak gusar hariku bila rindu kamu begitu.
Semoga betah-betah kucintai begini,
di sepanjang usiamu yang kuhinggapi.
Meski pulang terasa begitu jauh,
akan sampai padamu masa dimana aku berlabuh.
Semoga aku tidak lagi bisa membendung perasaan yang sempat kubiarkan begitu saja.
Menguap ke udara dan bertebaran menjadi tetes embun lalu menjelma air musim hujan.
Semoga aku tidak lagi bisa menahan perasaan dalam diriku yang tumbuh berlipat ganda yang menjelma banyak rupa dalam kepala.
Sementara kamu tidak juga tahu upayaku menenangkan bayanganmu.
Jadi,
jika tiba-tiba aku terlihat kaku pada percakapan-percakapan kita,
sungguh banyak hal yang sedang aku tenangkan dalam diri yang riuh sejak lama.
Aku dengar lagu keras-keras yang marah,
kusimpan sendu dalam adegan tawa yang murah.
Hanya semata agar bisa aku mengelabui diri,
dari perasaan padamu yang bertumpuk makin tinggi.
Topan Arif
Tulungagung, 10 November 2024
Jumat, 08 November 2024
Puisi-puisiku
Di hari-hari kita menunda bicara,
terlalu banyak pertanyaan di kepala.
Angin dalam hujan telah menghisapku,
menggigil panjang menanti dekapmu.
Bisakah tidak lagi bertanya mengapa bulan jatuh di hadapan kita?
Bisakah terima saja yang terjadi?
Apakah kau bisa memberi ruang?
Ruang sempit untukku pulang?
Apa sengaja kamu biarkan ruang itu hilang?
Aku memilih menyembunyikanmu di diksi-diksi puisi dalam diriku sendiri.
Kamu menjelajahi hari tanpa tahu setiap waktu dirimu ada di ingatanku.
Aku menyimpanmu dalam nikotin,
Aku menyimpanmu dalam kafein,
Aku melihat mereka bertemu dalam kepulan asap yang bertanding adu kuat menunggu kabarmu.
Untuk apa aku diciptakan lengan jika hampa bagimu untuk menggenggam?
Bukankah kamu juga tahu lubang di dadaku selalu pas untuk ukuran dirimu?
Setiap kali kamu sadari puisi-puisi ini ditulis untukmu.
Kamu tahu siapa yang harus kamu cari saat tak punya lagi pintu.
Jatuh hati padamu adalah kesepian.
Ruang sunyi yang sengaja aku simpan sendirian.
Biarlah kata-kata mencatat perasaan, bertumpuk pada rindu yang tak bisa kusampaikan.
Kemana lagi aku akan berlari dengan diri, jikalau tidak pada puisi-puisiku ini.
Aku menulis sajak-sajak dan membiarkan kepalaku penuh denganmu sejak hari itu.
Aku berlari ke dalam puisi dan menemuimu di sana berkali-kali.
Bisakah kamu memaknai segala sesuatu yang kutulis sepanjang kalimat ini?
Topan Arif
Tulungagung, 9 November 2024
terlalu banyak pertanyaan di kepala.
Angin dalam hujan telah menghisapku,
menggigil panjang menanti dekapmu.
Bisakah tidak lagi bertanya mengapa bulan jatuh di hadapan kita?
Bisakah terima saja yang terjadi?
Apakah kau bisa memberi ruang?
Ruang sempit untukku pulang?
Apa sengaja kamu biarkan ruang itu hilang?
Aku memilih menyembunyikanmu di diksi-diksi puisi dalam diriku sendiri.
Kamu menjelajahi hari tanpa tahu setiap waktu dirimu ada di ingatanku.
Aku menyimpanmu dalam nikotin,
Aku menyimpanmu dalam kafein,
Aku melihat mereka bertemu dalam kepulan asap yang bertanding adu kuat menunggu kabarmu.
Untuk apa aku diciptakan lengan jika hampa bagimu untuk menggenggam?
Bukankah kamu juga tahu lubang di dadaku selalu pas untuk ukuran dirimu?
Setiap kali kamu sadari puisi-puisi ini ditulis untukmu.
Kamu tahu siapa yang harus kamu cari saat tak punya lagi pintu.
Jatuh hati padamu adalah kesepian.
Ruang sunyi yang sengaja aku simpan sendirian.
Biarlah kata-kata mencatat perasaan, bertumpuk pada rindu yang tak bisa kusampaikan.
Kemana lagi aku akan berlari dengan diri, jikalau tidak pada puisi-puisiku ini.
Aku menulis sajak-sajak dan membiarkan kepalaku penuh denganmu sejak hari itu.
Aku berlari ke dalam puisi dan menemuimu di sana berkali-kali.
Bisakah kamu memaknai segala sesuatu yang kutulis sepanjang kalimat ini?
Topan Arif
Tulungagung, 9 November 2024
Kamis, 07 November 2024
Mengejar Mustahil
Bahagia tak harus kita hapus,
yang di hapus itu luka, yang terukir di dalam rindu.
Jejak sepi pernah singgah diantara kata kita,
seperti bayangan yang menghilang dari pandangan mata.
Mengharapkanmu seperti meminta tulang kepada lintah.
Seperti di mabuk angan-angan, di mabuk bayang-bayang.
Ketetapan dari tuhan kuletakkan di tepi pasrah,
Rasanya terlalu sulit mencapaimu hanya dengan kata sayang.
Terlalu cinta, mungkin hatiku terlalu dalam terjatuh di hatimu,
dan jika memperjuangkanmu akan melukaiku,
setidaknya aku bukan orang yang mencintai dan dilukai rasa takutku sendiri.
Setidaknya aku bukan orang yang memilih diam lalu tenggelam dalam air mata penyesalan.
Barangkali aku memang harus pergi, sulit menerka perasaanmu yang entah sampai kapan kepastiannya harus ku tunggu.
Mungkin tak ada lagi hatimu untuk sedia mencintaiku seperti dulu.
Tak ada yang mustahil mungkin seolah menjadi kalimat omong kosong,
sudah mengejar tetapi akhirnya jatuh juga zona gelap yang disebut pahitnya kenyataan.
Beruntung aku masih diberi kewarasan hingga patah hati ini tidak berujung menyalahkan takdir tuhan.
Menjauh, mungkin aku benar-benar harus menjauh.
Mendekati lagi tanpa disambut dengan baik adalah pertanda untuk menyisihkan harapan dan tidak memaksakan.
Membuat kita berjarak bukan karena aku membencimu tapi dengan menjauh setidaknya aku tidak punya alasan untuk membencimu.
Ada sesuatu yang terasa kurang di hidupmu atau perasaan yang membuatmu tak nyaman jika harus denngan aku, sekiranya aku mulai mengerti untuk tidak berharap dicari dan rindu membuatku mengerti untuk tidak berharap ditunggu.
Percuma selalu ada jika tak ada kesempatan untuk mendapatkan seutuhnya cinta,
Aku sadar semua orang berhak mencintai orang yang dicintainya dan semua orang berhak untuk tidak mencintai orang yang mencintainya.
Orang yang yang mencintai berhak untuk mengejar dan orang yang dicintai berhak untuk menghindar.
Setidaknya aku pernah memperjuangkanmu dengan penuh kesabaran lalu mundur dengan penuh kesadaran.
Aku tidak menyesal pernah berjuang sepenuh hati, setidaknya aku pernah memperjuangkan harapanku sendiri.
Topan Arif
Tulungagung, 8 November 2024
yang di hapus itu luka, yang terukir di dalam rindu.
Jejak sepi pernah singgah diantara kata kita,
seperti bayangan yang menghilang dari pandangan mata.
Mengharapkanmu seperti meminta tulang kepada lintah.
Seperti di mabuk angan-angan, di mabuk bayang-bayang.
Ketetapan dari tuhan kuletakkan di tepi pasrah,
Rasanya terlalu sulit mencapaimu hanya dengan kata sayang.
Terlalu cinta, mungkin hatiku terlalu dalam terjatuh di hatimu,
dan jika memperjuangkanmu akan melukaiku,
setidaknya aku bukan orang yang mencintai dan dilukai rasa takutku sendiri.
Setidaknya aku bukan orang yang memilih diam lalu tenggelam dalam air mata penyesalan.
Barangkali aku memang harus pergi, sulit menerka perasaanmu yang entah sampai kapan kepastiannya harus ku tunggu.
Mungkin tak ada lagi hatimu untuk sedia mencintaiku seperti dulu.
Tak ada yang mustahil mungkin seolah menjadi kalimat omong kosong,
sudah mengejar tetapi akhirnya jatuh juga zona gelap yang disebut pahitnya kenyataan.
Beruntung aku masih diberi kewarasan hingga patah hati ini tidak berujung menyalahkan takdir tuhan.
Menjauh, mungkin aku benar-benar harus menjauh.
Mendekati lagi tanpa disambut dengan baik adalah pertanda untuk menyisihkan harapan dan tidak memaksakan.
Membuat kita berjarak bukan karena aku membencimu tapi dengan menjauh setidaknya aku tidak punya alasan untuk membencimu.
Ada sesuatu yang terasa kurang di hidupmu atau perasaan yang membuatmu tak nyaman jika harus denngan aku, sekiranya aku mulai mengerti untuk tidak berharap dicari dan rindu membuatku mengerti untuk tidak berharap ditunggu.
Percuma selalu ada jika tak ada kesempatan untuk mendapatkan seutuhnya cinta,
Aku sadar semua orang berhak mencintai orang yang dicintainya dan semua orang berhak untuk tidak mencintai orang yang mencintainya.
Orang yang yang mencintai berhak untuk mengejar dan orang yang dicintai berhak untuk menghindar.
Setidaknya aku pernah memperjuangkanmu dengan penuh kesabaran lalu mundur dengan penuh kesadaran.
Aku tidak menyesal pernah berjuang sepenuh hati, setidaknya aku pernah memperjuangkan harapanku sendiri.
Topan Arif
Tulungagung, 8 November 2024
Rabu, 06 November 2024
Abhipraya
Di pagi yang masih tersipu malu,
Diatas meja, secangkir rindu tersaji.
Menyambut mentari yang kian beranjak,
Dalam diam, syukur terucap.
Setetes embun membasahi kaca,
Menyiratkan kerinduan yang merambat.
Seperti lagu yang terlelap di bibir,
Segelas rindu menyanyi menyapa pagi.
Mengalirlah rawikara dalam irama yang berlalu,
Menyisakan kenangan di sudut hati.
Pada pagi yang mulai beranjak pergi,
Rintik rindu terpaut pada tangkai indahmu.
Sementara,
Di tengah senja yang berwarna emas,
Diantara riuh pepohonan yang berdansa,
Kamu datang, cahaya dalam kegelapan,
Cinta terakhir yang aku harapkan.
Bersama mentari yang bersembunyi di ufuk,
Kita mengukir kisah indah.
Diantara bintang-bintang yang bersinar,
Cinta terakhir yang takkan pernah pudar.
Di malam yang sunyi,
Di bawah langit yang bersahabat.
Katakan saja,
Apa yang sedang bersembunyi di hatimu.
Biarlah angin malam menjadi saksi,
Dengarlah, di hening malam yang paling dalam.
Katakan saja,
Bebaskan kata-kata yang terpenjara.
Katakan saja,
Yang tak bisa terucap selama ini.
Biarkan puisi malam yang merangkai diksi,
Menjadi riuh rendah dalam sunyi.
Di pelukanmu, dunia terasa sempurna,
Di sampingmu, aku merasa bahagia.
Kita menari diatas mega bersama,
Cinta mengalir diatas rindu dan bahagia.
Topan Arif
Tulungagung, 7 November 2024
Diatas meja, secangkir rindu tersaji.
Menyambut mentari yang kian beranjak,
Dalam diam, syukur terucap.
Setetes embun membasahi kaca,
Menyiratkan kerinduan yang merambat.
Seperti lagu yang terlelap di bibir,
Segelas rindu menyanyi menyapa pagi.
Mengalirlah rawikara dalam irama yang berlalu,
Menyisakan kenangan di sudut hati.
Pada pagi yang mulai beranjak pergi,
Rintik rindu terpaut pada tangkai indahmu.
Sementara,
Di tengah senja yang berwarna emas,
Diantara riuh pepohonan yang berdansa,
Kamu datang, cahaya dalam kegelapan,
Cinta terakhir yang aku harapkan.
Bersama mentari yang bersembunyi di ufuk,
Kita mengukir kisah indah.
Diantara bintang-bintang yang bersinar,
Cinta terakhir yang takkan pernah pudar.
Di malam yang sunyi,
Di bawah langit yang bersahabat.
Katakan saja,
Apa yang sedang bersembunyi di hatimu.
Biarlah angin malam menjadi saksi,
Dengarlah, di hening malam yang paling dalam.
Katakan saja,
Bebaskan kata-kata yang terpenjara.
Katakan saja,
Yang tak bisa terucap selama ini.
Biarkan puisi malam yang merangkai diksi,
Menjadi riuh rendah dalam sunyi.
Di pelukanmu, dunia terasa sempurna,
Di sampingmu, aku merasa bahagia.
Kita menari diatas mega bersama,
Cinta mengalir diatas rindu dan bahagia.
Topan Arif
Tulungagung, 7 November 2024
Jumat, 01 November 2024
Sediakan Aku Pulang Meski Tak Banyak Waktu Untuk Mengisi Ruang
Menyelamlah di sepanjang ๐๐๐๐ yang membentuk diriku
Sambil aku mengumpulkan keberanian untuk memangkas jarak mataku dengan matamu
Biar segera kita lihat bintang kecil
Di ๐ ๐๐๐๐๐ cinta yang mungil
Semalam aku memprovokasimu ke dalam mimpiku dan merudapaksa untuk bicara
Tetapi kamu lari hingga aku terbangun dalam perasaan kecewa
Rindu di dada seperti sekawanan laron pada lampu
Menggerayang tanpa ampun secara brutal menyerangku
Aku menghabiskan banyak malam sembari melihatmu menari di pikiran
Kamu melenggang diantara banyak pertanyaan
Sudah lewat malam larut pada hari berulang
Pikiranku tentangmu tak juga tenang
Aku membayangkan kita ada di sana
Di hamparan sabana liar yang hijau
Segerombolan burung kecil menari di udara
Menukik di hadapan kita menyapa dengan kicau
Bisakah kamu sediakan pulang walau aku tidak punya banyak waktu untuk mengisi ruang?
Siluet tubuhmu terus saja pergi melenggang
Gerak wajahmu terus menghindar saat menyadari tatap mataku
Di bagian paling dalam palung dada rindu itu bayang-bayangmu selalu mengganggu
Topan Arf
Tulungagung, 2 November 2024
Kabut Otak
Hei wanitaku
Seduh kopi dan nyalakan rokokmu lalu duduklah dekatku
Tatap mataku yang mulai sayu
Apakah perjalanan kesini terlalu terjal bagimu?
Terlalu sibukkah kamu mengurusi hari-hari yang tak henti mengejarmu?
Isi kepalaku seperti gerombolan lebah madu
Riuh menerka keadaanmu yang tak sisakan satu hari pun untukku
Aku menantimu lama duduk sendiri mengeja namamu di teras rindu
Demi masa yang datang pada kita, siapkan aku dalam padat rencanamu
Bagaimana cara mendekap bayangmu yang selalu membawa sepasang rindu?
Bagaimana menjelaskan isyarat yang kukirim berulang kali?
Tidakkah kamu sadar betapa mudah padamu aku jatuh hati?
Aku menanti hujan disemai, menampung ceritamu yang hanyut terurai
Rindu mendengar suaramu, kuredam dalam basa-basi tabahku
Sebelum kamu pergi lagi, akan kusimpan aromamu dalam diri
Senang sekali aku berada di lingkarmu meski ditikam diam rindu
Tak terasa malam datang melenyapkan senja
Kamu harus membersihkan diri dari tumpukan lelah panjang yang menggantung di kelopak mata
Gelap diciptakan malam seperti nayanika yang melebam
Sengaja agar matamu bisa tenang terpejam
Topan Arif
Tulungagung, 1 November 2024
Seduh kopi dan nyalakan rokokmu lalu duduklah dekatku
Tatap mataku yang mulai sayu
Apakah perjalanan kesini terlalu terjal bagimu?
Terlalu sibukkah kamu mengurusi hari-hari yang tak henti mengejarmu?
Isi kepalaku seperti gerombolan lebah madu
Riuh menerka keadaanmu yang tak sisakan satu hari pun untukku
Aku menantimu lama duduk sendiri mengeja namamu di teras rindu
Demi masa yang datang pada kita, siapkan aku dalam padat rencanamu
Bagaimana cara mendekap bayangmu yang selalu membawa sepasang rindu?
Bagaimana menjelaskan isyarat yang kukirim berulang kali?
Tidakkah kamu sadar betapa mudah padamu aku jatuh hati?
Aku menanti hujan disemai, menampung ceritamu yang hanyut terurai
Rindu mendengar suaramu, kuredam dalam basa-basi tabahku
Sebelum kamu pergi lagi, akan kusimpan aromamu dalam diri
Senang sekali aku berada di lingkarmu meski ditikam diam rindu
Tak terasa malam datang melenyapkan senja
Kamu harus membersihkan diri dari tumpukan lelah panjang yang menggantung di kelopak mata
Gelap diciptakan malam seperti nayanika yang melebam
Sengaja agar matamu bisa tenang terpejam
Topan Arif
Tulungagung, 1 November 2024
Langganan:
Postingan (Atom)
Upon the Ruins of Mine Own Soul
Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...
-
Setelah kamu pergi... Pertanyaan yang tersisa masih sama... "๐๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐๐๐ฑ๐ฎ๐ต ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ฏ๐ฎ๐ต๐ฎ๐ด๐ถ๐ฎ ?" Namun...
-
Aku kira aku telah usai denganmu, namun diam-diam, langkahku masih hafal arah pulang ke tempat yang selalu menyimpan namamu. Aku hidup ...
-
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek. Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya. Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan ter...