Minggu, 21 Januari 2024

Hujan Hari Ini


Ketika cinta adalah pergulatan
Dan hidup adalah perang
Saat aku tak mampu lagi berjuang
Dan ketika kakiku mulai lemah pecah-pecah digilas kenyataan

Saat aku terkurung
Menimpa semua beban dalam hidup
Bahkan kelaparan menyeretku
Bertahan berhari-hari

Waktu seakan mati
Detik seakan sunyi
Dan senyum tawa getir menjadi teror ketakutanku

Sendiri dalam kematian di dalam hidup
Sendiri dalam kematian di dalam hidup

Dan mereka mengepung
Saat kurasakan pisau kepedihan menyerempet kulitku
Hatiku seakan tak mampu berteriak lagi
Sakit
Sakit 
Sekat tersekat oleh sesak

Kamu datang
Kamu menyentuh
Kamu memeluk
Kamu menyentuh

"Dunia ini adalah zona perang, ucapmu"

Dan aku punya tameng, yang kelak akan kamu pakai sebagai perisai kehidupan demi kehidupan....
Dan menceritakan
Mengabarkan kepada zaman

untuk aku tidak menyerah

BERJUANG
BERJUANG
BERJUANG

Karena cintamu 
Karena percayamu
Karena pedulimu
Karena welasmu

Jika kebencian adalah racun, maka cinta adalah obatnya
Dan kaulah yang mengusir iblis dari pintuku

Saat mereka menyudutkanku

Hampir menyerah

Sekap menikam
Tidur mengusap
Tanpa air mata lagi

Karena nyala di dalam bara padam seiring waktu
Dan sesekali terjadi

Karena kutahu kini aku tak sendiri

Seratus ribu tentara di langit 
Aku tak perlu kuatir malam yang tetaplah gelap
Denganmu di sisiku
yang menjaga hati
yang menawar letih
Bak tentara malaikat

“ceritakan kepada dunia dan kabarkan kepada masa setiap detik keringat letih akan terbayar, dan kamu yang akan mengemasi jasadku hingga nisan yang kamu tanam menjadikan sebuah prasasti bahwa perseteruan hati tak akan pernah berguna, bahwa cinta adalah keindahan semesta, menelan semua ambisi, membuang jauh semua ke-akuan, mempercayakan kepada takdir sebagai jawaban atas doa-doa yang terucap, dan hati itu adalah suci, hati itu adalah peradaban bukan lagi kasta bahkan pengungkit perbedaan”

Aku yang hanya lah Bagian yang Hilang.


2024

Syair Kerinduan

Kau tahu nona?
Kita seperti waktu yang menegur siang dan malam
Aku dan kamu seperti romantisme senja yang temaram
Aku dan kamu adalah persepsi dari cinta yang ditafsirkan semesta
Kita adalah hujan badai yang pada akhirnya menjadi pelangi yang memancarkan askara karunanya

Kita bertemu saat hujan sedang bersenggama dengan dingin pekat malam
Ketika cerah mulai menghampiri, bunga cinta merekah, harumnya menusuk sampai ke lubuk hati yang paling dalam

Engkau, yang terlintas di pagi ku
Yang membekas di dinding hati
Yang begitu dekat dengan kerinduan ini
Dengarlah aku wahai wanitaku
Pemilik hatiku

Begitu bertalu rinduku padamu
Begitu layu kembang hatiku menanti senyummu
Temui aku dengan tutur lembutmu
Sirami aku dengan beningnya senyum tawamu

Engkau adalah nyawa, menghidupkan hati yang pernah mati
Engkau adalah udara, yang kuhirup sepanjang hari
Engkau adalah bait dalam aksara
Engkau ejaan hidup yang selalu aku baca

      Tanpa tuturmu aku hancur
            Tanpa sapamu aku terkubur
                  Tanpa senyummu aku layu
                        Tanpa kasihmu aku kematian

Genggam aku 
Bersamamu ingin kuhitungi jutaan pasir di muka bumi
Menempuh singgasana peraduan
Melewati badai-badai prahara

Menjadi paksi di nirwana
Menjadi sayap di angkasa
Kita mengudara, kita mendulang cerita
Hingga senja mengubur kita


Surabaya, 2024

Jarak dan Waktu

Dua puluh empat jam,
Kita dimakan hari dan malam
Ada yang mondar mandir dalam dada
Tanpa jeda tanpa aba-aba

Hingga acap kali diketuk pintu kalbu
Menyilahkan para hantu datang bertamu

Dua puluh empat jam, 
Kita disulut pertikaian
Ada pembantaian tak terbaca
Meninggalkan peta cekam juga udara dicerai sia-sia

Ini raga punya siapa? 
Bila kita tak kuasa menghentikan tua

Dua puluh empat jam, 
Kita tak kenal diam selain kematian
Ada pertemuan rahasia antara jujur dan dusta
Saling menikam

Kita masih ada di antara tebing dan ngarai
Dari kelana yang tak kunjung usai

Dua puluh empat jam, 
Kita mengarungi masa
Ada bahtera telah menjauh dari pantai
Mengarungi badai menghempas layar hingga kusut masai

Karam perahu; 
Kita tak pernah tahu

Topan Arf
Tulungagung, 2024

Membaca Kematian



Dedaun ini seperti kelopak waktu yang gugur dari mata hari sore itu, ketika langit dan jalan saling menulis rindu, tentang kau dan aku, tentang mimpi yang tersangkut di ranting malam dulu, saat Tuhan menangis sambil mencabut nyawamu.

Aku terkapar di samping bulan, tersadai gundah, hatiku terbelah dua, seperti bulan kita yang pecah, darahnya menghilir ke sungai kenangan, banjir merah di hulu menghanyutkanku ke lautan duka, menyapu semua warna, bahkan biru yang kujumpai di matamu, setangkai bunga kering yang menyisakan wanginya di telaga jiwa, bening dan tidak lelah memberiku udara.

Lalu air mata, begitu tersiksa, menyampaikan segala carut marut pedih luka, tak terbanding yang kurasa, mimpi-mimpi kembali berjalan di angkasa, sementara jalan menuju rumah kita mengantarmu pergi dengan terpaksa, seluruh aku yang terikat di dalam rohmu, jasadku pun sudah hancur bersama.

Apa yang terlihat, aku yang bangun pagi, memandang kosong, kantung mataku sangat berat, kelopak waktu bersarungkan warna-warna musim berserakan, basah dibujuk hujan, pelataran seperti langit sepi, hilang intonasi.

Pun jalan ini masih menadah rindu, bunyi telapak kaki dan deru angin saling menyulam pesan, sajak-sajak yang kudengar dari malaikat semalam telah menjadi catatan.

Kau telah pulang, bicaralah pada Tuhan, aku sedang berdandan dengan keimanan, menunggu kematian tidaklah menakutkan, di sana lukaku akan sembuh, meninggalkan semua keluh, kerana dekap kita kembali penuh.


Surabaya, 2024

Untukmu Wanita Terhebatku

Aku mengeja dalam harfiah alif,  
rasa syukur mensujudkan kening tentang hamba, 
menemui kalam dalam rangkaian huruf-huruf mutlak, kutimang kemurnian suci laksana embun, 
semilir pagi adalah ibu ketika simpuh.

Tatkala debar menyerukan tentang restu mengimpi,  
airmata bersekutu di antara langit, 
nun rembulan  bercahaya, 
tika surya hangatnya menyerta. 
Kata hati meruah perihal semestinya kupahami, 
bagai ranting mencurah dahan, menadah segala rasa hendak diserap, 
kata pohon sedari akar sejak berdiri di atas bumi, begitulah semesta berlaku.

Adakalanya bunga menjadi buah bibir 
Walau tak mampu harumkan taman, 
Indahnya tetap terpajang di sebuah nama tertulis, 
tak satu pun senyum menyapa melainkan sebatas mata tanpa bicara, mudah melepas jenuh begitu saja. 
Sebab ia tak mendalami di mana nikmatnya anugrah tersembunyi, 
berbisiklah dari segala arah memastikan seluk beluknya asal. Kurasa sepuluh jemari telah berkata dalam isyarat, 
lima serangkai terbentang arah kembali bersua, 
saling melengkapi kekurangan, 
tanpa harus mencela satu sama lainnya, 
karena serupa meski beda derajat.

Aku tak pernah menjadi telunjuk ketika jemari kecil dalam naungan ibu jari,  
namun berusaha agar tetap manis sebagai kekasih bersama mereka, 
maka cukuplah kupintakan welas menyertai langkah cita di mana pun kelak aku berada. 
Sejatiku tak terpisahkan darimu walau badai gelombang  bertubi mengombang ambing hidupku, 
ia tetaplah ujungku yang telah mengalirkan nafas sedalam batin, 
mengungkap darah pada rusuk. 
Hingga sebagian dagingmu terkuras membentuk sebuah senyum melebihi indahnya segala selainku, 
melupakan bunga-bunga sesaat pudar seperti rekayasa mata dan rasa, 
jauh dari agungnya harta melimpah, 
akhirnya alif kurangkai dalam kalimat Hamdalah, tersenyumlah selalu dalam semoga, 
selalu terukir saat-saat tasbih dan doaku,  
Ibu...


2024

Berapa banyak hati yang akan tersakiti?




Semenjak awal pertemuan itu
Hatiku mulai membaur
Lebur, menjadi satu dalam rangkaian kisah
Lembar demi lembar tercipta coretan yang indah

Hebat sekali sosokmu bisa merampas akalku
Jadi tokoh utama dalam tulisan dan anganku sepanjang hari
Kini aku sedang sibukkan diri, dengan kisah begini
Paham bahwa nyatanya aku dan kau tak menjadi kita

Selang beberapa waktu satu fakta terungkap
Aku yang hanya jadi pemeran kedua dari kisah lama yang tersingkap
Akal sehatku perlahan menjadi liar
Hati yang terluka membawaku hanyut dalam peristiwa yang sukar untuk dinalar

Lantas aku mulai memainkan peran
Menjadi pemeran utama perihal luka dari deretan insan
Muncul dari dalam benak yang mencoba sadar dari dalam diri
Berapa banyak hati lagi yang akan tersakiti?

Aku tak pernah menjadi sesal atas ini
Sebab biar saja aku ikuti alur cerita Tuhan,
Atas segala rasa, cinta, dan harap yang tercipta
Terima kasih pernah singgah sebentar di sisi.


Takdir bisa mengubah yang tidak cinta menjadi cinta,
tetapi cinta? Cinta tidak akan pernah bisa mengubah yang tidak takdir menjadi takdir
Jika suatu saat kamu mampu menemukan sosok aku yang mampu tersenyum tanpamu.
Percayalah,
Sehancur itu aku pernah,
Menangis karena tidak sanggup mengakhiri pertemuan itu aku pernah,
Memeluk erat namamu dalam doa-doaku aku pernah,
Menyakini jika hidup tanpamu akan ada bahagia, aku pernah.

Melangkahlah,
Meski kita tak lagi searah.
Kelak...
Siapapun yang akan menjadi pengganti diriku,
Semoga dia lebih baik dalam segala hal, termasuk mencintaimu.




Topan Arif
Madiun, 20 Desember 2023









Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...