Minggu, 21 Januari 2024

Syair Kerinduan

Kau tahu nona?
Kita seperti waktu yang menegur siang dan malam
Aku dan kamu seperti romantisme senja yang temaram
Aku dan kamu adalah persepsi dari cinta yang ditafsirkan semesta
Kita adalah hujan badai yang pada akhirnya menjadi pelangi yang memancarkan askara karunanya

Kita bertemu saat hujan sedang bersenggama dengan dingin pekat malam
Ketika cerah mulai menghampiri, bunga cinta merekah, harumnya menusuk sampai ke lubuk hati yang paling dalam

Engkau, yang terlintas di pagi ku
Yang membekas di dinding hati
Yang begitu dekat dengan kerinduan ini
Dengarlah aku wahai wanitaku
Pemilik hatiku

Begitu bertalu rinduku padamu
Begitu layu kembang hatiku menanti senyummu
Temui aku dengan tutur lembutmu
Sirami aku dengan beningnya senyum tawamu

Engkau adalah nyawa, menghidupkan hati yang pernah mati
Engkau adalah udara, yang kuhirup sepanjang hari
Engkau adalah bait dalam aksara
Engkau ejaan hidup yang selalu aku baca

      Tanpa tuturmu aku hancur
            Tanpa sapamu aku terkubur
                  Tanpa senyummu aku layu
                        Tanpa kasihmu aku kematian

Genggam aku 
Bersamamu ingin kuhitungi jutaan pasir di muka bumi
Menempuh singgasana peraduan
Melewati badai-badai prahara

Menjadi paksi di nirwana
Menjadi sayap di angkasa
Kita mengudara, kita mendulang cerita
Hingga senja mengubur kita


Surabaya, 2024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...