Hei wanitaku
Seduh kopi dan nyalakan rokokmu lalu duduklah dekatku
Tatap mataku yang mulai sayu
Apakah perjalanan kesini terlalu terjal bagimu?
Terlalu sibukkah kamu mengurusi hari-hari yang tak henti mengejarmu?
Isi kepalaku seperti gerombolan lebah madu
Riuh menerka keadaanmu yang tak sisakan satu hari pun untukku
Aku menantimu lama duduk sendiri mengeja namamu di teras rindu
Demi masa yang datang pada kita, siapkan aku dalam padat rencanamu
Bagaimana cara mendekap bayangmu yang selalu membawa sepasang rindu?
Bagaimana menjelaskan isyarat yang kukirim berulang kali?
Tidakkah kamu sadar betapa mudah padamu aku jatuh hati?
Aku menanti hujan disemai, menampung ceritamu yang hanyut terurai
Rindu mendengar suaramu, kuredam dalam basa-basi tabahku
Sebelum kamu pergi lagi, akan kusimpan aromamu dalam diri
Senang sekali aku berada di lingkarmu meski ditikam diam rindu
Tak terasa malam datang melenyapkan senja
Kamu harus membersihkan diri dari tumpukan lelah panjang yang menggantung di kelopak mata
Gelap diciptakan malam seperti nayanika yang melebam
Sengaja agar matamu bisa tenang terpejam
Topan Arif
Tulungagung, 1 November 2024
Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Upon the Ruins of Mine Own Soul
Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...
-
Setelah kamu pergi... Pertanyaan yang tersisa masih sama... "𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮 ?" Namun...
-
Aku kira aku telah usai denganmu, namun diam-diam, langkahku masih hafal arah pulang ke tempat yang selalu menyimpan namamu. Aku hidup ...
-
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek. Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya. Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan ter...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar