Bahagia tak harus kita hapus,
yang di hapus itu luka, yang terukir di dalam rindu.
Jejak sepi pernah singgah diantara kata kita,
seperti bayangan yang menghilang dari pandangan mata.
Mengharapkanmu seperti meminta tulang kepada lintah.
Seperti di mabuk angan-angan, di mabuk bayang-bayang.
Ketetapan dari tuhan kuletakkan di tepi pasrah,
Rasanya terlalu sulit mencapaimu hanya dengan kata sayang.
Terlalu cinta, mungkin hatiku terlalu dalam terjatuh di hatimu,
dan jika memperjuangkanmu akan melukaiku,
setidaknya aku bukan orang yang mencintai dan dilukai rasa takutku sendiri.
Setidaknya aku bukan orang yang memilih diam lalu tenggelam dalam air mata penyesalan.
Barangkali aku memang harus pergi, sulit menerka perasaanmu yang entah sampai kapan kepastiannya harus ku tunggu.
Mungkin tak ada lagi hatimu untuk sedia mencintaiku seperti dulu.
Tak ada yang mustahil mungkin seolah menjadi kalimat omong kosong,
sudah mengejar tetapi akhirnya jatuh juga zona gelap yang disebut pahitnya kenyataan.
Beruntung aku masih diberi kewarasan hingga patah hati ini tidak berujung menyalahkan takdir tuhan.
Menjauh, mungkin aku benar-benar harus menjauh.
Mendekati lagi tanpa disambut dengan baik adalah pertanda untuk menyisihkan harapan dan tidak memaksakan.
Membuat kita berjarak bukan karena aku membencimu tapi dengan menjauh setidaknya aku tidak punya alasan untuk membencimu.
Ada sesuatu yang terasa kurang di hidupmu atau perasaan yang membuatmu tak nyaman jika harus denngan aku, sekiranya aku mulai mengerti untuk tidak berharap dicari dan rindu membuatku mengerti untuk tidak berharap ditunggu.
Percuma selalu ada jika tak ada kesempatan untuk mendapatkan seutuhnya cinta,
Aku sadar semua orang berhak mencintai orang yang dicintainya dan semua orang berhak untuk tidak mencintai orang yang mencintainya.
Orang yang yang mencintai berhak untuk mengejar dan orang yang dicintai berhak untuk menghindar.
Setidaknya aku pernah memperjuangkanmu dengan penuh kesabaran lalu mundur dengan penuh kesadaran.
Aku tidak menyesal pernah berjuang sepenuh hati, setidaknya aku pernah memperjuangkan harapanku sendiri.
Topan Arif
Tulungagung, 8 November 2024
Satu hari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia. Tetaplah tertawa waulaupun dipenuhi luka dan perasaan kecewa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Upon the Ruins of Mine Own Soul
Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...
-
Setelah kamu pergi... Pertanyaan yang tersisa masih sama... "𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮 ?" Namun...
-
Aku kira aku telah usai denganmu, namun diam-diam, langkahku masih hafal arah pulang ke tempat yang selalu menyimpan namamu. Aku hidup ...
-
Aku melihatmu mengambil sebatang keretek. Mengamatinya sambil menekan perlahan tubuh kakunya. Mencari celah lunaknya dimana kenikmatan ter...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar