Kamis, 21 November 2024

Terkidung Mantra

Harapan datang deras seperti hujan bulan november,
membasahi rindu yang sempat mengering diterpa kemarau.
Pohon mulai menghijaukan rambutnya yang sempat gugur,
mengelopak indah bunga memekarkan mahkotanya.

Riuh dendang musik seirama langkah kaki yang sedang menari.
Aku berpesta seorang diri, tak ada yang diundang.
Berirama sendiri.
Menunggu lebah madu yang siap menghisap manisku sendiri.

Muka yang pucat pasi, pakaian mulai menguning karena lusuh sebab keringat.
Tubuh sibuk meliuk kesana kemari dengan senyum terpancar kenangan teringat.
Sesekali mata terpejam dan tajam menelaah tiap sudut ruang.
Setelahnya samar terdengar isakan yang makin lama menjadi raungan.

Setiap racauannya percik cinta dan sakit-sakitnya.
Makna mutlak bergantung di hati manusia.
Representasi tiap-tiap sudut pandang yang berbeda.
Jadi cumbu yang menarik semua pasang mata.

Sayangnya aku sendirian menari menginterpretasi liuk liar,
Melenggak-lenggok seiring irama musik sakral.
Sembari ku kidungkan doa kepada segala dzat yang mendengar.
Aku si lelaki lusuh pekat bau dupa kemenyan seperti entitas dimensi astral.


Topan Arif
Tulungagung, 21November 2024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...