Sabtu, 22 Agustus 2026

MONOLOG - Nusantara


Ketika Bumi Menggugat Langit

Dengarkan...

Jangan bertepuk tangan.

Jangan dulu.

Sebab malam ini
yang hendak kita dengarkan
bukan puisi.

Melainkan—

suara bumi
yang sedang sekarat.

Dengarkan...

Di bawah telapak kakimu
ada tanah yang pernah menyimpan
darah para leluhur.

Di atas kepalamu
ada langit yang dahulu
dipercayakan kepada manusia
untuk dijaga.

Dan di antara keduanya—

berdiri kita.

Manusia.

Makhluk yang mengaku paling beradab,
namun tangannya paling lihai
mengoyak rahim kehidupan.

Nusantara!

Tanah yang dahulu
disebut zamrud—

kini hijau hanya
pada warna uang
yang mengalir di meja-meja kekuasaan!

Hutannya ditebang.

Gunungnya dibelah.

Sungainya dicekik limbah.

Lautnya dikuras.

Tanahnya dipagari.

Lalu manusia berdiri
di hadapan kehancuran
sambil tersenyum dan berkata:

“Ini pembangunan.”

Pembangunan?

Atas nama siapa?

Kemajuan?

Menuju ke mana?

Kesejahteraan?

Untuk siapa?

Ah...

Betapa agung peradaban kita.

Kita mampu membangun gedung
setinggi kesombongan.

Kita mampu membuat jalan
sepanjang kerakusan.

Kita mampu menembus langit
dengan mesin-mesin canggih.

Namun anehnya—

kita gagal memahami
bahwa pohon yang ditebang
tidak dapat tumbuh kembali
hanya karena pidato.

Kita menanam satu pohon
lalu memotret diri sendiri.

Seolah bumi
membutuhkan kamera
untuk mengakui kebaikan kita.

Lucu.

Sungguh lucu.

Manusia menghancurkan rumahnya sendiri
kemudian mengadakan seminar
tentang cara menyelamatkan rumah.

Kalian!

Yang duduk nyaman
di balik meja kekuasaan!

Kalian yang mengukur hutan
dengan luas konsesi!

Kalian yang menimbang gunung
dengan harga komoditas!

Kalian yang menghitung sungai
dengan angka keuntungan!

Pernahkah sekali saja—

sekali saja!

kalian menghitung
berapa banyak burung
yang kehilangan rumah?

Berapa banyak ikan
yang kehilangan sungai?

Berapa banyak petani
yang kehilangan tanah?

Berapa banyak anak
yang kelak mewarisi
udara yang tidak layak dihirup?

Ataukah semuanya
terlalu kecil
dibandingkan angka
di rekening kalian?

Dan di suatu tempat
seorang ibu menatap sungai.

Dahulu airnya jernih.

Anaknya mandi di sana.

Ikan-ikan berkejaran
di bawah matahari.

Kini sungai itu
membawa warna
yang bukan lagi warna air.

Ia membawa busa.

Ia membawa limbah.

Ia membawa dosa.

Sang ibu bertanya:

“Ke mana perginya sungai kami?”

Tidak ada yang menjawab.

Sebab sungai telah mati
jauh sebelum manusia
berani mengakui
bahwa mereka adalah pembunuhnya.

Gunung pun mulai bicara.

Bukan dengan bahasa manusia.

Ia berbicara
melalui longsor.

Ia berbicara
melalui retakan tanah.

Ia berbicara
melalui banjir
yang menerobos rumah-rumah.

Dan manusia kembali berkata:

“Bencana.”

Tidak.

Kadang-kadang
yang kita sebut bencana
adalah—

surat balasan
dari alam
atas surat penghancuran
yang telah kita kirim
bertahun-tahun.

Jangan salahkan hujan!

Jangan salahkan angin!

Jangan salahkan sungai!

Jangan salahkan gunung!

Jangan salahkan laut!

Sebab alam
tidak pernah menandatangani
izin untuk dihancurkan!

KITALAH
YANG MENANDATANGANINYA!

Dengan kapak!

Dengan mesin!

Dengan keserakahan!

Dengan tanda tangan!

Dengan stempel!

Dengan keputusan-keputusan
yang kadang lebih cepat
melindungi angka
daripada melindungi kehidupan!

PENGADILAN BUMI

Bayangkan...

Suatu malam
ketika seluruh kota terlelap,

bumi bangkit
dari ranjang lukanya.

Gunung-gunung berdiri
seperti para saksi tua.

Sungai-sungai membawa
berkas kesaksian.

Hutan-hutan yang tersisa
menjadi barisan para korban.

Laut membentangkan
hamparan biru
sebagai kitab perkara.

Dan di tengah semuanya—

manusia berdiri sebagai terdakwa.

Tidak ada pengacara.

Tidak ada kamera.

Tidak ada konferensi pers.

Tidak ada mikrofon
untuk memperindah kebohongan.

Hanya bumi.

Dan ingatan.

Lalu terdengarlah suara:

“Manusia.”

“Aku memberimu hutan.”

Manusia menjawab:

“Untuk kayu.”

“Aku memberimu sungai.”

“Untuk industri.”

“Aku memberimu laut.”

“Untuk sumber daya.”

“Aku memberimu tanah.”

“Untuk dimiliki.”

Bumi terdiam.

Lalu bertanya:

“Dan apa yang kau berikan kepadaku?”

Manusia membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

Karena apa yang kita berikan
kepada bumi?

Asap.

Limbah.

Luka.

Kepunahan.

Dan keserakahan
yang kita wariskan
dengan nama kemajuan.

Lalu bumi berkata:

“Aku tidak pernah meminta
engkau menyembahku.”

“Aku hanya meminta
jangan bunuh aku.”

“Aku tidak pernah meminta
engkau memujiku.”

“Aku hanya meminta
jangan racuni aku.”

“Aku tidak pernah meminta
engkau mencintaiku
dengan kata-kata.”

“Aku hanya meminta
engkau menjagaku
dengan perbuatan.”

Namun manusia
masih saja berdebat.

Mereka membuat rapat.

Mereka membentuk panitia.

Mereka menyusun dokumen.

Mereka mengadakan konferensi.

Mereka mengucapkan:

“Kami prihatin.”

Prihatin!

Betapa murahnya sebuah kata
ketika hutan telah menjadi abu!

Betapa indahnya sebuah pidato
ketika sungai telah menjadi racun!

Betapa gagahnya sebuah slogan
ketika anak-anak tumbuh
di bawah langit yang kehilangan biru!

Kita terlalu pandai berkata-kata
dan terlalu malas menyelamatkan kehidupan!

Maka dengarkan baik-baik!

Bukan bumi
yang membutuhkan manusia
untuk tetap hidup.

Manusialah
yang membutuhkan bumi!

Bumi telah hidup
jauh sebelum nama kita ditemukan.

Hutan telah bernapas
sebelum kerajaan-kerajaan berdiri.

Laut telah bergelombang
sebelum manusia mengenal uang.

Gunung telah menjaga langit
sebelum manusia mengenal kekuasaan.

Tetapi kita datang—

dengan mahkota kesombongan
di kepala,

dengan pisau keserakahan
di tangan,

dan mengira
seluruh semesta
diciptakan untuk melayani kita!

SIAPA YANG MEMBERI KITA HAK ITU?

Siapa?

Nusantara...

Maafkan kami.

Kami menyebutmu tanah air,

tetapi memperlakukanmu
seperti tanah rampasan.

Kami menyebutmu ibu,

tetapi menggergaji tulangmu.

Kami menyebutmu warisan,

tetapi menjual tubuhmu
kepada generasi berikutnya
dalam keadaan terluka.

Kami mengajarkan anak-anak
untuk mencintai negeri,

tetapi diam-diam
mengajari mereka
cara mengeksploitasi negeri.

Dan kelak...

Seratus tahun dari hari ini...

Seorang anak berdiri
di depan sebuah buku sejarah.

Ia membaca:

“Dahulu,
di negeri bernama Nusantara,
tumbuh hutan yang sangat luas.”

Anak itu bertanya:

“Hutan itu apa?”

Guru menjawab:

“Tempat pohon tumbuh.”

Anak itu bertanya lagi:

“Pohon itu apa?”

Guru terdiam.

Sebab generasi itu
hanya mengenal pohon
dari gambar.

Burung?

Dari video.

Sungai?

Dari museum.

Laut?

Dari arsip.

Dan kata “hutan”
menjadi kata purba
yang tidak lagi dipahami
oleh lidah manusia.

Apakah itu
yang kita inginkan?

Kalau tidak—

BERHENTI!

Berhenti menjadikan bumi
sebagai makam bagi keserakahan!

Berhenti menjadikan hutan
sebagai angka!

Berhenti menjadikan sungai
sebagai saluran pembuangan!

Berhenti menjadikan laut
sebagai tempat sampah
peradaban!

Berhenti menjadikan kekuasaan
sebagai pisau
yang memotong masa depan!

Karena suatu hari—

jabatanmu akan selesai.

Gedungmu akan runtuh.

Hartamu akan diwarisi orang lain.

Namamu akan memudar.

Foto-fotomu akan menguning.

Tetapi luka bumi—

mungkin akan tinggal
lebih lama daripada namamu!

Maka jangan wariskan
kepada anak-anak kita
sebuah dunia
yang hanya pandai bercerita
tentang keindahan masa lalu!

Jangan!

Jangan wariskan
sungai yang mati!

Jangan wariskan
hutan yang tinggal nama!

Jangan wariskan
laut yang penuh plastik!

Jangan wariskan
langit yang kehilangan bintang!

Jangan wariskan
sebuah peradaban
yang kaya akan gedung
tetapi miskin kehidupan!

Karena anak-anak kita
tidak meminta istana.

Mereka hanya meminta
sebuah bumi
yang masih layak disebut rumah.

Sebab kelak...

ketika manusia terakhir
berdiri di hadapan bumi
yang telah kehilangan warna,

bumi mungkin tidak akan bertanya:

“Siapa yang paling kaya?”

Ia tidak akan bertanya:

“Siapa yang paling berkuasa?”

Ia hanya akan bertanya:

“Ketika aku hampir mati...
mengapa kalian memilih diam?”

Dan pada saat itu—

tidak akan ada pidato.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada uang.

Tidak ada stempel.

Tidak ada kekuasaan.

Hanya manusia...

dan bumi...

yang saling menatap
dalam keheningan
yang tidak dapat dibeli.

Jaga bumi.

Sebelum bumi
hanya tinggal—

nama.



Topan Arif

Malang, 23 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Upon the Ruins of Mine Own Soul

Di bawah kening malam yang mengafani cakrawala, ia menanak nestapa di tungku tulang rusuknya sendiri; menyantap serpihan diri dengan mulut y...