Malam telah menutup seluruh jendela,
tetapi ingatan tak mengenal tirai.
Ia menyusup dari celah-celah sunyi,
menghidupkan kembali suara yang semestinya
telah kukubur bersama pagi.
Namamu masih berdiam
di antara dinding-dinding kepalaku—
seperti doa yang kehilangan altar,
seperti hujan yang lupa
kepada tanah mana ia harus pulang.
Dan aku masih di sini.
Menjadi lelaki yang berhasil
mengalahkanmu dalam sebuah pertengkaran,
lalu pulang sebagai pemenang
ke kerajaan yang tak lagi memiliki ratu.
Betapa agung kemenangan itu.
Aku memperoleh seluruh egoku
dan kehilangan seluruh duniamu.
---
Dulu,
ketika hari-hari menelanku
dengan gigi-gigi kenyataan,
kaulah tangan yang diam-diam
menarikku dari jurang.
Kau datang
ketika dunia sedang kehilangan wajahnya.
Kau duduk di sampingku
ketika kata-kata tak lagi berguna.
Kau menjadi teduh
bagi kepalaku yang gaduh,
menjadi pelabuhan
bagi kapal kecil bernama lelah,
menjadi rumah
bagi seorang lelaki
yang bahkan tak tahu
bagaimana caranya pulang.
Kau mengenal retak-retakku
tanpa pernah menghitung
berapa banyak pecahan
yang harus kau pungut.
Kau tahu aku tidak sempurna.
Kau tahu ada musim dalam diriku
yang selalu datang membawa badai.
Namun kau tetap tinggal.
Barangkali itulah bentuk cinta
yang paling sunyi:
mengetahui seseorang
tidak selalu mudah dicintai,
namun tetap memilih
untuk menyalakan lampu
ketika ia tersesat dalam gelap.
---
Lalu tibalah malam itu.
Malam yang kelak akan kukenang
sebagai tanggal kematian
bagi sesuatu yang sebenarnya
belum berhenti bernapas.
Kita bertengkar.
Bukan lagi dua hati
yang sedang mencari jalan pulang,
melainkan dua ego
yang sedang berebut takhta.
Kata-kata berubah menjadi belati.
Nada suara menjadi petir.
Dan kesabaran,
yang selama ini kita bangun
dari ribuan pengampunan,
runtuh hanya dalam beberapa detik.
Kemudian—
sebuah telapak tangan
menjadi tanda baca terakhir
dalam kalimat panjang bernama kita.
Tamparan.
Hanya satu.
Namun ternyata satu detik
cukup untuk membuat bertahun-tahun cinta
terdengar seperti kebohongan.
Tanganku telah kembali diam.
Tetapi sesuatu di matamu
telah pecah
dan tak pernah benar-benar kembali utuh.
Aku melihatmu saat itu.
Dan untuk pertama kalinya
aku tidak melihat kekasihku.
Aku melihat seseorang
yang sedang menyadari
bahwa lelaki yang selama ini dipeluknya
ternyata mampu menjadi luka.
---
Lucu, bukan?
Manusia memang makhluk paling ajaib
dalam perkara menghancurkan sesuatu
yang mati-matian ingin dipertahankannya.
Kita merawat cinta
bertahun-tahun,
lalu membunuhnya
dengan beberapa kalimat
dan satu gerakan bodoh.
Kita membangun rumah
dari kesabaran,
lalu membakarnya
hanya karena satu malam
kita lupa
bahwa api tidak pernah bertanya
siapa yang pertama menyalakannya.
Dan aku—
aku adalah lelaki
yang baru mengenal arti kehilangan
setelah pintu terakhir
tertutup dari arah yang salah.
---
Sejak kau pergi,
rumah ini berubah menjadi museum.
Kursi tempatmu duduk
menjadi artefak kesunyian.
Cangkir yang pernah menyentuh bibirmu
menjadi benda purba
yang tak berani kusentuh.
Bantalmu masih menyimpan
bayang-bayang kepalamu.
Dan aroma yang tertinggal
di sudut kamar
adalah hantu paling kejam
yang pernah kukenal.
Aku tidak tahu
bahwa seseorang bisa tinggal
di dalam sebuah rumah
meski tubuhnya telah lama pergi.
Kau tidak lagi di sini,
tetapi seluruh ruang
seakan masih mengucapkan namamu.
Bahkan sunyi
terdengar seperti suaramu.
---
Kadang aku masih ingin menghubungimu.
Jari-jariku hafal jalan
menuju namamu.
Betapa menyedihkannya manusia:
bahkan setelah kehilangan hak
untuk mengetuk sebuah pintu,
ia masih hafal
di mana letak gagangnya.
Aku ingin bertanya,
“Sudah makan?”
Kalimat yang dahulu begitu sederhana
kini terasa semahal
kesempatan kedua.
Aku ingin bercerita
tentang hujan sore tadi.
Tentang kopi yang terlalu pahit.
Tentang lagu yang tiba-tiba
membawa pulang kenanganmu.
Tetapi kemudian aku ingat—
aku bukan lagi
orang yang berhak
mengisi kotak masukmu.
Maka cerita-cerita itu
kukubur di dalam dada,
satu demi satu,
seperti surat-surat
yang tak pernah menemukan perangko.
---
Aku pernah mencoba membencimu.
Aku susun kesalahanmu
seperti daftar dosa
agar aku punya alasan
untuk melupakanmu.
Aku mengingat pertengkaran kita.
Aku mengingat kata-kata yang melukai.
Aku mengingat malam-malam
ketika kita sama-sama keras kepala.
Aku bahkan mencoba meyakinkan diriku:
“Dia juga salah.”
Betapa lucunya pembelaan
dari seorang lelaki
yang sedang berusaha
menyelamatkan harga dirinya
dari reruntuhan rasa bersalah.
Namun cinta ternyata
tidak pernah menjadi hakim
yang adil.
Ia tidak bertanya
siapa terdakwa.
Ia hanya datang
setiap kali malam turun
dan berbisik:
“Bukankah kau masih mencintainya?”
Dan aku tidak punya keberanian
untuk berdusta kepada kesunyian.
Ya.
Aku masih mencintaimu.
---
Mungkin suatu hari
akan ada seseorang
yang datang menggantikan tempatku.
Seseorang yang tangannya
lebih pandai menjaga
daripada melukai.
Seseorang yang tahu
bahwa amarah adalah badai
yang harus dilewati,
bukan dijadikan senjata.
Seseorang yang ketika mencintaimu
tidak menjadikan egonya
sebagai altar persembahan.
Jika kelak itu terjadi,
semoga ia menjagamu.
Semoga ia memahami
bahwa hatimu bukan medan perang.
Semoga ia tahu
bahwa perempuan yang pernah memilih
untuk tinggal bersamaku
adalah seseorang
yang layak diperlakukan
seperti rumah paling sakral
yang pernah ditemukan seorang pengembara.
Dan semoga—
ia tidak pernah menjadi aku.
---
Aku tidak akan memintamu kembali.
Tidak malam ini.
Tidak esok.
Tidak ketika rindu
datang mengetuk dengan tangan berdarah.
Sebab cinta bukan selalu
tentang menggenggam.
Kadang cinta adalah
kesediaan untuk membuka jemari
meskipun seluruh bagian dari dirimu
ingin berteriak:
“Jangan pergi.”
Maka pergilah.
Carilah langit
yang lebih teduh.
Temuilah pagi
yang tidak menyimpan badai.
Temukan seseorang
yang mampu mencintaimu
tanpa membuatmu harus takut
kepada cinta itu sendiri.
Dan jika suatu hari
kau mengingat namaku,
jangan ingat aku
sebagai lelaki yang menamparmu.
Ingatlah—
jika masih ada ruang
untuk kenangan yang baik—
sebagai lelaki
yang pernah mencintaimu
dengan segala keterbatasannya,
lelaki yang pernah kau temani
ketika dunia meninggalkannya,
lelaki yang pernah menjadikanmu
rumah,
lalu dengan kebodohannya sendiri
membakar rumah itu
hingga tinggal abu.
---
Kini aku mengerti:
tidak semua cinta
ditakdirkan menjadi kepulangan.
Sebagian hanya ditakdirkan
menjadi pelajaran
yang datang terlalu mahal.
Sebagian cinta
tidak mati karena kehabisan rasa.
Ia mati
karena manusia yang memilikinya
tidak cukup bijaksana
untuk menjaganya.
Dan mungkin
itulah tragedi terbesar kita.
Bukan karena aku berhenti mencintaimu.
Bukan karena kau berhenti mencintaiku.
Melainkan karena
di antara dua hati
yang masih menyimpan bara,
ada satu malam
yang datang membawa api,
dan aku—
dengan kedua tanganku sendiri—
menjadikannya kebakaran.
Kini yang tersisa
hanya abu,
dan seorang lelaki
yang setiap malam
duduk di hadapan reruntuhan,
memunguti serpihan kenangan
dengan jemari gemetar,
seolah-olah dengan mengumpulkannya kembali
ia dapat membangunmu pulang.
Padahal ia tahu—
bahkan sebelum selesai memungutnya,
ia tahu—
ada beberapa hal
yang sekali pecah
tidak lagi mencari bentuk semula.
Dan ada cinta
yang akan tetap hidup
di dalam dada,
justru karena
ia tidak lagi memiliki
tempat untuk pulang.
Jadi biarlah namamu
menjadi doa yang tak kukirimkan.
Biarlah wajahmu
menjadi senja yang tak lagi kusentuh.
Biarlah rinduku
menjadi burung yang kulepas
tanpa pernah menanyakan
ke mana ia terbang.
Sebab mencintaimu
setelah kehilanganmu
adalah satu-satunya cara
yang tersisa bagiku
untuk menebus kesalahan.
Dan bila kelak
aku benar-benar sembuh,
aku tidak akan mengatakan
bahwa aku telah melupakanmu.
Tidak.
Aku hanya akan mengatakan:
aku telah belajar hidup
dengan sebuah nama
yang tidak lagi boleh kupanggil pulang.
Dan mungkin,
itulah bentuk elegi
yang paling menyakitkan—
ketika cinta masih menyala
sedalam dasar malam,
namun kedua tangan
yang pernah memeluknya
sudah tidak pantas
lagi mendekat.
Topan Arif
Malang, 4 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar